AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Senin, 28 Januari 2019

Orang-orang Yang Menyumpahi

Image from here

Saya pernah jadi orang sok tahu. Mungkin sampai sekarang masih sering. Seolah saya lupa bahwa orang sok tahu tentu identik sekali dengan satu hal; menyebalkan. Ya kadang saya sadar sih kalo menyebalkan, tapi sering kelepasan gitu, gimana dong. :(

Saat masih lajang dulu pernah ada kawan yang tanya; "Kok rambut kamu bisa lurus gitu sih nggak mental-mental kayak punya aku?" Mental itu maksudnya ngetril gitu. Duh apa ya indonesianya. Pokoknya kalo rambut sering diiket atau keseringan kena helm kan biasanya mencuat tuh. Kami bilang itu mental namanya.

Dengan sangat sok tahu saya jawab sama dia; "Iya aku gak pernah iket rambut soalnya. Mandipun gak aku iket jadi digerai terus. Makanya nggak mental deh."

Entah beneran atau cuma pura-pura, kawan saya ini percaya. Sialnya, beberapa hari setelah sok ngajarin gitu, rambut saya tahu-tahu mental. Yhaaaa. Nggak diapa-apain mental sendiri. Kok ya malu-maluin.

Saat masih kuliah, di kampung kami banyak anjingnya. Yang paling sering dijadikan tongkrongan para anjing adalah gerbang sekolah yang berada tepat sebelum rumah saya. Lagi-lagi, seorang teman bertanya kenapa saya bisa begitu berani melewati anjing-anjing ini saat pulang malam. Apalagi saya hampir selalu pulang malam karena ya kuliahnya memang sampe malam. "Apa nggak pernah dikejar? Kok aku sering dikejar ya." Gitu katanya.

Sok tahu lagi, saya bilang sama dia; "Kalo lewat di deket anjing-anjing itu, kakiku tak naikin ke depan jadi mereka nggak pernah ngejar. Cobain wes kamu besok. Pasti nggak akan ngejar."

Besoknya saya pulang malam lagi. Santai, saya melajukan motor masuk gang. Begitu hampir melewati sekolah yang di gerbangnya sudah standby anjing-anjing besar itu, saya langsung menaikkan kaki. Setelah hampir dekat, alangkah kagetnya saya ketika tahu-tahu ada anjing yang menyalak. Saya kaget. Lebih kaget lagi karena anjing ini ternyata mengejar saya masih sambil menyalak nyaring "Guk! Guk! Guk!". Astaga saya langsung tancap gas dalam kondisi kaki naik ke depan sambil jerit-jerit; "BAPAAAKKKKK!!! BAPAAAKKKKKK!!!!" Motor yang harusnya beebelok ke halaman rumah, malah bablas saya lajukan lurus sejauh-jauhnya sampai si anjing berhenti mengejar. Karena rumah saya deketan sama teman yang saya sok ajarin itu, besoknya dia ngeledek; "Kamu kenapa kok semalem jerit-jerit? Dikejar anjing ya?" Du adu. Muka mau taruh di mana ini muka?

Mungkin itu yang namanya karma. Atau sekadar kemakan omongan sendiri. Atau kualat. Atau apapun lah namanya yang intinya si orang yang sok tahu dan sesumbar akan mengalami berkebalikan dengan apa yang dia sombongkan.

Ngomong; "Cepetan nikah kamu tu udah tua loh. Aku aja seumur kamu udah punya anak dua."
Kenyataan; beberapa tahun kemudian dia cerai.

Ngomong; "Nggak enak ya punya bayi gede di perut gitu, susah ngelahirinnya. Mending gede di luar aja kali."
Kenyataan; bayinya dia lahir 4.5kg

Ngomong; "Aku tu mau beli tanah aja, gak suka kredit-kredit. Ini lagi nabung  biar nggak banyak hutang."
Kenyataan; sampe mati gak kebeli juga tanahnya.

Ngomong; "Kalo anaknya pingin gendut sehat tuh harus banyak-banyak dikasih protein hewani. Kasih buah. Kasih makanan bergizi. Ya kali anak-anak dikasih nasi sama kuah bening doang kapan gedenya?"
Kenyataan; anak sendiri gak mau makan meski udah dibeliin aneka macam makanan terus akhirnya jadi kurus.

