09/01/2018 - 10/01/2018 - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Sabtu, 29 September 2018

Pertolongan Pertama untuk Anak Demam



Ada satu hal yang wajib dilakukan orangtua ketika anaknya sedang demam, yakni; jangan panik.

Tapi susah, serius. Setidaknya berdasarkan pengalaman saya menghadapi anak demam, betapa pikiran jadi bercecabang kemana-kemana. Demam memang bukan penyakit, katanya. Demam adalah suatu reaksi untuk melawan infeksi bakteri atau virus atau apapun hal lain yang sedang menyerang tubuh. Tapi memikirkan soal reaksi perlawanan ini, mau tidak mau kita tentu jadi ketar-ketir; 'Penyebab apa gerangan yang sedang dilawan tubuh anak kita sekarang? Kecapekan? Tumbuh gigi? Kena virus? Kena bakteri? Gimana kalau parah?' 

Kadang kekhawatiran ini saya tambahkan pula dengan; 'Gimana kalau Nina harus ke rumah sakit lagi? Gimana kalau harus diinfus lagi?' Walaupun di sisi lain, justru ingatan soal infus ini pula yang membantu saya untuk lebih tenang. Selow, selooow, jangan panik dulu. Jangan buru-buru ke rumah sakit dulu karena di sana udara dan suasananya sama sekali enggak enak. Gitu. :3

Untuk membantu mengingatkan saya dan barangkali berguna pula untuk ibu yang lain, berikut saya tulis saja sedikit yang saya coba cari tahu soal seluk-beluk demam.

Beberapa benda yang harus tersedia di rumah untuk pertolongan pertama saat anak demam adalah;
- termometer
- paracetamol drop atau syrup
- washlap & air hangat

Demam adalah suatu kondisi saat suhu tubuh mencapai 38.5°C dalam waktu minimal 24 jam. Saat badan anak mulai menunjukkan gejala demam kita bisa mencoba mengusahakan suhu tubuhnya turun dengan cara berikut ini;
- sering berikan ia minum (asi/susu/air putih/kuah kaldu, dll)
- memakaikan baju tipis
- kompres hangat di lipatan tubuh seperti ketiak dan selangkangan
- anak demam boleh dimandikan asal dengan air hangat, kalau tidak dimandikan justru kasihan karena kuman akan jadi sangat mudah berkembangbiak
- gendong (karena badannya pasti tidak nyaman dan ia akan sering menangis) sambil lakukan skin to skin contact, suhu tubuh ibu yang stabil akan menyerap panas tubuh anak
- sering pantau suhu tubuhnya
- memberikan paracetamol sesuai dosis (berdasarkan berat badan dan usia).



Lalu kapan anak demam perlu pergi ke dokter?

Sebetulnya pergi ke dokter sesegera mungkin bukanlah hal yang salah. Tapi sepengalaman saya, antre dokter itu lamaaaa hiks, pun demikian udara rumah sakit (atau ruang tunggu tempat praktek) sungguh bukan tempat yang nyaman untuk anak kita. Salah-salah, justru anak bisa tertular virus atau penyakit lain dari tempat kita menunggu tersebut. Betapa kurang bijak jika ini terjadi padahal sebetulnya anak kita hanya demam biasa yang bisa sembuh dengan pertolongan di rumah?

Namun demikian saya percaya insting ibu akan bekerja dengan baik soal kapan perlu ke dokter atau tidak ini. Sebagai pedoman, ada beberapa kondisi yang perlu ditindaklanjuti dengan segera membawa anak ke dokter saat anak demam, yakni;

- saat ia dehidrasi dan tidak mau minum
- tidak bisa ditenangkan dan terus-menerus menangis bahkan jika digendong
- badannya lemas dan terlihat pucat
- kejang
- sesak napas
- muntah dan diare
- sakit kepala hebat
- atau jika suhu mencapai 38° untuk bayi di bawah 3 bulan, 38.5°C untuk bayi 3-6 bulan, dan 40°C untuk bayi >6 bulan

Saya pikir, tidak ada pedoman yang terlalu saklek untuk dipatuhi. Semua bergantung pada kondisi dan riwayat masing-masing. Maka, jika alarm di kepala anda mengatakan 'harus ke dokter sekarang', maka pergilah ke dokter.

