Kesombongan yang Berbahaya - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Rabu, 26 September 2018

Kesombongan yang Berbahaya


Sombong itu menyenangkan, saya mengakuinya. Sadar atau tidak, menurut saya, ketika kita merasa lebih baik dari orang lain dan jadi jumawa, apalagi sampai perasaan melesat terbang seperti balon yang dilepas karetnya nguing nguing nguiiing, begitu, itu sombong namanya. Sekali lagi ini menurut saya aja tapinya yaa bukan berdasar definisi kamus besar bahasa indonesia.

Ironisnya, kadang manusia enggak sadar bahwa dirinya sombong. Atau sadar, tapi setelah semua banyak terlewatkan.

Sayalah contohnya, yang jadi demikian angkuh dan sombong sejak punya Nina, dan merasa berhasil membesarkannya (padahal belum juga semeter pun tingginya merasa berhasil darimane sih sissst).

Seperti kita semua tahu sekarang kan zaman parenting ala buibu millenial, yha. Saya, sejak hamil, membaca lumayan banyak literatur soal bayi dan asi dan teori seperti apa sih parenting yang ideal. Di facebook, saya ikut banyak grup yang, nggak tanggung-tanggung, berkiblatnya pada WHO dan IDAI. Grup MPASI ada, grup menyusui ada, grup menggendong seindonesia ada, grup pro-vaksin ada, grup sadar obat ada, bahkan grup khusus untuk membantu para mama yang lagi depresi pasca melahirkan supaya mereka tetap survive pun adaaaa loh. Sungguh kuberterimakasih pada para founder dan admin yang merelakan waktu berharga mereka untuk mengedukasi para mama yang entah kenapa setiap hari kok kayak nggak habis-habis bahan diskusinya.

Dalam grup ini, entah dari file rangkuman atau dari postingan sehari-hari, betapa sering saya membaca anjuran;

1) Jangan kasih bayi dot saat memberi asip supaya bayi tidak bingung puting.

2) Kebutuhan gula-garam pada bayi under 1y itu saaaangat sedikit. Karena bahkan takarannya tidak bisa diperkirakan, maka hindari gula-garam sebelum bayi 1 tahun

3) Selalu perhatikan TICKS saat sedang menggendong bayi. Pakai gendongan ergonomis dan jangan pernah pakai gendongan KW!

4) Demam bukan penyakit. Itu adalah pertanda bahwa tubuh sedang melakukan pertahanan dari virus atau bakteri yang masuk. Jangan panik. Selalu sedia termometer dan paracetamol di rumah.

5) Antibiotik hanya untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri, dengan dosis sesuai petunjuk dokter. Selain penyakit yang disebabkan bakteri, tidak perlu minum antibiotik.

6) Depresi pasca melahirkan bukan disebabkan oleh kurang iman. Plis jangan kasih saran untuk bertaubat dlsb dlsb supaya pengidap PPD tidak lantas semakin stress. PPD itu nyata dan mereka butuh bantuan!

... dan masih banyak lagi. Sungguh berguna, dan bermanfaat, dan berfaedah, bukan?

Seperti sebilah pisau yang akan bermanfaat jika dipakai untuk mengupas nanas, alih-alih untuk menggores pergelangan tangan, ilmu pun semestinya demikian. Betapa saya merasa kala itu sangat menyebalkan karena berkali-kali posting di facebook dan instagram dengan penuh kejumawaan.

Seorang teman bahkan pernah sekilas mengatakan; "beruntung ya kita punya anak yang sehat. Bayangkan gimana perasaan mereka yang sudah lama nunggu-nunggu untuk diberi momongan tapi belum dikasih."

Saya tahu tujuan dia ini ya cuma untuk mengingatkan. Mungkin karena saat itu saya terlalu sering update foto dan videonya Nina ke status whatsapp. Mungkin caption saya menyebalkan. Mungkin saya terlalu merasa di atas awan. Mungkin saja begitu...

Tapi daripada semua kemungkinan di atas itu, ada satu hal yang sangat pasti. Yakni alangkah jumawanya hati kecil saya. Kreteg, kalau kata orang madura.

Orang bilang, pada setiap kelahiran bayi, ada seorang ibu pula yang turut dilahirkan. Dan saya tumbuh sebagai ibu judgmental yang sok tahu. Karena merasa memahami teori, saya jadi yakin  bahwa jika seorang anak dibeginikan, hasilnya pasti dia begini. Sok memahami sebab akibat dengan saklek dan tanpa kompromi.

Soal MPASI, misalnya.

"Anaknya bu anu makannya diblender, pantes jadi susah naik teksturnya. Jadinya umur setaun masih makan bubur deh. Nina ga boleh blender pokoknya harus bubur saring biar bisa cepet makan nasi!"

