10/01/2018 - 11/01/2018 - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Minggu, 28 Oktober 2018

Mengelola Keinginan

Image from here

Andai di kontrakan kami ada doraemon kayaknya ashique ya. Semua semua semua dapat dikabulkan dengan kantong ajaib. Tapi di sini hanya ada seorang anak, seorang suami, juga seorang istri yang dikit-dikit mau ini dikit-dikit mau yang itu.

Memang benar, yang mestinya didahulukan untuk dimiliki ya "kebutuhan" saja dulu. Bukannya keinginan. Tapi semua orang punya keinginan nggak peduli dia ada di level ekonomi manapun. Ciyus akutuuu.

Misal saya sendiri aja deh.

Saat masih sekolah, saya kepingin sekali punya hape. Sampai kalo lagi tiduran di kasur suka kebayang-bayang sendiri andai dalam genggaman ada benda kotak yang bisa dipencet-pencet, untuk dengerin musik, untuk kirim sms, untuk telponan sama orang lain. Apakah saya butuh? Ya jelas enggak. Cuma kepingin aja. Kepingin sama kayak teman yang lain.

Sekarang, setelah berumah tangga dan punya satu orang anak, keinginannya ya lain lagi. Kadang kompleks dan penting, kadang sebaliknya. Yang saya baru sadari adalah, bahwa keinginan yang tidak kunjung tercapai rupanya bisa demikian menyiksa. Bikin kepikiran. Bikin sesak dada kayak orang kangen saat sedang jatuh cinta. Pokoknya mau cepetan punya aja. Padahal sebetulnya meski nggak punya ya nggak apa-apa juga. Toh nggak butuh ini, cuma kepingin.

Iya. Kepingin aja...

Btw ini saya lagi ngomongin keinginan yang punya harga dan bisa dibeli ya, yang bersifat materiil. Kayak misalnya; kepingin kursus memasak (tapi nggak ada uang), kepingin punya toko kue, kepingin punya gazebo biar bisa santai-santai di halaman, kepingin punya satu set buku halo balita, kepingin naik kapal pesiar, kepingin liburan ke raja ampat, dan lain sebagainya yang nggak bisa dilaksanakan karena kendalanya "belum ada cukup uang". Untuk keingianan tipe ini, mungkin kita bisa mengelolanya dengan lebih mudah.

Nggg. Agak nggak masuk akal gitu memang, masa iya keingianan bisa dikelola. Lalu kalaupun bisa, memangnya perlu? Untuk orang yang kalau udah kadung kepingin bisa terus-terusan inget dan kebayang-bayang kayak saya, nampaknya ini sangat perlu.

Ceritanya, saya kan lagi kepingin sesuatu. Beberapa bulan lalu tiba-tiba ada yang bilang bahwa dia mau ngasih benda itu. Kami hanya perlu menunggu beberapa hari lalu benda itu akan datang. Masya Allah sampai nggak berhenti ngomongin sama suami. "Kalau nanti barangnya datang kita bisa begina-beginu-begini ya sayang yaaaa?" Nggak ada bosannya. Hingga kemudian hari yang ditunggu tiba, ternyata nggak ada apa-apa. Kata orang yang bersangkutan, dia nggak jadi ngasih karena suatu alasan. Duhkanaaak. Gerimis hati mamak.

Setelah itu, keinginan saya jadi membesar, dan membesar, dan membesar, sampai memenuhi rongga dada bahkan mungkin ke seisi kepala. Saya nggak bisa berhenti membayangkan gimana ya rasanya punya ini. Kenapa ya aku nggak punya. Sampai yang ngeneeees banget gitu rasanya.

Hingga kemudian saya putuskan untuk stop. Ini harus dikendalikan. Dan berikut ini cara-cara yang saya coba lakukan untuk mengelola keinginan yang simpang-siur dalam kepala;

1. Klasifikasikan
Kadang kita tercampur, antara kebutuhan dan keinginan. Ada yang sampai perlu dikaji berulang-ulang kali untuk menentukan; yang ini butuh atau ingin ya? Bahkan ada juga yang saking kuatnya perasaan kepingin, kita jadi maksa berpikir bahwa; "ini kebutuhan loh sebenernya!" padahal bukan. Saya mencoba menuliskan daftar keinginan saya di catatan hape. Untuk kemudian saya tekuri, yang mana sih yang meski aku tak punya pun tak apa-apa masih ada baju yang lama? Saat hati kecil saya menemukan ada benda semacam itu dalam catatan, saya langsung menghapusnya. Hapus-hapus-hapus. Hingga tersisa yang benar-benar saya inginkan, atau yaaa, alasannya, yang saya butuhkan.