Sounds familiar? Pernah dengar atau justru pernah mengalami sendiri? Iya. Kayak saya dong banyak pengalaman. Wq. :3

Sampai sekarang saya masih sering terbawa sok tahu. Kok ya nggak belajar gitu. Kok ya nggak waspada. Mungkin karena demikianlah ego manusia, begitu sadar dirinya punya kelebihan, langsung sesumbar seolah nggak ada yang bisa membolak-balik semua.

Sempat saya berpikir mungkinkah rasa tidak suka orang lain dapat berakibat buruk pada kita? Kan kalau kita suka ngomong sembarangan, suka sombong, suka sok tahu, orang-orang kan dengernya jadi kezel tuh. Mungkin bahkan mereka sampai nyumpahin jahat macam contohnya;

a. "Pamer banget sih mentang-mentang bisa beli rumah baru. Awas besok miskin dijual lagi."
b. "Dih cuma romantis gitu doang diomongin terus, diupload terus, kok ya kayak enggak bisa cerai."
c. "Punya anak sampe dibanggain segitunya, coba kalo besok nggak jadi masuk sekolah favorit jangan-jangan dia bakal nangis darah."

Nah sialnya, saat si orang a, b, c, beneran jadi miskin dan cerai dan anaknya cuma masuk sekolah biasa, kita akan dengan gampangnya  menyebut mereka kena karma gara-gara sombong berlebihan.

Padahal ya siapa sih yang nyebelin? Orang yang ngegosip dan ngejudge macam-macam atau kita yang kelewat sombong sampe orang lain jadi kesel sih?

Yha... Iya. Keduanya. Sama-sama nyebelin.

Namun karena kita bukan avatar yang bisa mengendalikan angin air api dan udara maka yang bisa kita lakukan ya cuma mengendalikan diri sendiri aja. Semacam mati-matian mensugesti diri untuk; "Sssst, jangan sombooong." Dan atau; "Sssstttt jangan gosiiiip..."

Yang adalah sungguh bukan perbuatan mudah untuk tidak melakukan keduanyaaaa. Wkwk. Tapi ya bisa belajar sih. Meski sangat susah payah. Ya tapi bisa dicoba dulu kali ya.

Iya.

Dicoba dulu ya biar sifatnya nggak jelek terus yaaaa.
Read More

Rabu, 16 Januari 2019

Harapan Kita Terhadap Anak-anak

Image from here

Kiranya apa gerangan yang diharapkan orangtua dari anak-anaknya? Mengharap kehadiran dan kasih sayang mereka di kala kita rapuh dan menua? Mengharap uluran tangan mereka setiap bulannya saat kelak punya penghasilan? Sekadar supaya rumah enggak sepi aja, supaya ada riuh canda tawa? Sekadar ingin punya buah hati; selalu disayang sepanjang masa?

Mungkin salah satu, atau salah tiga, atau semuanya. Yang jelas, kalau kita punya anak tu maunya ya semuanya dikasih buat dia. Maunya dia seneng terus, jangan sampai sedih. Maunya dia jadi orang sukses, makanya dikasih makanan bergizi dan disekolahin tinggi-tinggi. Begitulah selalu.

Tapi kalo mau dipikir lagi lebih mendalam; apa sih yang diharapkan orangtua dari anak-anaknya? Kok ya rela sebegitunya ngasih semua untuk dia, siang malam berdoa untuk dia?

Usil banget ya pake tanya-tanya. Iya. Soalnya kok saya sering mikirin ini juga.