"Kenapa sebaiknya jangan ngasih bubur instan? Supaya anak kenal rasa alami sayur dan lauk juga buah-buahan. Jadi ketika dewasa nanti dia enggak picky eater. Pokoknya Nina enggak boleh makan bubur instan dan harus makan homemade macam-macam!"

Hasilnya?

Sampai sekarang Nina nggak doyan makan. Ya mau nasi, sih. Tapi cuma sesuap-sesuap aja. Bisa dihitung jari berapa kali makanan yang saya ambil bisa berhasil dia habiskan dalam sekali makan. Padahal porsinya sedikit. Apa kabar kalo ikut takaran yang sesuai panduan WHO? Seperempatnya pun nggak habis kayaknya.

Apa Nina bebas makanan instan? Apa Nina makan 4 bintang terus? Enggak ternyata. Apalagi pas GTM. Ya Allah anak mau mangap makan nasi doang aja rasa pingin sujud syukur. -___-

Untuk teori lain, saya bersyukur semua berjalan baik untuk Nina. Mungkin karena inilah saya jadi jumawa. Karena beratnya naik minimal sekilo sekilo terus di tiga bulan pertama. Karena dia tengkurap dan duduk dan merangkak dan berjalan dan bicara di usia yang lumayan cepat. Karena dia tidak pernah sakit! Sungguh ini yang paling bikin takabur. Sampai usia 15 bulan, obat yang Nina pernah minum hanya paracetamol saat dia demam karena vaksin aja. Pernah muntah-muntah juga sih karena salah makan, dan demam sehari karena kecapekan. Tapi sakit yang beneran sakit (bahkan pilek sekalipun) dia enggak pernah. Cuma batuk aja ding pernah, pas dia bayi, itupun sedikit dan sebentar. Masya Allah betapa jumawa saya dibuatnya.

Hingga segalanya berubah saat negara api menyerang.

Di usia 15 bulan, Nina kena bronchopneumonia.

Aduh retak hati mamak, Dek. Kesombongan saya runtuh, porak poranda. Maktratap rasanya dengar penjelasan dokter bahwa di paru-paru Nina, di cabang-cabangnya, ada bercak infiltrate. Penyebabnya bisa tertular dari lingkungan atau polusi kendaraan atau asap rokok.

Oh gitu ya?

Selama ini saya enteng saja bawa Nina kesana-kemari naik motor. Bahkan di rumah, betapa hampir setiap hari terpapar udara yang tercemar asap rokok. Saya sama sekali nggak aware dan menganggap anak ini demikian kebal hanya karena nggak pernah sakit. Sekalinya sakit, langsung opname dan bertubi-tubi diinjeksi jarum suntik.

Sejak itu saya bertekad untuk nggak bersikap (bahkan punya kreteg) sombong lagi. Saya berusaha nggak sering posting video-nya Nina. Saya nggak lagi terobsesi menjadikan Nina begini begitu harus bisa ini harus bisa itu.

Apakah berhasil? Apakah jika saya tidak sombong maka saya sudah jadi ibu yang baik, ibu yang ideal? Nggak lantas gitu juga, ternyata.

Sebab ibu yang baik (apalagi ideal) itu berat sekali definisinya. Sungguh saya hanya akan jadi tidak waras jika menginginkan segalanya harus sempurna. Tapi semua ibu tahu yang terbaik? Begitu kah? Lalu kalau sudab tahu apa yang terbaik, dilaksanakan kah? Susah lho diterapkan, meski kedengarannya gampang, soal memberikan yang terbaik ini. Saya masih suka ngeles saat Nina minta dibacakan bukunya, karena capek dan malas. Saya hampir selalu main hape sambil menyusui Nina ya karena memang pingin main-main aja. Bahkan saya pernah membentak Nina saking kesal dan capeknya. Huhu. Meski saya tahu seberapapun saya merasa bersalah dan mendekapnya erat-erat, bentakan saya sudah terlanjur menyakitinya. Ada banyak lagi hal tidak baik yang saya lakukan padahal saya tahu baiknya gimana. Saya tidak selalu memberikan yang terbaik, dan itu harus saya terima.

T=====T

*pukpukmyself*

Belajar lagi. Bersabar lagi. Belajar lagi. Ya.

Sebab seperti doa yang selalu kau panjatkan saat Nina masih di perut, Self. Engkau memohon semoga kahadirannya bisa menjadi pencerah. Engkau ingin ia menuntun dan mengajarkan padamu apa-apa yang baik dan tidak baiknya dunia.

Duh berrraaattnya. Makan dulu lah. Qulapar.


EmoticonEmoticon