2. Prioritaskan
Saya urutkan daftar ini dengan nomor. Nomor paling atas adalah yang paling kepingin sampai bikin nyaris gila(naudzubillah, jauh-jauh!), lalu selanjutnya dan selanjutnya. Paling akhir adalah yang tidak terlalu mendesak.

3. Upayakan Satu Demi Satu
Ini misalnya aja. Saya terlalu malu membeberkan daftar keinginan saya di sini maka saya pakai contoh lain saja. Misal saya ingin punya gazebo, harganya 5 juta. Lalu saya mengira-ngira, berapa lama jangka waktu yang masuk akal untuk saya mengumpulkan uang sebanyak itu? Misal saya sepakat dengan diri sendiri ingin punya gazebo dalam waktu 6 bulan, artinya, setiap bulan saya harus menyisihkan 800 ribu rupiah. Apakah uangnya ada? Jika ada, saya akan sisihkan sebagian dari gaji. Kalau memungkinkan, pengeluaran lain bisa dirampingkan dulu anggarannya. Jika ternyata tidak memungkinkan, maka saya akan cari uang dengan cara lain. Ini belum sampai saya coba sih. Tapi jika anda ingin menerapkan cara ini dan nilai barang yang anda inginkan demikian besar, mungkin bisa dicoba cara "membanting tulang sementara". Iya sementara ajaaa biar nggak lelah pikir. :3 Pokoknya kan dalam sebulan harus terkumpul 800ribu untuk disisihkan. Kita akan cari tambahan ini dengan berbagai macam cara (asalkan halal, red). Bisa dengan jualan donat, jual risoles, jadi reseller kuping gajah (#yha), pokoknya semua aja dijabanin sampai dapat pemasukan bersih yang sesuai dengan target.

4. Tidak Harus Berhasil
Karena yang kita perjuangkan hanya perkara keinginan, harusnya jika tidak berhasil pun tidak masalah. Jika kita menyerah lalu memutuskan; "nggak kepingin gazebo lagi deh, nggak kepingin mesin cuci lagi deh, lagian nggak penting." Sepertinya nggak apa-apa. Bukankah yang selama ini berusaha kita kalahkan memang perasaan kita sendiri? Jika ia lalu menjadi tahu diri, bukankah justru bagus? Atau siapa tahu, saat kita berhasil mengumpulkan uang sejumlah yang kita mau, eh ternyata kita udah nggak kepingin benda yang ada di list. Justru bagus yekan. Uangnya bisa disimpan untuk tabungan aja, atau dipakai untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat.


Begitulah.

Insya Allah cara ini sangat berguna, setidaknya untuk saya. Untuk membuat diri kita sendiri sadar mana yang sebetulnya penting, mana yang tidak. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa terlalu ngotot sama keinginan kadang sampai bikin kita lupa dengan apa-apa yang memang butuh.

Sungguh, meski tetangga kita punya rumah granit berkilauan sementara punya kita cuma lantai biasa, nggak apa-apa kok. Masih banyak yang bahkan rumah aja nggak punya dan harus ngontrak, kayak kami bertiga. Kalau memang uangnya nggak ada, nggak usah beli lipstik ratusan ribu pun nggak apa-apa kok bisa pakai yang murah aja.

Atau kalau masih kepingin banget dan jadi nggak bisa hidup tenang, ya coba ikuti tips saya di atas saja. Siapa tauuu berguna. :)

Read More

Kamis, 25 Oktober 2018

Tentang Pemberian

Image from here
Katanya, jika ingin memberi sesuatu sama orang lain, berikanlah barang yang kamu sukai. Tapi sebenernya ini saya denger darimana ya kok digugel nggak ketemu. Entah ini cuma opini atau bahkan ada hadistnya, tapi saya hampir selalu berpegang pada pedoman ini setiap kali ingin memberi orang lain sesuatu.