Mungkin saya jadi baper sehabis nonton film india. Ceritanya, ada bapak beranak yang sama-sama sudah tua. Bapaknya 102 tahun sedangkan si anak 78 tahun. Si bapak ini energik dan ceria. Sementara si anak sebaliknya; hidup monoton, banyak marah, kaku, menyebalkan. Usut punya usut, ternyata si 78 tahun ini berubah jadi demikian sejak 20 tahun yang lalu anaknya kuliah ke luar negeri. Sejak awal kuliah sampai 20 tahun berlalu, anaknya nggak pernah pulang. Kabar dari dia cuma datang sesekali via telepon. Menikah pun dia nggak ngasih tahu bapaknya. Setiap diminta pulang bilangnya sibuk sibuk sibuk terus. Bahkan saat ibunya meninggal dia enggak pulang! Padahal seperti jutaan orangtua lain di dunia, ayah-ibunya telah menghabiskan semua yang mereka punya ya demi anaknya ini. Biar bisa sekolah jauh. Tapi anaknya kok bisa jadi kurang ajar gitu sih demi apa. :( Ironisnya, si bapak ya tetep kangen aja. Sama sekali nggak berpikir anaknya kurang ajar. Maunya dia cuma pingin ketemu aja sama anak cucunya.

Ya, itu kan cuma film. Tapi di dunia nyata masa nggak ada yang kayak begitu? Ada. Banyak. Banget. Pun kadang saya memandang diri sebagai si anak kurang ajar saking minimnya apa yang saya bisa berikan untuk orangtua. Tapi ya gimana huhu. :(

Jadi, orangtua kan nyekolahin anaknya biar pinter. Terus anaknya kerja. Terus nikah. Punya keluarga, punya anak juga yang harus sekolah. Otomatis si anak yang kini jadi orangtua itu punya tanggungan ngebiayain anaknya juga yakan? Bayangin nggak betapa kasihan nasib orangtua yang sekarang jadi kakek dan nenek? Udah lah duitnya dihabisin buat bayar sekolah anak-anaknya, setelah menua, nggak jarang mereka dipasrahin momong cucunya pula. Kok sedih banget sih akutu bayanginnya. :"( Kalo ortu yang duitnya banyak sih masih mending ya. Anaknya lepas, mereka justru bisa hidup bebas karena nggak ada tanggungan. Kalo yang hartanya udah habis duluan tu gimana...

Saat baru punya Nina, sempat saya heran sendiri mengapa banyak orangtua (terutama generasi jadul) yang berpikir bahwa tujuan mereka punya anak adalah supaya kelak saat tua ada yang ngerumat. Kok ya nggak ditabung aja gitu duit yang mereka punya sampai numpuk terus ntar pas udah tua untuk menggaji babysitter. Tentu cukup lah uangnya kalo cuma hidup berdua, kan nggak dipake buat biaya makan dan sekolah anak-anak (karena enggak punya). Tapi mereka pasti nggak setuju dengan ide ini lalu akan mengemukakan alasan lain semacam; ya beda lah kalo punya anak tu kita akan lebih bahagia...

Nah.

Berarti tujuan punya anak jelas bukan semata-mata biar ada yang ngerawat saat tua. Alasan ini cuma kamuflase. Atau ya cuma asal jawab aja karena memang masyarakat umum sudah duluan mengamininya. Padahal nyatanya, tidakkah sebetulnya alasan mereka punya anak ya sederhana aja; supaya bahagia? Mendengar suara tangisnya, menjawab pertanyaan ajaib yang entah kapan habisnya, menghirup wangi rambutnya, memeluk dan dipeluk balik sambil tertawa. Sederhana. Tapi bahagia. Kalo kata saya kok pasti itu deh yang dicari hampir semua ibu dan ayah sedunia. Gimana?

Lalu, karena bahagia, siklus berlanjut jadi sayang dan cinta. Karena sayang, maka jadi ingin buah hati kita bahagia juga. Lalu dibelikan baju bagus, dibelikan es krim, disekolahin, diajari naik sepeda, diajari ibadah dan tata krama. Teruuus begitu sampai dia tumbuh dewasa dan tiba saat di mana dia akan mencari hidup dan bahagianya sendiri.

Jadi... sebetulnya apa sih yang diharapkan orangtua dari anak-anaknya?
Read More

Senin, 14 Januari 2019

5 Alasan Mengapa Template Arlina Cocok Untuk Blogger Pemula


Yeay akhirnya punya domaiiiiin dot com. Ceritanya ini nggak banyak riset dan asal beli aja karena murah. Sama sekali nggak kepikir apakah tahun depan bakalan mampu memperpanjang apa enggak wkwk. Sebab motto saya kemarin itu memanglah sekadar; "mbuh wes ndak ngurus sing penting aku nduwe domain!"