Semoga anak kita sehat selalu.



Read More

Rabu, 26 September 2018

Kesombongan yang Berbahaya


Sombong itu menyenangkan, saya mengakuinya. Sadar atau tidak, menurut saya, ketika kita merasa lebih baik dari orang lain dan jadi jumawa, apalagi sampai perasaan melesat terbang seperti balon yang dilepas karetnya nguing nguing nguiiing, begitu, itu sombong namanya. Sekali lagi ini menurut saya aja tapinya yaa bukan berdasar definisi kamus besar bahasa indonesia.

Ironisnya, kadang manusia enggak sadar bahwa dirinya sombong. Atau sadar, tapi setelah semua banyak terlewatkan.

Sayalah contohnya, yang jadi demikian angkuh dan sombong sejak punya Nina, dan merasa berhasil membesarkannya (padahal belum juga semeter pun tingginya merasa berhasil darimane sih sissst).

Seperti kita semua tahu sekarang kan zaman parenting ala buibu millenial, yha. Saya, sejak hamil, membaca lumayan banyak literatur soal bayi dan asi dan teori seperti apa sih parenting yang ideal. Di facebook, saya ikut banyak grup yang, nggak tanggung-tanggung, berkiblatnya pada WHO dan IDAI. Grup MPASI ada, grup menyusui ada, grup menggendong seindonesia ada, grup pro-vaksin ada, grup sadar obat ada, bahkan grup khusus untuk membantu para mama yang lagi depresi pasca melahirkan supaya mereka tetap survive pun adaaaa loh. Sungguh kuberterimakasih pada para founder dan admin yang merelakan waktu berharga mereka untuk mengedukasi para mama yang entah kenapa setiap hari kok kayak nggak habis-habis bahan diskusinya.

Dalam grup ini, entah dari file rangkuman atau dari postingan sehari-hari, betapa sering saya membaca anjuran;

1) Jangan kasih bayi dot saat memberi asip supaya bayi tidak bingung puting.

2) Kebutuhan gula-garam pada bayi under 1y itu saaaangat sedikit. Karena bahkan takarannya tidak bisa diperkirakan, maka hindari gula-garam sebelum bayi 1 tahun

3) Selalu perhatikan TICKS saat sedang menggendong bayi. Pakai gendongan ergonomis dan jangan pernah pakai gendongan KW!

4) Demam bukan penyakit. Itu adalah pertanda bahwa tubuh sedang melakukan pertahanan dari virus atau bakteri yang masuk. Jangan panik. Selalu sedia termometer dan paracetamol di rumah.

5) Antibiotik hanya untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri, dengan dosis sesuai petunjuk dokter. Selain penyakit yang disebabkan bakteri, tidak perlu minum antibiotik.

6) Depresi pasca melahirkan bukan disebabkan oleh kurang iman. Plis jangan kasih saran untuk bertaubat dlsb dlsb supaya pengidap PPD tidak lantas semakin stress. PPD itu nyata dan mereka butuh bantuan!

... dan masih banyak lagi. Sungguh berguna, dan bermanfaat, dan berfaedah, bukan?

Seperti sebilah pisau yang akan bermanfaat jika dipakai untuk mengupas nanas, alih-alih untuk menggores pergelangan tangan, ilmu pun semestinya demikian. Betapa saya merasa kala itu sangat menyebalkan karena berkali-kali posting di facebook dan instagram dengan penuh kejumawaan.

Seorang teman bahkan pernah sekilas mengatakan; "beruntung ya kita punya anak yang sehat. Bayangkan gimana perasaan mereka yang sudah lama nunggu-nunggu untuk diberi momongan tapi belum dikasih."

Saya tahu tujuan dia ini ya cuma untuk mengingatkan. Mungkin karena saat itu saya terlalu sering update foto dan videonya Nina ke status whatsapp. Mungkin caption saya menyebalkan. Mungkin saya terlalu merasa di atas awan. Mungkin saja begitu...

Tapi daripada semua kemungkinan di atas itu, ada satu hal yang sangat pasti. Yakni alangkah jumawanya hati kecil saya. Kreteg, kalau kata orang madura.