Sayangnya, kadang hal inilah yang menghambat saya untuk saling berbagi sama orang lain saat saya punya barang nggak terpakai, atau bahkan makanan sisa. Suka dipikir dulu sampe lamaaaa gitu; "ini kan cuma sayur rebung sisa arisan, kalo dikasih sama tetangga, mereka tersinggung nggak ya?" Akhirnya nggak jadi dikasih. Dipanasin aja terus sendiri sampai akhirnya kebuang karena nggak habis dimakan. Atau misalnya lagi; "Ini kan cuma baju bekas, kalau dikasih sama mbah itu nanti dia tersinggung nggak ya? Masa dikasih baju jelek bukannya yang bagus-bagus." Akhirnya nggak jadi ngasih. Berniat nunggu punya baju yang lebih layak untuk disumbangin tapi yang masih layak ya dipake aja terus sampe buluk.

Saya jadi ingat cerita ibu saya. Beberapa lebaran yang lalu, kami pernah bikin pentol bakso. Untuk keluarga kami, pentol ini makanan mewah lho, dan mahal. Tapi sesuatu yang buruk terjadi. Ibu belum punya kulkas saat itu, jadi pentol itu harusnya dipanasin lagi pas malam hari. Tapi malam itu ibu lupa. Besoknya, pentol yang masih satu dandang penuh itu jadi lengket dan basi. Mau maksa diolah pun percuma karena rasanya udah kecut. Huhu. Akhirnya direndamlah dandang berisi pentol itu di tempat cuci piring. Niatnya ya mau dibuang gitu saking aja belum sempat. Terus tahu nggak, ada seseorang yang kebetulan lihat, terus dia minta supaya pentol-pentol itu untuk dia saja. Mau dia makan bareng keluarganya. Padahal udahlah pentolnya basi, kerendam lama dan pasti kecampur air sabun dan cucian juga yakan. Tapi dibungkus sama dia, dan dibawa pulang. T=======T

Di waktu yang lain, pernah saya dan suami beli ikan di Pasar Tanjung. Saya pilih ikan kuniran karena harganya paling murah. Lalu ada seorang perempuan tua yang mengingatkan saya kepada almarhumah mbah. Beliau begitu sederhana. Rambutnya digelung, pakaiannya kebaya dan kain panjang. Sambil pegang dompet kecil yang biasanya kita dapatkan free kalau beli emas, beliau berdiri di depan penjual ikan. Berdiri aja gitu nggak bilang mau beli apa. Sepintas, saya terpikir untuk membelikan beliau ikan kuniran juga. Tapi saya takut. Kalau ternyata si mbah mau beli nila atau gurame gimana? Apa ditanya aja ya? Tapi kalau ternyata mau beli ikan mahal gimana dong nggak cukup dong uang akutu. Tapi kalau tersinggung karena dibelikan kuniran gimana? Sumpah saya memang selalu mempertimbangkan "nanti kalau dia tersinggung" ini kalau mau ngasih apapun, ya ampun. Iya saya tau saya sungguh terlalu rempong sama diri sendiri. Karena pada akhirnya, saat pesanan saya selesai, saya bayar plus dapat kembalian, saya sudah balik kanan dan melangkah menjauh, terdengarlah oleh saya bahwa si mbah ini ternyata mau beli ikan kuniran. Belinya lebih sedikit dari yang ingin saya belikan untuk beliau pun! Masya Allah. Sumpah di perjalanan pulang saya sampai kepikiran. Kalau saya belikan, kan uangnya si mbah bisa disimpan. Mungkin beliau punya cucu dan kepingin sekali lihat cucunya makan ikan. Andai saya nggak sebegitunya sok tahu menghitung-hitung apa yang nantinya akan dipikirkan orang. T=====T

Jadi, sebetulnya setiap orang punya nilai-nilai sendiri dalam menghargai sesuatu.

Seseorang ada yang enteng saja mentraktir orang lain makan dengan bill ratusan ribu. Untuknya itu bukan nilai yang besar, untuk saya itu sangat besar. Ada yang sehari-hari makan dengan tempe dan merasa makanannya terlalu membosankan sampai dia muak. Tapi ada lho yang cuma makan dengan garam. Kalau yang makan tempe dikasih makanan restoran, atau kalau yang makan garam dikasih tempe, tidakkah mereka akan senang? Teorinya begitu.

Tapi kan kita mana tahu kan orang sebelah atau sebelahnya lagi atau sebelahnya lagi tu makannya tempe atau sate atau ayam atau cuma sambel bajak aja sehari-harinya yakan? Kita mana tahu kalau dikasih kemeja atau jeans bekas dia bakal suka apa enggak yakaaan? Pembenarannya begitu.

