Kenichi - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Jumat, 22 Juni 2012

Kenichi



Aku melihat senyum itu di dalam mimpi. Setiap pagi. Setiap kubuka mata untuk kemudian kupejamkan kembali. Aku selalu membawa senyum itu ke dalam hati.
“Selamat pagi, Kenichi.” Kuketikkan pesan itu, lalu kukirimkan pada kontak bernama Kenichi.
Pesan tunda, tentu saja. Karena nomor atas nama Kenichi itu bukan benar-benar nomor ponselnya. Aku sudah merubah dua buah angka sehingga jika aku sedang rindu dan tidak bisa menahan diri untuk mengirimkan pesan yang aneh-aneh padanya, pesan itu tak perlu benar-benar sampai.
Aku tersenyum. Kupeluk bantal empuk motif sapiku erat-erat. Mimpiku semalam manis sekali. Sungguh. Kalau saja Mama mengizinkanku tak masuk sekolah hanya untuk tidur dan memimpikannya seharian, aku akan melakukannya dengan senang hati. Tidur. Lalu bermimpi berduaan dengannya jalan-jalan, tak mungkin pernah membuatku bosan.
*
“Hai, Ken!” teriak seseorang begitu melihatnya memasuki kelas dengan rambut berdiri yang masih basah.
Aku mengangkat wajahku sekilas. Lalu kembali menunduk, berpura-pura sibuk dengan buku matematika di halaman tujuh puluh lima. Jantungku seperti biasa, selalu berlompatan setiap ia datang, setiap tubuhnya yang tinggi menjulang itu mendudukkan diri di dekatku. Tepat di sebelah kanan.
“Pinjem tugasmu, Van,” ujarnya kepada Vania, yang duduk dua bangku lebih jauh di depan kami.
Aku masih menunduk. Entah kenapa ia tak pernah memintaku meminjaminya tugas. Bahkan pensil, bahkan penghapus. Ia lebih suka meminjam dari teman lain yang notabene letaknya lebih jauh daripada aku. Itu membuatku terganggu. Membuatku seperti tak pernah terlihat, tak pernah pantas, bahkan untuk sekedar dimintainya tolong.
Setidakpenting itukah sosok Alika ini baginya?
*
“Namaku Kenichi, bisa kalian panggil Ken saja,” sosoknya, yang sangat oriental dengan kulit kuning langsat dan poni acak, menarik nyaris seluruh perhatian murid perempuan di kelas kami. Pagi itu Bu Rerin memintanya memperkenalkan diri, karena ia datang sebagai murid baru.
“Kalau kupanggil Ichi?” ujar Vania, diikuti sorakan panjang teman-teman sekelasku (berikutnya akan menjadi kelasnya juga).
“Tidak, jangan Ichi. Itu ... terdengar seperti banci.”
Seisi kelas tertawa. Kecuali aku. Aku yang entah kenapa merasa tak punya keberanian bahkan untuk memandangi sekedarnya. Ketika untuk tiga atau lima detik aku menengadah, memandang lurus kepadanya, pada detik itu ia menatapku juga. Aku bukannya mengira-ngira, aku yakin sekali tatapan tajam itu ia tujukan kepadaku. Kepada gadis berkulit putih pucat yang wajahnya akan merona semerah tomat setiap kali merasa malu. Sebelum ia melihat perubahan mukaku, aku segera membuang muka.
“Ken sudah punya pacar belum?” pekik seseorang dari arah belakang. Dari suaranya yang melengking dan sok centil, kutebak itu Katherine.
“Sudah,” jawabnya datar.
Seisi kelas riuh dengan desah kecewa dari beberapa cewek, bercampur olok-olok dari para cowok. Aku tertegun. Ada yang berkecipak kecil di hatiku. Membuat sebuah perih yang terasa asing. Barangkali aku kecewa. Segera kusibukkan diri dengan membolak-balik buku paket matematika yang sejak tadi tergeletak di meja.
*
Aku melihat senyumnya di dalam mimpi. Setiap pagi, setiap kubuka mata untuk kemudian kupejamkan kembali. Selalu. Aku ingin membawa senyum itu ke dalam hati.
“Ken pernah tinggal di Bandung?”