Orang bilang, pada setiap kelahiran bayi, ada seorang ibu pula yang turut dilahirkan. Dan saya tumbuh sebagai ibu judgmental yang sok tahu. Karena merasa memahami teori, saya jadi yakin  bahwa jika seorang anak dibeginikan, hasilnya pasti dia begini. Sok memahami sebab akibat dengan saklek dan tanpa kompromi.

Soal MPASI, misalnya.

"Anaknya bu anu makannya diblender, pantes jadi susah naik teksturnya. Jadinya umur setaun masih makan bubur deh. Nina ga boleh blender pokoknya harus bubur saring biar bisa cepet makan nasi!"

"Kenapa sebaiknya jangan ngasih bubur instan? Supaya anak kenal rasa alami sayur dan lauk juga buah-buahan. Jadi ketika dewasa nanti dia enggak picky eater. Pokoknya Nina enggak boleh makan bubur instan dan harus makan homemade macam-macam!"

Hasilnya?

Sampai sekarang Nina nggak doyan makan. Ya mau nasi, sih. Tapi cuma sesuap-sesuap aja. Bisa dihitung jari berapa kali makanan yang saya ambil bisa berhasil dia habiskan dalam sekali makan. Padahal porsinya sedikit. Apa kabar kalo ikut takaran yang sesuai panduan WHO? Seperempatnya pun nggak habis kayaknya.

Apa Nina bebas makanan instan? Apa Nina makan 4 bintang terus? Enggak ternyata. Apalagi pas GTM. Ya Allah anak mau mangap makan nasi doang aja rasa pingin sujud syukur. -___-

Untuk teori lain, saya bersyukur semua berjalan baik untuk Nina. Mungkin karena inilah saya jadi jumawa. Karena beratnya naik minimal sekilo sekilo terus di tiga bulan pertama. Karena dia tengkurap dan duduk dan merangkak dan berjalan dan bicara di usia yang lumayan cepat. Karena dia tidak pernah sakit! Sungguh ini yang paling bikin takabur. Sampai usia 15 bulan, obat yang Nina pernah minum hanya paracetamol saat dia demam karena vaksin aja. Pernah muntah-muntah juga sih karena salah makan, dan demam sehari karena kecapekan. Tapi sakit yang beneran sakit (bahkan pilek sekalipun) dia enggak pernah. Cuma batuk aja ding pernah, pas dia bayi, itupun sedikit dan sebentar. Masya Allah betapa jumawa saya dibuatnya.

Hingga segalanya berubah saat negara api menyerang.

Di usia 15 bulan, Nina kena bronchopneumonia.

Aduh retak hati mamak, Dek. Kesombongan saya runtuh, porak poranda. Maktratap rasanya dengar penjelasan dokter bahwa di paru-paru Nina, di cabang-cabangnya, ada bercak infiltrate. Penyebabnya bisa tertular dari lingkungan atau polusi kendaraan atau asap rokok.

Oh gitu ya?

Selama ini saya enteng saja bawa Nina kesana-kemari naik motor. Bahkan di rumah, betapa hampir setiap hari terpapar udara yang tercemar asap rokok. Saya sama sekali nggak aware dan menganggap anak ini demikian kebal hanya karena nggak pernah sakit. Sekalinya sakit, langsung opname dan bertubi-tubi diinjeksi jarum suntik.

Sejak itu saya bertekad untuk nggak bersikap (bahkan punya kreteg) sombong lagi. Saya berusaha nggak sering posting video-nya Nina. Saya nggak lagi terobsesi menjadikan Nina begini begitu harus bisa ini harus bisa itu.

Apakah berhasil? Apakah jika saya tidak sombong maka saya sudah jadi ibu yang baik, ibu yang ideal? Nggak lantas gitu juga, ternyata.