Setelah berubah jadi dotcom terharu banget dong saya. Lalu lanjut cari template premium karena masih ada sedikit sisa uang. Pilihan saya jatuh pada Arlina Design dari www.idntheme.com karena beberapa alasan;

1. Banyak Pilihan
Ada banyak website Indonesia yang jual template, tapi kok sepanjang saya mencari-cari, hanya Arlina Design yang banyak pilihan. Mungkin ya ada sih. Berhubung saya masih awam dan mainnya nggak pernah jauh, ya tahunya cuma ini aja. Setelah lihat-lihat, pilihan saya jatuh pada Template Mizuna. Tahu nggak kenapa ambil yang ini? Karena ada featured postnya. Wqwq. Receh.

2. Pembayaran Mudah
Seperti kebanyakan website baik lokal maupun luar, pembayaran template di Arlina Design ini via paypal. Berhubung yang punya orang indonesia, saya messenger lah sang empunya untuk bertanya apa bisa dibayar via rekening bank lokal. Balesnya cepet. Ternyata bisa uhuhu. Memudahkan banget kusungguh gembira. Bahkan di salah satu komen template sempat ada yang tanya apakah bisa bayar via pulsa, dan katanya bisa.

3. Harga terjangkau
Berkisar 5 dolar, 7 dolar, 10 dolar, segituan harganya dan ini terjangkau sekali bahkan bagi saya yang super irit dan perhitungan. LOL.

4. Owner Penolong dan Baik Hati
Saya kan baru pertama kali ini beli template premium, pas dipasang, masih muncul kayak gini ternyata di bagian atas blognya.
Featured Postnya nggak muncul dan saya nggak bisa cara editnya. Laptop rewel banget pula, google chrome nggak bisa dipake login blogger. Hampir putus asa, saya email Arlina. Ternyata ditolongin. Saya bisa invite dia untuk jadi admin di blog saya maka dia yang akan bantu editkan templatenya. Entah apa semua pelanggannya sama rewel dengan saya atau dia sebaik ini cuma sama saya aja, tapi menurut saya kesabaran dia itu soswit. :3 :3 :3

5. Kualitas Terjamin
Berhubung ilmu saya tentang perbloggingan masih sangat cetek, maka saya percaya saja dengan rekomendasi website-website lain soal kualitas template Arlina yang telah terpercaya. Pun di deskripsi templatenya juga sudah ada detail fiturnya. Seperti di bawah ini, cuma sebagian aja yang saya capture karena lanjutannya bisa dicek sendiri aja ke websitenya.


Itu dia yang bisa saya bagi soal template Arlina. Sama sekali ini bukan sponsored post walaupun mungkin tersiratnya demikian. Ini cuma semata-mata latihan aja gitu kalau-kalau suatu saat harus beneran nulis sponsored post beneran wakakak.

Semoga berguna untuk pemula seperti saya. Atau kalau kamu sudah sering gonta-ganti template baik premium atau bukan, sharing yukk...!
Read More

Kamis, 06 Desember 2018

Yang Hilang Setelah Menikah

Image from here

"Gimana kalau aku nggak bisa nongkrong dan ngopi-ngopi lagi kalau menikah lalu punya anak nanti?"

Dulunya saya agak gimana gitu kalau ada teman yang apa-apa berat sama anak, apa-apa berat sama suami, apa-apa harus izin dulu maka kalo nggak diizinin nggak berangkat atau nggak jadi beli sesuatu, apa-apa harus cepetan karena kasihan anaknya nungguin di rumah. Semacam; yaelah rempong amat ciyh idup qamu tuuu~

Karena kala itu saya lumayan bebas merdeka, kecuali terhadap izin Bapak yang nggak ngebolehin anaknya pulang lewat jam malam tanpa alasan jelas dan akan marah-marah kalau aturan itu dilanggar. Selebihnya, saya cukup bahagia karena boleh ke Papuma bareng teman-teman. Boleh main ke garahan hanya untuk foto-foto alay. Boleh nginap di rumahnya Usop yang deket pantaey itu meski mohon izinnya harus diulang secara berkala dan lumayan berbelit. Boleh ngopi-ngopi, boleh diskusi, boleh karaoke, boleh ke Pusda, boleh ke warnet dan ikut paketan 4 jam (bahkan pernah juga 8 jam),  boleh nonton bioskop. Boleh melakukan hal menyenangkan lain tanpa perlu pulang tiap 3-4 jam sekali untuk menyusui.