Mimpi ini sudah terjadi lebih dari tiga kali. Latarnya di dalam kelas. Ketika suasana begitu sepi. Aku dan Kenichi mengobrol akrab sekali. Seolah hal remeh seperti meminjam pensil dan penghapus kerapkali terjadi setiap hari. Kenichi menatapku. Bahkan dalam mimpi pun aku bisa merasakan jantungku berdetak satu-satu.
“Pernah, sejak aku kecil sampai umurku sebelas tahun,” jawabnya.
Aku mengembuskan nafas lega. Lalu tersenyum kecil. “Ken nggak ingat Alika?”
Ia mengernyit.
Kemudian terjadilah peluk pertemuan yang begitu mengharukan. Kenichi mendekapku erat. Tanpa sadar aku menangis. Terisak di dadanya sambil berkata terbata-bata betapa rindunya aku padanya. Aku tahu ini hanya di dalam mimpi. Tapi nanti, ketika bangun aku akan menemukan mataku sembab dan hidungku basah. Aku menangis sungguhan. Juga merasa pedih dan rindu yang sangat sungguhan.
“Alika jadi pacar Ken saja ya,” ujar seorang bocah sipit kepada gadis kecil berambut tipis.
Latar mimpiku tiba-tiba berganti. Kali ini ke sebuah halaman yang penuh rerumputan, lengkap dengan sebuah ayunan. Itu halaman rumahku. Bocah sipit itu Kenichi, dan tentu saja gadis kecilnya adalah aku.
Anehnya, sejak kemunculannya sebagai murid baru di kelas kami, aku sering sekali memimpikan momen di hari yang begitu hijau itu. Kadang adegannya persis sama dengan yang pernah kami alami. Kadang lebih indah. Meskipun seringkali juga jadi jauh lebih sedih.
“Pacar?” gadis berambut tipis itu bertanya.
“Iya. Kalau kita pacaran kan bisa bareng-bareng terus. Nggak akan pernah pisah sampai nanti kita menikah. Alika mau, kan, jadi pacar Ken?”
Mata sendu si gadis kecil berkilat senang samar-samar. Segera ia mengangguk dan tersenyum kecil. “Sampai nanti kita menikah?”
“Tentu.”
“Janji?” Gadis kecil mengulurkan kelingking kanannya.
“Janji.”
Mereka berdua tersenyum.
*
“Selamat pagi, Kenichi.”
Kukirimkan pesan itu (lagi) kepada kontak Kenichi sembari melangkah memasuki gerbang sekolah. Lagi-lagi laporannya tunda. Aku menarik nafas panjang. Masih ada banyak pesan yang ingin kuketikkan, tetapi sebuah gesekan pelan membuatku terperangah. Bahunya dan bahuku, bersentuhan pelan ketika Kenichi berjalan mendahuluiku. Jika aku punya remote untuk menghentikan waktu dan seluruh gerakan, akan kutekan tombol untuk menghentikannya. Tetapi nyatanya yang terjadi adalah sebaliknya. Kenichi berjalan. Terus menjauh sementara aku hanya berdiri kaku. Sibuk mengendalikan desir-desir aneh yang bermain di dadaku.
*
Tujuh tahun yang lalu.
Hujan sudah reda ketika Mama mulai menyetir mobil pelan-pelan. Suasana sepi dan barisan panjang akasia membuatku tahu bahwa kami akan segera sampai di rumah. Kugenggam bungkusan kue donatku. Canggung.
Pagi tadi kubuat Mama marah besar hanya gara-gara aku bertanya seperti apa wajah Papa. Aku pernah dengar istilah anak haram. Ketika kusebut kata itu di depan Mama, dipukulnya punggungku satu kali. Aku meraung, berusaha memberontak sehingga Mama memukul punggungku lagi. Aku tidak ingat berapa kali. Tubuh kecilku menggigil, meringkuk di sudut kamar ketika isak tangis Mama membuatku merasa jauh lebih nyeri.
Aku tahu Mama sayang padaku. Tak lama setelah aku menangis, Mama memelukku sangat erat. Diciuminya rambutku sampai basah oleh airmata. Aku masih menggigil. Sampai kemudian Mama tersenyum dan mengusap lembut kepalaku sambil bertanya apakah aku mau pergi jalan-jalan dan mampir ke Dunkin Donuts.