Sebab ibu yang baik (apalagi ideal) itu berat sekali definisinya. Sungguh saya hanya akan jadi tidak waras jika menginginkan segalanya harus sempurna. Tapi semua ibu tahu yang terbaik? Begitu kah? Lalu kalau sudab tahu apa yang terbaik, dilaksanakan kah? Susah lho diterapkan, meski kedengarannya gampang, soal memberikan yang terbaik ini. Saya masih suka ngeles saat Nina minta dibacakan bukunya, karena capek dan malas. Saya hampir selalu main hape sambil menyusui Nina ya karena memang pingin main-main aja. Bahkan saya pernah membentak Nina saking kesal dan capeknya. Huhu. Meski saya tahu seberapapun saya merasa bersalah dan mendekapnya erat-erat, bentakan saya sudah terlanjur menyakitinya. Ada banyak lagi hal tidak baik yang saya lakukan padahal saya tahu baiknya gimana. Saya tidak selalu memberikan yang terbaik, dan itu harus saya terima.

T=====T

*pukpukmyself*

Belajar lagi. Bersabar lagi. Belajar lagi. Ya.

Sebab seperti doa yang selalu kau panjatkan saat Nina masih di perut, Self. Engkau memohon semoga kahadirannya bisa menjadi pencerah. Engkau ingin ia menuntun dan mengajarkan padamu apa-apa yang baik dan tidak baiknya dunia.

Duh berrraaattnya. Makan dulu lah. Qulapar.

Read More

Sabtu, 22 September 2018

Teman [Percikan GADIS]

Ada label fiksi di blog ini, dan hanya berisi tiga buah cerpen. Saya tidak yakin apakah bisa menulis cerpen baru untuk diposting lagi. Lalu saya teringat beberapa naskah cerita mini yang pernah dimuat sebagai Percikan di Majalah GADIS. Sudah lamaaaaaa sekali. Filenya bahkan sudah hilang karena netbook saya rusak dan saya lupa password email yahoo sampai level tidak bisa dipulihkan. Huhu.

Beruntung di website GADIS masih ada. Tidak butuh waktu lama untuk sekadar mengcopy dan memindahkannya ke laptop. Hanya ada empat naskah, Insya Allah secara berkala akan saya posting ke blog ini.

Rajin ya? Demi blog ini ada isinya. Yha.

============

Teman

image from here

Oma bilang, supaya tidak salah pergaulan aku tak boleh sembarangan memilih teman. Mungkin inilah sebabnya kenapa setelah masa SMA-ku berjalan tiga bulan, aku belum juga punya banyak teman. Satu-satunya teman kesayanganku hanya Bulan. Satu-satunya teman cowok pujaanku hanya Awan. Dan satu-satunya teman cewek kebencianku hanya Berlian.

*

“Hai, Sha, kamu dapat salam dari Awan,” pekik Berlian begitu aku hampir sampai di bangkuku.

Aku menyeringai.

Berlian sudah menyampaikan salam itu setiap pagi selama hampir seminggu ini. Meski aku sudah mulai terbiasa, tetap saja ada desir tak terkontrol yang akan dengan mudah mengubah warna pipiku menjadi merah muda.

Aku sudah pernah bilang bahwa aku benci Berlian belum, ya?

Sebenarnya, kalau dia bisa jadi teman pendiam yang tidak macam-macam, seperti Bulan, mungkin aku tak akan menjauhinya. Tapi Berlian sok kecantikan, dan sikap cerianya berlebihan. Yang paling parah, dia senang sekali membongkar rahasia teman.

Sejak lama, aku percaya bahwa teman yang suka membuka rahasia orang lain di depanmu, akan juga membuka rahasiamu di depan orang lain nantinya.

Sialnya, Berlian yang maha supel itu malah mengumbar rahasia bahwa aku naksir Awan, si ketua umum ekskul Pramuka. Setiap hari dia akan menjadikannya bahan lelucon dengan hampir semua teman.

Aku memang tidak serta merta marah padanya. Tapi sejak saat itu aku menjauhinya pelan-pelan.

***

"Bulan, Raishaaa, aku punya pertanyaan penting!”

Aku mendengus, memilih pura-pura sibuk mencatat sambil sesekali bersenda gurau dengan Bulan. Aku tidak tahu berapa level kepekaan Berlian. Setiap hari, dia selalu saja sibuk mendekat padaku dan Bulan, seolah tak peduli betapa kami sudah sangat tak mengacuhkannya.

“Semalam Bulan sama Awan dinner di McD, ya? Kok Raisha nggak ikut? Kok Bulan sama Awan mesra banget? Kok kayak pacaran, gitu?” cerocosnya.

Dahiku berkerut.