Jujur aja, bahkan sampai sekarang, ini masih jadi sebab terbesar kenapa saya jarang punya nyali untuk memberi orang lain sesuatu. Karena sesederhana takut tersinggung itu. Takut orang jadi merasa rendah atau dikasihani. Takut orang merasa harga dirinya jatuh karena kita memberi barang yang tidak sebanding dengan level dia seharusnya. Apalagi kalau barangnya memang yang kita tidak kita butuhkan.

Apa cuma saya yang mikir ribet begini? Yha. Eh tapi Ibu saya kayaknya juga sama deh (atau jangan-jangan ini turunan? :3).

Kalau ada tamu orang Qaya gitu, ibu nggak pernah siapin makan. Katanya, "Takut nggak mau kalau makan di sini. Nanti risih. Nanti nggak dimakan."

Padahal kalau situasinya dibalik, misal saya jadi orang yang dikasih, atau disiapin makanan, atau dibelikan kuniran, atau dikasih rebung kuah santan yang lezat (meskipun sisa arisan), atau dikasih pakain bekas, masa iya nggak seneng sih? Kenapa nggak bisa secepat itu membalik pola pikir dari yang parnoan "takut orang tersinggung" menjadi "nggak apa-apa deh dicoba siapa tahu dia senang" sih?

Butuh latihan.

Butuh penerimaan, dan keberanian.

Dan tulisan lain juga nampaknya. Kayaknya ini nggak ada kesimpulannya. -_-
Read More

Senin, 22 Oktober 2018

Bukan Cerita Soal Musuh Dalam Selimut Cuma Kok Ya Nggak Kepikir Mau Ngasih Judul Apa


Bohong kalau saya bilang nggak punya musuh. Minimal pasti ada lah orang yang enggak suka terus diem-diem membatin jelek atau mungkin juga menjadikan saya bahan rasan-rasan. Karena saya pun demikian. Uhuokkk. Hobinya rasan-rasan orang. -_____-

Saya nggak akan bilang ini manusiawi dan semua manusia memang pasti akan jelek-jelekin manusia lainnya. Karena ya tentu ada yang enggak begitu. Yang kalau nggak suka sama orang ya menjauh. Kalaupun ada hal yang membuat dia nggak nyaman, dia akan sampaikan dengan cara yang tidak memancing bergejolaknya gosip dan aib-aib yang lain. Sungguh mulia hati manusia tipe ini, duhai.

Tapi dunia ini dihuni banyak macam karakter manusia. Ada yang kamu akan langsung cocok, ada yang benci dulu lalu cocok, atau cocok tapi lalu jadi nggak cocok, ada yang sampai Spongebob lulus ujian mengemudi pun tetep aja nggak cocok-cocok. Inilah cikal-bakal timbulnya gosip lalu berantem lalu musuhan antar pertemanan; karena ketidakcocokan.

Saya pernah, kesal sekali sama seseorang karena mengejek hasil layout yang sudah susah payah dibikin sama teman. Duh buat saya, orang yang ngomongnya enteng nggak pake mikir gini sungguh bikin mangkel dan pingin ninju banget (saking aja nggak berani wqwq). Tapi berhubung selalu bareng (karena dipaksa keadaan) selama berbulan-bulan, kok ternyata kami malah dekat dan dia jadi nggak nyebelin sama sekali. Entah dianya yang emang sudah berubah, ataukah sudut pandang saya aja?

Ada juga seseorang lagi yang sama dia saya sama sekali nggak merasa klik. Cara dia bercanda, cara dia menilai, cara dia bersikap, kayaknya nggak bisa nyatu banget kalo sama saya. Bertahun-tahun kemudian kami ngobrol via chat eh kok ternyata nyambung juga kitorang ya. Mungkin kalo dulunya bareng terus ya lama-lama cocok juga. Cuma kan kami nggak jodoh untuk berteman aja gitu.

Entahlah. Mungkin sebetulnya gampang ya untuk cocok sama teman? Nggg, kecuali tipe teman yang toxic sih. Yang setiap ulahnya bikin hati kita teriris atau bahkan kitanya sampe nangis-nangis. Huhu udahin aja kalo temannya kayak gitu sih. Demi menjaga kesehatan mental dan fisik mending jauhin, atau putuskan circlenya sekalian.