Sekotak kue donat cokelat masih kugenggam erat ketika mobil kami berhenti di garasi. Begitu Mama mematikan mesinnya, aku membuka sendiri pintu mobil dan turun dengan tergesa.
“Astaga ....!” Mama berteriak ketika aku bahkan belum menaiki tangga untuk menuju kamar. “Kakimu kenapa, Nak? Ayo, ayo, pegang tangan Tante, kita masuk ke dalam, ya ....”
Aku membalik badanku dan mendekat pelan-pelan. Kulihat Mama kerepotan membopong seorang anak laki-laki yang kelihatan sangat lemah. Kakinya terkilir. Belakangan diketahui ia terjatuh dari sepeda ketika sedang melintasi jalan berlubang di depan rumah kami. Tidak ada yang menemukannya karena memang di blok ini, tak ada rumah lain yang berpenghuni.
Ia gemetar kedinginan. Hujan deras membuat seluruh tubuhnya basah kuyup. Bibirnya pucat. Mama menidurkannya pada sofa empuk, kemudian dengan panik mencarikannya baju ganti dan selimut hangat. Selanjutnya Mama ke dapur untuk membuat bubur dan segelas susu.
“Iya. Saya Rena. Benar, Pak. Kakinya terkilir jadi dia tidak bisa pulang. Blok P nomor 45. Itulah, jalan di sini memang sepi sekali, jadi ....”
Sejak tadi Mama bicara di telepon dengan banyak orang. Entahlah, aku tak terlalu peduli. Aku lebih tertarik memperhatikan anak laki-laki bermata sipit yang memakan sereal dan donat cokelatku dengan lahap. Aku bergeming. Memandanginya dengan tatapan datar, tidak tahu harus merasa senang atau kasihan. Bahkan ketika ia menatapku balik dan tersenyum ramah, aku masih saja diam.
“Kenichi,” ujarnya serta-merta dengan tangan terulur.
Dahiku berkerut. “Apa?”
“Aku Kenichi, namamu?” tatapan bersahabatnya membuatku menyambut uluran tangannya.
“Alika.”
Dia tersenyum. Aku bahkan tidak tahu bahwa Kenichi adalah sebuah nama.
Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki yang mata sipitnya mirip Kenichi datang dengan wajah panik. Dengan sangat haru mereka berpelukan. Itu ayahnya. Mama segera mendekapku sebelum aku melihat adegan itu berlama-lama.
“Tadi dia makan donatku sampai habis,” ucapku pada ayah Kenichi ketika mereka berdua pamit pulang.
Ayah Kenichi terbelalak, lalu tertawa bijak. “Maaf, sayang.. nanti Om bawakan donat ganti untuk Alika yang lebih banyak ya.”
“Bundaku pintar bikin kue brownies, pasti juga bisa membuat donat,” kata Kenichi dengan mata berkilat. “Tapi sekarang bunda sedang sakit, doakan cepat sembuh ya. Supaya nanti ia bisa membuatkanmu kue donat yang banyaaak!”
Ayahnya tertawa, lalu mengacak rambutnya.
Sejak itu, sepulang sekolah Kenichi sering sekali datang ke rumahku dengan sepeda. Kami bermain. Kadang ia memboncengku mengelilingi kompleks, pernah juga sampai ke jalan raya. Aku dan ia menjadi sangat dekat. Mama bilang kami seperti saudara. Ketika itu aku sama sekali tidak tahu tentang apa itu rasa sayang. Yang kutahu hanya, jika aku menangis, Kenichi selalu ada untuk sekedar mengulurkan donat cokelat atau tersenyum riang.
Tapi kami terlalu kecil untuk tahu bahwa kebahagiaan memang jarang sekali bertahan lama. Hanya beberapa bulan, barangkali setahun kurang sedikit. Aku dan Kenichi sama-sama sebelas tahun ketika kami berjanji akan jadi pacar sampai menikah. Tapi besoknya, tiba-tiba ia menghilang. Ia tidak lagi pernah datang. Aku mungkin belum faham arti sebuah kehilangan, tapi aku tahu bahwa memikirkannya membuat dadaku terasa sangat sesak. Terlebih ketika kudengar dari Mama bahwa Kenichi dan keluarganya pergi ke Jepang. Membawa Bunda Kenichi berobat, katanya. Mungkin sebentar, mungkin lama, namun bisa juga untuk selamanya.