“Maksudnya?”

“Apanya yang maksudnya? Apa jangan-jangan sebenarnya kalian pergi bertiga, gitu? Waaah, kemajuan banget Raisha bisa pergi sama Awan.” Ulas senyum sok imut Berlian membuat mataku sakit.

“Lian pasti salah lihat, semalam kami nggak ke mana-mana, kok,” sanggahku, berusaha terdengar selembut mungkin.

Sepanjang sejarah, aku belum pernah keluar dengan Awan. Bahkan bertiga dengan Bulan pun tidak. Berkat Berlian, hampir seluruh kelas memahami benar bahwa pola hubunganku dengan Awan hanya berlangsung satu arah.

Aku suka Awan, tapi tidak sebaliknya.

Jadi mana mungkin kami akan pergi ke McD bersama-sama? Kalau bukan salah lihat, Berlian pasti mengada-ada.

“Berarti Bulan sama Awan pergi berdua?” kali ini Berlian bertanya pada Bulan. Matanya membulat.

“Ak…aku... cuma jalan-jalan biasa kok,” Bulan menjawab. Terbata.

“Sama Awan?” pekikku tiba-tiba.

Ketika Bulan mengangguk ragu, aku merasakan himpitan aneh pada ulu hatiku. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan Bulan dan Awan saling dekat. Yang paling membuat nyeri adalah: sejak kapan jalan-jalan dengan Awan menjadi hal biasa untuk seorang Bulan?

“Ih, tapi Awan kan cowok yang ditaksir Raisha! Masa Bulan jalan-jalan berdua gitu. Apa maksudnya, coba?” sergah Berlian.

Entah kenapa aku merasa ingin sekali berterimakasih atas kalimat yang dilontarkannya.

“Nggak gitu,” Bulan gugup. “A…aku cuma diajak Awan, katanya... Awan... aku... Awan bilang dia suka sama aku, makanya dia... cuma jalan-jalan, kok. Kami nggak jadian. Sungguh, Sha. Aku nggak bermaksud....” Struktur kalimat Bulan sungguh berantakan.

Oh.

Aku tertawa hambar.

Kepalaku pusing tiba-tiba.

*
Aku masih ingat petuah oma bahwa aku tak boleh sembarangan memilih teman. Tapi, teman seperti apa yang harusnya tidak boleh dipilih? Yang sangat terbuka tapi suka menyebarkan aib seperti Berlian? Atau yang pendiam dan sangat manis, seperti Bulan? ***

Ninuk Anggasari
Read More

Jumat, 21 September 2018

Tidak Ada Habisnya

image from here

Mungkin kita bisa memulai blog ini kembali dengan cerita soal saya. Setelah sekian lama. Kemana aja? Ngapain? Udah punya mobil belum? Udah bisa njemur pakaian sambil dilempar-lempar belum? Udah bisa sulapan mengecilkan tubuh terus naik ke mobil mainan lalu pergi tamasya berkeliling-keliling kota belum?

Sebab saya di masa lalu ialah seorang pemimpi yang bahkan jalan-jalan ke pantai di malam hari aja pernah dimasukin wishlist. Sungguh banyak maunya dari yang remeh sampai yang beneran berguna. Apa sekarang sudah enggak? Ternyata masih. Meski kini keinginannya lebih logis dan masuk akal, tapi ya tetap saja ada banyak. Pun tetap susah dicapainya. Barangkali karena memang demikianlah rancang bangun nafsu manusia? Tidak ada batasnya.

Jadi, sekarang saya seorang istri, juga seorang ibu. Saya menikah dengan seorang teman kerja, lalu hamil, lalu melahirkan seorang bayi perempuan yang kami panggil Nina. Awalnya kami serumah dengan orangtua saya, saat Nina berumur 9 bulan, kami mengontrak sebuah rumah. Kini kami tinggal bertiga.