Tadinya saya pernah takut, gimana kalau pernikahan malah bikin saya terkekang dan mati bosan? Namun di waktu yang sama sayapun sadar betapa receh ketakutan saya itu dibanding impian besar saya untuk jadi seorang istri dan ibu.

Iyaloh, menjadi istri dan ibu itu sudah saya impikan sejak lama. Saking kepinginnya, kadang kalau mau tidur saya memejamkan mata, sengaja membayangkan gimana rasanya jika di sebelah saya ada anak kecil yang bisa dipeluk dan dikecup pipinya sampai puas. Membayangkan gimana rasanya punya pasangan hidup; sayakah yang akan marah karena dia menaruh handuk basah sembarangan ataukah sebaliknya? Akan jadi istri rajin memasakkah saya atau beli bakso dan gorengan aja? Akan jadi istri dan ibu penyabarkah saya atau cerewet dan terus-menerus berasap seperti cerobong kereta?

Sekarang nggak usah dibayang-bayangin lagi udah ada semua. :')

Kalo lagi inget kok ya terharu. Coba kalo lagi lupa. Masih aja sempat membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang bebas merdeka. Lalu muncullah kalimat bernada mengasihani semacam; "Kasihan ya aku nggak bisa nongkrong dan ngopi-ngopi dan jalan kesana-kemari lagi..."

Iya. Sekarang memang udah nggak bisa lagi karena kondisi nggak memungkinkan. Mau jalan-jalan, kasihan Nina kena polusi, karena dia pernah kena broncopneumonia takut kambuh lagi amit-amit T===T. Mau ninggalin Nina untuk senang-senang sendiri, nggak tega karena dia masih nyusu. Pokoknya sekarang kutelah menjadi ibu rempong yang apa-apa anak apa-apa suami nanti begini nanti begitu. Yagitu deh. Terus kalo udah jadi pilihan sendiri masa masih mau ngeluh kok aku nggak kayak si anu kok nggak kayak si itu? Kan kayak minta diseplok aja gitu biar tahu diri. Yha.

Mungkin butuh me time? Mungkin iya. Supaya lebih pandai mensyukuri berkah yang telah demikian melimpah ruah. Berkah sehat, berkah diberikan pasangan hidup (semoga sehidup semati), berkah dianugerahi buah hati.

Subhanallah. Alhamdulillah. Syukuri. Syukuri...



P.S:
Setelah Nina gedean nanti semoga bisa ngopi-ngopi dan nongkrong-nongkrong dan jalan-jalan agak jauh ya, Genggggssss. Iya amiiiin.
Read More

Kamis, 22 November 2018

Drama Nursing Strike Saat Anak Hampir 2 Tahun


Note: Tidak ada tips mengatasi nursing strike di tulisan ini, hanya curhat panjang semata xD

Mungkin anak saya tipikal perasa alias terlalu peka alias sangat sensitif. Sejak baru lahir, terhitung ada 4x dia mengalami nursing strike. Nursing strike sendiri adalah kondisi di mana bayi tiba-tiba menolak menyusu. Mogok gitu. Bisa karena sariawan atau karena tidak cocok dengan hal baru (misal ibu ganti parfum) atau lain hal yang nggak jelas apa penyebabnya. Nah penyebab Nina nursing strike, hampir selalu karena alasan psikologis.