Selama seminggu aku sering sekali menangis tersedu-sedu. Aku merindukannya sangat banyak. Sebanyak sesak yang akhir-akhir ini timbul setiap kali aku melihatnya. Tetapi Kenichi tidak pernah tahu. Ia bahkan tidak ingat bahwa kami pernah punya masa lalu. Bukankah bahkan ia tidak lagi mengenaliku?
*
Sore sedang hujan ketika aku duduk di Dunkin Donuts dan menatap ke luar. Melawan dingin yang entah berasal dari pendingin ruangan, atau justru dari rintik hujan yang keputihan. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Mama marah dan membentakku. Tadi pagi, tiba-tiba ia melakukannya lagi. Aku menggigil ketika tangan Mama bergerak membuang semua foto-foto Kenichi yang ditemukannya di laci rahasiaku. Tangisku pecah. Tapi aku tidak melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak bertanya kenapa Mama melakukannya. Sampai Mama menjelaskan padaku semuanya.
“Maaf terlambat,” sebuah suara membuatku tercekat.
Bahkan meski kami sudah janjian, aku tidak yakin ia akan benar-benar datang. Rambut dan bahunya agak basah. Aku menelan kunyahan donatku, belum berani memintanya duduk.
Ia duduk tanpa kuminta. Lalu memberiku tatapan asing yang setiap hari ia perlihatkan seperti biasa. Kutatap ia lama-lama. Dingin menyelimuti kami. Bukan hujan, bukan pula pendingin ruangan. Itu berasal dari kami. Dari hati masing-masing kami.
“Aku minta maaf,” ujarku. “Maksudku ... minta maaf atas nama Mama ....”
Kenichi membuang muka. Sejenak kukira akan tertawa. Nyatanya tidak. “Sudah terjadi, lupakan saja.”
Ya. Aku baru tahu bahwa kepergian Kenichi dan keluarganya enam tahun yang lalu adalah gara-gara Mama. Aku baru tahu bahwa semakin parahnya sakit yang diderita Bunda Kenichi, adalah karena mengetahui bahwa suaminya menjalin hubungan rahasia dengan Mama. Aku baru tahu, sungguh. Bahkan meski aku sering sekali bertanya pada Mama di mana papaku berada, aku tidak pernah benar-benar menuntutnya untuk memberiku papa sungguhan. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa.
Aku tertawa datar. “Ayah dan bundamu apa kabar?”
“Baik,” ia tersenyum. “Meski Bunda harus duduk di kursi roda, tapi ... setidaknya ia bisa bicara, bisa tertawa, pernah juga membuatkanku brownies dan—kue donat.” Kilat mata Kenichi kulihat lagi ketika ia kemudian tertawa.
“Baguslah.” Kuusap ujung airmataku cepat-cepat. Lalu aku mencoba tertawa. “Sudah lama sekali ya. Kukira kita ... kukira kita hanya akan terpisah sementara.”
Kenichi menunduk, pelan-pelan mengusap pelipisnya yang basah dengan jarinya. “Aku juga berpikiran sama,” untuk pertama kalinya ia menatapku benar-benar. “Tapi nyatanya tidak bisa. Ayahku tahu aku menyimpan foto masa kecil kita, dan ....”
“Ya ya, aku mengerti. Tidak apa.” Segera kupotong ucapannya. “Setidaknya sekarang aku bisa melihatmu lagi, ya.” Aku menatapnya. Lalu tersenyum. Lama. Sekuat tenaga kutahan tangis yang hendak pecah saat ini juga.
*
“Selamat pagi, Kenichi.”
Sebuah pesan kukirimkan kepada kontak bernama Kenichi. Pesanku terkirim, itu nomornya yang benar.
Kuseka airmata yang merembes ke pipiku. Sudah dua minggu ia tidak pernah terlihat lagi di sisi kanan tempat dudukku. Teman-teman bilang ia pindah. Semoga kali ini tidak ada hubungannya dengan Mama, atau dengan pernyataan cinta yang dua minggu lalu kuungkapkan kepadanya.[]

Jember, April 2012
Cerpen Ninuk Anggasari

1 Comments

mampir~
cerpennya masuk majalah kah?


EmoticonEmoticon