Beda lagi kalau kadar ketidakcocokannya masih di alasan sepele. Mungkin, mungkin lho yaaa dicoba dulu aja, sebetulnya kita dan dia bisa cocok. Karena teman kan nggak perlu nemenin kita bobo atau selalu bareng pas makan malam atau bantuin kita momong anak. Menurut saya, sekadar cocok saja sudah cukup kok untuk jadi teman. Piscine (Life of Pi) sama harimau buas aja bisa berteman gara-gara terbiasa berduaan di satu perahu...

Masalahnya, kadang ada aja orang yang dalam hatinya nggak suka, eh di luar hati(?) pura-pura semua baik-baik aja. Kalo lagi ada orangnya, bercanda. Orangnya pulang, digosipin semua aibnya. Atau kalau dia update status lagi belanja misalnya, kitanya langsung otomatis memutar bola mata terus membatin; "ini orang pamer banget sih nggak ada kerjaan lain apa!"

Gini ini kitanya yang nggak bisa mengontrol prasangka atau emang iseng-iseng buat ngisi waktu aja? #yha

Parah ya. Lumayan ya.

By the way saya sedang belajar jadi orang fair sekarang. Yang kalau nggak suka, menjauh aja. Yang nggak rasan-rasan jelek di belakang. Yang menerima bahwa nggak cuma kita aja yang banyak kurangnya, tapi orang lain juga. Yakali menuntut diri diterima apa adanya sementara orang lain dituntut sempurna?

Agak susah sih, jadi orang fair ini. Apalagi buat saya yang nggak terbiasa mengomunikasikan ketidaksukaan. Apalagi menggosipkan orang lain mungkin sudah jadi kebiasaan yang mendarah daging, yang kalau nggak dilakukan kok ya mulut jadi kaku-kaku gitu berasa ada yang kurang. Apalagi saya orang yang lumayan seenaknya kalau berprasangka. Ya ampun. Mungkin bakal susah banget. Tapi aneka cara meningkatkan trafik blog aja saya bersedia pelajari kok (meski sampe sekarang belum bisa-bisa), apalagi persoalan penting soal menjadi manusia?

Waaaa. Beratnya.

Niat banget sih beginian aja dibikinin blogpost sampe panjang. Hehe. Jaga-jaga aja. Sekarang punya niat baik, siapa tau besok lupa. :3

Kalau ketemu saya terus saya nggosipin orang, tolong diingatkan yaaa.
Read More

Kamis, 18 Oktober 2018

Bangkunya di Belakang [Percikan GADIS]

Percikan terakhir. Yang ini dikembangkan dari tulisan Cokelat ini sebenarnya. Makanya mirip. Kadang kerjaan manusia memang cuma begitu aja; mengorek-ngorek apa yang ada untuk dijadikan uang supaya bisa belanja. #apaanwoy

Nggak sih bercanda. Tulisan itu saya kembangkan karena memang kepikiran ide lain. Dan ini jadi cukup romantis. Jujur aja sayatu jenis manusia yang lebih suka cerita cinta-cintaan ketimbang sejarah atau politik atau persahabatan atau lainnya. Mungkin ini sebabnya kenapa kalo lagi rajin dan ingin maraton baca cerpen koran minggu, kok saya jadi pening dan kayak tanpa sadar jemari ini mencet close tab terus tau-tau kebuka sendiri laman webtoon gitu. Sungguh misterius bukan? #yakali


===================
Bangkunya di Belakang
===================


Image from here
Bangkunya di belakang. Aku selalu tidak tahan untuk tidak menolehkan kepala dan melihatnya. Kalau kebetulan ia mengangkat wajahnya lalu tatap mata kami bertubrukan, jantungku berlompatan. Rasanya sungguh tidak karuan.

“Surat? Itu menggelikan, apa tidak ada cara lain?”

Almira memberi saran supaya aku menaruh diam-diam surat cinta ke dalam ranselnya.

“Di komik kan begitu. Cewek-cewek suka kirim surat cinta sama cowok yang disuka.”

“Kamu mah komik terus.” Aku menarik nafas dalam-dalam.

Ia anti sosial. Ia tidak senang bergaul. Ia tidak pakai smartphone. Bahkan ia hanya pakai ponsel sederhana yang hanya bisa terima sms dan telepon. Aku punya nomornya. Aku sering mengiriminya sms tanpa menyertakan nama tapi ia tidak membalasnya.