Kali pertama nursing strike adalah saat dia berusia 3 bulan. Nggak tahu awalnya gimana, mendadak dia melengos aja gitu setiap mau disusuin. Sudah dicoba berbagai macam posisi dari berbaring, sambil dipangku, sambil digendong, tetep nggak mau. Akhirnya dia saya paksa sampai berujung nangis kejer setiap kali saya hendak susui. Aduuu rasanya kepingin ikutan nangis juga. Karena itu kali pertama, saya parno banget kalau dia nggak mau nyusu selamanya gimana? Sebab keponakan saya pun menolak nyusu sama ibunya sejak usia 3 bulan karena bingung puting. Tapi kan Nina nggak diselingi minum pakai dot ya, masa iya dia bingung puting juga? T====T Alhasil harus nunggu dianya keriyep-keriyep dulu di gendongan baru bisa disusuin. Itupun intensitasnya jaraaang sekali. Kalau nggak salah ingat, sehari bisa cuma 4x nyusu padahal biasanya ribuan kali (iya lebay maap :3). Jadinya dalam sehari bisa berkali-kali nangis drama gitu dia, cuma karena dipaksa nyusu. Ya gimana kalo nggak dipaksa enggak mau. Anak umur segitu kalo nggak nyusu asupan nutrisinya dari mana lagi dong huhu. Untungnya beberapa hari kemudian pola menyusunya normal kembali. Nggak usah dipaksa dan drama-drama, dia mau menyusu kapanpun dan di manapun lagi. :3

Kali kedua dan ketiga ini saya lupa detailnya. Terjadi saat dia udah mulai mpasi dan udah bisa minum pakai gelas. Kalau nggak salah saat usianya 7 atau 8 atau 9 bulanan. Penyebabnya, yang satu karena saya jerit waktu dia menggigit saat menyusu, mungkin dia kaget, atau berpikir bahwa saya marah. Penyebab yang satu lagi, karena saya bawa dia pijet ke dukun bayi dan membiarkannya nangis kejer. Mungkin dia pikir saya tega, jadi dia kesel atau sedih atau merasa tidak disayang atau gimana. Reaksinya ya sama. Melengos gitu kalau disodorin nenen. Bedanya, di usia segitu dia udah nggak bisa lagi dipaksa sambil gendong. Lagi tidur pun tetep melengos kalau dikasih nenen. Berhubung dia sudah bisa minum pakai gelas, akhirnya diakalin saya kasih asip hasil marmet, dan dicoba minumnya pakai gelas. Eh ternyata mau loh diaaa biarpun sedikit. Kok ya tega kamu nggak mimik ibuk tapi mau kalo pake gelas, Nak? -____-

Nina ini kalau udah kadung nursing strike bisa sampai dua-tiga hari. Nggak yang nolak sama sekali gitu sih. Dia tetap mau nyusu tapi mungkin sehari hanya dua kali pas dia udah ngantuk banget. Malam hari, yang biasanya tengah malem kebangun pun dia nggak mau nyusu. Dia tentu akan kebangun, merengek, tapi ya nggak nyusu. Paling dia bisa tidur lagi kalau dipukpuk atau dikipasin atau digendong sebentar. Alhasil dalam semalem dia bisa bangun berkali-kali dan merengek terus. Lapar banget mungkin perutnya. T==T

Bulan demi bulan berlalu, saya mulai lupa gimana haru-birunya kalau anak mengalami nursing strike. Masuk usia 18 bulan, pikir saya, wah Nina udah hampir masuk usia disapih nih. Yeayyyy akhirnya aku bebas. Eh bukan ding. Maksudnya, karena saya tertarik ingin menerapkan metode WWL saat menyapih Nina, maka saya mulai mencari tahu; Saat seusia Nina begini, udah mulai bisa disounding belum ya? Udah bisa nggak usah tawarin menyusu kalau anaknya nggak minta belum ya? Udah bisa belajar nggak nyusu saat tidur malam belum ya?

Sebab beginilah metode WWL alias Weaning with Love alias Menyapih dengan Cinta itu kalau berdasarkan hasil saya browsing:

1. Tidak menipu anak. Misalnya, oles lipstik atau jamu pahit di payudara ibu agar anak jera lalu berhenti menyusu
2. Sounding
3. Tidak menawarkan, tapi juga tidak menolak
3. Tidak ada tenggat waktu, maka WWL ini dibilang berhasil saat anak sudah nggak minta nyusu lagi, atau jikapun minta, orangtua dapat mengalihkan perhatiannya tanpa membuatnya tantrum.

