Bagaimana Rasanya Tidak Punya Bapak? - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Kamis, 19 Januari 2012

Bagaimana Rasanya Tidak Punya Bapak?

Tidak, ini bukan doa. Ini hanya sebuah tanya. Pertanyaan lancang yang kadang menelusup padaku sewaktu-waktu. Pertanyaan yang membuat dadaku sesak, karena aku tidak pernah berharap akan mampu menemukan jawabannya.

Bapak...

Sudah belasan kali beliau pergi ke rumah sakit untuk kontrol. Saluran pernafasan yang (kalau tidak salah) bulan lalu dibersihkan melalui operasi kecil oleh Dokter THT, harus dibersihkan lagi dan lagi. Hampir setiap dua kali dalam seminggu. Tidak kunjung sembuh juga. Kenapakah kira-kira?

Bapak adalah tipe laki-laki optimis yang jarang sekali khawatir dengan suatu hal. Tetapi tentang sakit dan operasi kecil ini, kulihat beliau menanggung banyak ragu dan kekhawatiran.

Hari itu, (lagi-lagi aku lupa tanggalnya) adalah hari dimana operasi kecil Bapak dilaksanakan. Aku, Ibu, dan kedua adikku menemani ke rumah sakit. Menunggu di kursi depan poli THT sampai kemudian Bapak keluar dengan kapas di lubang kiri hidungnya. Untuk pertama kalinya kulihat raut Bapak begitu pucat. Katanya, sebuah besi menyogrok hidungnya sampai (sepertinya) menggerus tulang pipinya. Entah. Aku tidak tahu apa-apa soal kedokteran. Tapi kupinta Bapak untuk tak perlu menjelaskan. Kupinta beliau diam saja supaya kapas panjang yang konon menembus nyaris ke kerongkongannya itu tidak membuatnya mual. Aku tidak tega. Mata Bapak berkaca-kaca.

Aku iba. Ingin menangis tapi gengsi. Hahaha. Maka kubuat lelucon pada Ibuk bahwa ekspresi Bapak terlihat seperti bayi. Lucu sekali. Ibuku tertawa. Aku juga. Tapi setelahnya segera kubaca koran tinggi-tinggi di depan wajahku, supaya tak ada yang melihat ada beberapa tetes airmata yang tak kuasa kutahan jatuhnya.

Kupikir setelah itu selesai perkara. Tapi rupanya Bapak belum sembuh juga. Kemarin mereka (Bapak dan Ibu) pergi kontrol lagi. Saluran pernafasan bapak dibersihkan lagi. Bayangkan, mengulang-ulangi proses pembersihan itu kupikir seperti membuat luka yang sudah hampir kering kembali baru. Tapi bagaimana lagi. Meskipun sepertinya Bapak terkesan agak khawatir, toh tidak ada cara lain lagi. T____T

Ngomong-ngomong, dokter itu juga manusia. Kuharap tidak ada mal praktek untuk proses penyembuhan Bapak, Ya Tuhan...

Apalagi sekarang Bapak mulai skeptis, sepertinya. Tadi pagi beliau tidak meminum Amoxcillinnya. Katanya, itu obat penurun panas. Berhubung Bapak tidak panas, jadi tidak beliau minum.

“Iya kan ya, Nak? Amoxcillin itu obat penurun panas?”

Aku mengedik. Tidak tahu. -____-

Lalu Bapak bekerja lagi. Kucoba mencari di internet tentang Amoxcillin (untung modem sedang ada pulsa). Ternyata, Amoxcillin itu obat infeksi. Mana boleh Bapak tidak minum obat infeksinya. Fuaaaah. Bapaaaaakkkk kah! Untung saja ada internet kan?

Ayo Bapak, sembuhlah...

Kau belum pernah dengar betapa bersyukurnya aku punya ayah sepertimu kan? Hanya karena aku tidak pernah bilang, bukan berarti aku tidak sayang. Bahkan Putra, anakmu yang bebal dan hobi sekali membuatmu marah itu juga pasti amat sangat sayaaaaang sekali kepadamu.

Tetaplah sehat ya. Kau, dan Ibu, harus lihat ketiga anakmu jadi orang sukses kelak, orang sukses yang akan membuatmu bangga dan bahagia. Tidakkah kau pikir itu penting? Cepat sembuh ya... :)

2 Comments

rasanya tidak ada bapak adalah: kamu menjadi bapak

hahaha, terimakasih sudah komen dan membuat saya menangis karena membaca ini lagi. :D


EmoticonEmoticon