Apa aku harus mengikuti saran Almira? Mengiriminya surat cinta?

***

Bangkunya di belakang. Lagi-lagi aku menoleh tanpa sadar. Aku paling suka saat memergoki ia yang sedang tidur. Biasanya, ia meletakkan kepalanya di meja. Aku memang hanya bisa melihat ujung kepalanya, tapi aku tahu kedua matanya terpejam. Aku ingin sekali bertanya kenapa ia sering tertidur. Apakah ia insomnia? Apakah setiap malam ia terjaga? Melakukan apa? Nongkrong? Main bilyard? Bekerja?

Aku benar-benar ingin menuju bangkunya lalu duduk di depannya. Sekadar merecokinya dengan kalimat sok perhatian seperti, “Hei, mukamu pucat. Apa kamu sakit?” Padahal aku tahu benar setiap hari ia selalu berwajah pucat, seperti orang sakit.
Oh. Apakah ia memang sakit?

***

Pada hari ketika aku benar-benar membawa surat cinta untuk diletakkan di lacinya, ia tidak ada. Ia tidak masuk sekolah tanpa pemberitahuan. Alpa.

“Mungkin sakit, Frin?” Aku pura-pura iseng mendekati bangku Afrin, sekretaris kelas, untuk mengintip absensi.

Afrin hanya mengedik. “Tidak ada suratnya kok.”

“Bagaimana kalau dia sakit?” Aku mengomel pada Almira.

“Baru sehari, kan? Kamu khawatir banget, deh.”

“Tapi dia pucat. Bagaimana kalau sakitnya parah? Kalau ternyata dia punya leukimia stadium akhir dan hidupnya tinggal sebentar?”

“Astaga, Karin. Jangan berlebihan.”

Tapi aku tidak bisa tidak berlebihan ketika esoknya ia benar-benar tidak masuk sekolah. Dua hari setelahnya juga tidak. Ada yang mengganjal di perutku. Ada yang nyeri setiap kali aku menolehkan kepalaku ke belakang dan menemukan bangkunya kosong.

Malam hari, sebelum tidur, aku menyempatkan diri mengiriminya sms:

Kamu sakit?

Dan tidak dibalas.

***

Pada hari ketiga, ketika kami sudah memulai pelajaran pertama, seseorang mengetuk pintu. Kemudian ia, seseorang yang wajahnya pucat itu, masuk kelas dengan langkah pendek-pendek. Setelah Bu Yuni mempersilakannya duduk, ia berjalan ke belakang.

Kelas hening. Aku menarik napas dan mengembuskannya pelan-pelan. Ketika langkahnya mendekat ke bangkuku, kuberanikan diri untuk menyapa.

“Hai.”

Ia menghentikan langkahnya, menatapku.

“Kamu sakit? Wajah kamu pucat.”

Sedetik, aku melihat ia mengulas senyum tipis.

“Sudah baikan,” katanya. Lalu ia duduk di bangkunya.

Ada ganjalan yang rasanya anjlok dari tenggorokan, turun ke perutku dan menari-nari di sana. Di waktu yang sama, aku mulai khawatir berlebihan bahwa seisi kelas akan ramai karena aku menyapanya. Atau Bu Yuni akan menggebrak meja. Atau tiba-tiba langit runtuh dan kelasku porak-poranda?

Nyatanya tidak ada apa-apa. Kelas tetap tenang. Aku mengatur napas pelan-pelan. Ketika itulah kemudian kurasakan ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat.

Jadi harus menungguku sakit dulu, baru kamu mau bicara? :)

Oh. Astaga. Bangkunya di belakang, semoga ia tak bisa menebak semerah apa mukaku sekarang.[]

Ninuk Anggasari
Read More

Senin, 15 Oktober 2018

AYA (Percikan GADIS)



Percikan GADIS lagi aja deh. Lagi-lagi dimuatnya udah lama. Belum sempat nulis yang laiiiiin. >///<

======
AYA
======


Punya teman pendiam (yang seperti Aya) itu tidak asyik. Kalau sedang sedih, dia cuma bermurung diri dan tidak menceritakan apa-apa. Kalau sedang gembira, wajah cantik yang kalem itu hanya akan semringah sekadarnya. Aku bosan sebangku dengan patung hidup. Jadi kupikir aku akan pindah bangku saja.