Karena nampaknya Nina sudah cukup besar maka saya mulai sounding Nina; "Nak, besok kalau Nina udah ulang tahun, udah nggak usah mimik lagi yaaa. Soalnya Nina udah besar. Mimik itu untuk adek bayi."

Hampir setiap ada kesempatan, dan kalau ingat, saya akan sounding begitu. Sampai Nina hapal juga bahwa;

"Nina nggak usah apa Nak kalo udah dua tahun?"
"Nggak ucah miiimiiik."
"Soalnya udah apa?"
"Udah ecaaann."

Meski setelah itu selalu akan dia sambung lagi dengan; "Mimik buk, mau mimik nina buuuukkkk."

Hingga tibalah saat dia beneran nggak mau mimik, di usia 19 bulan. Bukan karena soundingnya berhasil, tapi lagi-lagi nursing strike! Taunya nursing strike gimana? Feeling aja. Karena terakhir Nina mimik sempat terjadi drama menguras emosi antara kami berdua. :'( Pikir saya, mungkin Nina sedih gara-gara itu. Huhu. Ya Allah jadinya dilema. Ini kalo nursing strike di usia segini mau langsung lanjut disapih aja atau gimana? Kalau kondisinya karena dia sedih begini apa iya jadi weaning with love namanya? Apa nggak malah sebaliknya?

Kala itu banyak yang menyarankan, nggak apa-apa, disapih aja. Selama tiga hari, Nina tidur tanpa mimik. Hari pertama rewel banget, dan susaaah karena harus gendong tapi nggak tidur-tidur. Giliran ayahnya yang gendong, eh dia bisa keriyep-keriyep, taruh dikasur, usap-usap sambil dikipasin, tidur. Hari kedua, gendong lagi tapi cuma sebentar. Begitu ditaruh di kasur, dikipas sambil usap-usap sedikit, tidur. Hari ketiga bahkan nggak usah digendong sama sekali. Cuma dikipas dan diusap-usap aja sambil main di kasur bertiga, dan dia bisa tidur dengan mudahnya. Huhuuu saya terharu tapi sedih juga. Pagi harinya, saat menyuapi dia makan, saya coba ajak dia ngobrol.

"Nina kenapa nggak mau mimik sama ibuk lagi, Nak? Nina marah sama ibuk?"
"Endak," katanya. "Nina untah dadi ya. Uwwwekkk, jitu. Uwwwweeekkk."
Setiap kali dikasih mimik dia memang selalu pura-pura mau muntah. Saya sampai pernah mandi lagi karena mikir mungkin Nina memang nggak nyaman, ternyata ya tetep nggak mau, dan tetep uwwek juga. Ganti parfum sabun mandi dan detergen pun enggak kok. -_-
"Ibuk minta maaf ya kalo ibuk ada salah."
"..."
"Ya Nina, maafin ibuk ya?"
"Iyaaa."
"Nanti Nina mimik ibuk lagi ya?"
"Iiiiyyyaaaa."
"Sebentar kok cuma lima bulan lagi kok. Yaaaa? Nina sabar dulu. Mimik sama ibuk dulu ya, Nak?"
"Iya."

T--------T

Entahlah dia ngerti apa enggak. Tapi saya sudah putuskan untuk nggak akan menyapih Nina dulu. Selain karena umurnya kekecilan menurut saya, juga karena kondisinya. Sebab dia bukannya lagi self weaning, dia hanya sedang marah sama saya maka ia lampiaskan dengan nursing strike. Kalau lantas dilanjutkan dengan menyapih kok kayaknya jadi sedih aja gitu. Nggak rela. :'(

Sekarang dia sudah hampir 20 bulan. Setelah dia mau nyusu lagi, saya udah nggak pernah sounding-sounding dia untuk berhenti mimik lagi dong. Nggak tahu deh besok ini gimana menyapihnya. Entah gampang atau malah drama. Entah tepat waktu atau justru molor sekian lama. Beneran nggak tahu. Beneran belum mau mikir itu dulu karena masih trauma.

 -_____-

Yo wes lah. Rapopo. Pikir keri aja deh, Bosque~

Read More