Kalau orang bilang, saat berumah tangga memang sebaiknya kita tinggal pisah rumah supaya lebih bebas, barangkali itu benar. Kami benar-benar bebas sampai kadang malu sendiri mengapa lampu depan baru mati setelah jam 9 pagi. Atau mengapa sekalinya mencuci, jemuran ada banyak sekali padahal kami bukan jasa laundry. Juga mengapa saya tidak pernah belanja ke warung belakang dan samping kontrakan, dan justru memilih belanja ke tempat yang agak jauh hanya karena warung yang jauh ini buka di malam hari. Iya, kalau ke warung samping atau belakang pasti sudah kehabisan karena belanjanya selalu kesiangan. Sebebas itulah kami sampai kesannya tidak bisa mengontrol diri sendiri. Pffft.

Gak apalah asal bahagia? Iya. Tapi saya merasa tidak sehat, dan tidak ideal.

Sebetulnya, sejak Nina lahir, sungguh saya sempat ada di fase tidak ingin apa-apa lagi karena segalanya sudah sangat cukup. Suami pengertian, anak yang sehat, ASI yang lancar, masya allah rasanya saya tidak ingin apa-apa lagi. Syukur saya membuncah-buncah.

Namun akhir-akhir ini saya mulai ingin hal-hal yang lain. Saya merindukan keteraturan dan begitu ingin mencapainya. Saya rindu kegiatan yang terjadwal dan kepontang-pantingan saya menepati semuanya. Mungkin menjadi ibu adalah zona paling nyaman sedunia untuk saya? Mungkin karena Nina sudah agak besar, sudah hampir 18 bulan dan tidak terlalu bergantung pada ibunya, maka sekarang saya bosan. Saya ingin rutinitas lain yang menyehatkan mental dan menggairahkan pikiran.

Kalau kata Nina; "Jitu ya?"
Iya, Nak. Mungkin begitu...

Saya sudah bikin wishlist dan target-target baru. Coba nanti kita lihat apa saja yang berhasil dicentang karena sudah berhasil dicapai, atau apa juga yang terpaksa ditunda ke nanti dan nanti dan nanti hingga akhirnya diabaikan saja.

He. Hehe.
Read More

Minggu, 16 September 2018

Mengapa Ada yang Mau Repot-Repot


Saya adalah pengguna google garis keras. Setiap hari pasti buka google. Mulai dari cari informasi remeh soal cara cepat membersihkan duri bandeng, atau aneka resep pete, sampai hal serius soal seluk-beluk bronchopneumonia dan lain sebagainya. Suatu hari saya pernah heran, kok ada ya orang yang mau repot-repot nulis beginian. Kok sempat ya, kok mau ya, kok rela ya? Namun lepas dari apapun motivasinya, betapa saya mensyukuri keniatan mereka menulis segala artikel bermanfaat itu. Hingga kadang sayapun iri. Sempat ingin juga, menulis tips, membagikan sedikit pengalaman supaya jika ada orang lain di luar sana yang kebingungan soal hal sederhana, tulisan saya bisa membantu mereka.

Tapi saya pemalas dan penakut dan peragu dan penganut ahyaudalahkapankapanajajugabisa-isme. Maka saya urung menuliskan apa-apa.

Kadang saya pun ingin menulis blog sekadar untuk menumpahkan yang bersesakan dalam kepala. Supaya kembali tersisa banyak ruang hingga saya bisa merasa ringan menjalani hari sebagaimana biasa, dengan lebih bahagia. Tapi lagi-lagi saya pemalas dan penakut dan peragu dan penganut ahjangandehnantimalumaluingimanadong-isme. Maka saya urung menuliskan apa saja.

Di dunia nyata, saya tipe orang yang pemalu. Saya tidak terlalu yakin untuk menyebut diri ini introvert karena nyatanya memang jika ketemu orang baru saya ingin sekali berbaur tapi takut dan malu. Inilah salah satu alasan mengapa saya takut ngeblog. Kalau orang ketemu saya yang asli setelah pernah membaca blog, mereka akan tahu saya berbeda. Kalau di blog kok cerewet? Kok nggak sumbut sih? Ah ternyata gini aja nih gak asiq. Yha.

Tapi saya begitu rindu menulis di blog ini maka saya mencoba. Tidak ada jaminan akan serutin apa nanti blognya diisi. Pun akan sebermanfaat apa konten-kontennya. Nggak ada jaminan apapun tapi kan nggak apa-apa, ya?

Yang penting niatnya. Iya. Eh, gimana?

Bismillahirrohmanirrohim....
Read More