“Chika mau pindah?” Aya bertanya.

“Iya, gerah di sini, aku mau di dekat pintu saja, Ay, dengan Adnan. Kamu nggak apa-apa ya duduk sendirian?”

Aku pasti mengkhayal ketika merasa melihat ada sorot sedih di matanya. Buktinya, setelah menganggukkan kepalanya satu kali, Aya tidak berkata apa-apa. Gadis itu kembali menunduk, dan melanjutkan membaca bukunya.

***

“Berarti kamu suka pilih-pilih teman ya, Chika? Hahaha.” Adnan berceletuk begitu aku selesai bercerita tentang betapa membosankannya Aya.

“Maksudnya?” Dahiku berkerut. “Aku nggak pilih-pilih kok. Kubilang kan aku cuma bosan, Nan. Aya mungkin memang nggak butuh teman, sedangkan aku bosan kalau nggak ngobrol-ngobrol. Jadi ya aku pindah. Memangnya salah?”
Raut wajah Adnan berangsur-angsur berubah serius.

“Nggak salah.” Adnan tersenyum. “Tapi nggak ada yang nggak butuh teman. Dan setahuku teman dekat Aya itu cuma kamu, kan? Sekarang dia sendirian. Kamu nggak kasihan? Padahal, meskipun kamu sebangku dengan dia, kamu tetap bisa bergaul dengan teman yang lain, Chika. Sedangkan dia? Coba kamu…”

“Hei, kok kamu segitunya, sih? Kamu naksir Aya, ya? Ciyeeeeee!”

Sebetulnya aku asal ucap saja supaya Adnan berhenti berceramah. Tapi sepertinya, aku melihat wajah Adnan memerah.

***

Aya anak yang rajin. Biasanya, kalau aku tidak sempat mencatat, ia memperbolehkanku membawa pulang buku catatannya. Sekarang, setelah seminggu tidak sebangku lagi dengan Aya, aku ingat bahwa sudah lama aku tidak bicara dengannya.

“Hai, boleh pinjam catatan?” Setelah pelajaran Kimia usai, aku menghampiri meja Aya.

Aya mendongak. “Chika? Aya kira Chika nggak mau berteman lagi dengan Aya.”

Aku mengernyit. “Eh? Kata siapa?”

Aku seperti ditampar ketika kemudian melihat Aya cepat-cepat mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia menangis. Aku segera duduk di sebelah bangkunya, dan memegang bahunya. Selama ini aku tidak pernah melihatnya menangis.

“Aya kira Chika nggak suka jadi teman Aya. Aya minta maaf kalau Aya punya salah. Aya sendirian terus seminggu ini. Rasanya aneh. Dada Aya sesak. Aya ingin Chika duduk di sini lagi tapi Chika pasti nggak mau dan Aya…” Suaranya terputus oleh isakan.

Hatiku mencelos. “Teman kita banyak, Aya. Tiga puluh lebih. Harusnya Aya berteman dengan semuanya. Kenapa Aya sedih hanya karena nggak sebangku lagi dengan Chika?”

Aya masih menangis. Aku tidak tahu bagaimana rasanya jadi dia. Tapi seminggu terakhir ini Adnan menjejaliku dengan nasihat yang terus diulang-ulang. Kata Adnan, semua orang punya karakteristik berbeda-beda. Kalau aku suka keramaian, mungkin Aya tidak suka. Kalau aku suka berkenalan, mungkin Aya tidak suka. Dan kegunaan seorang teman, kata Adnan, adalah untuk memahami dan menerima setiap karakter dari temannya.

“Iya. Aya akan berteman dengan yang lain. Tapi Aya sedih kehilangan Chika...”

Aku tertawa sekaligus merasa terharu sampai mataku berair. Aku tidak tahu ia menganggapku seberharga itu. Aku merasa bersalah, tapi juga bersyukur jika dengan ini Aya menyadari bahwa berteman dengan semua orang adalah hal yang penting. Setelah isak kecil Aya mereda, tiba-tiba aku punya ide bagus.

“Ngng, Aya. Untuk permulaan, kamu mau kucarikan teman sebangku yang baru nggak?”

Aya menatapku, terlihat agak ragu. Tapi ketika kemudian ia mengangguk, aku segera memutar kepalaku untuk mencari calon teman sebangku Aya. Aku sudah menduga bahwa orang itu memperhatikan kami. Mungkin sedari tadi ingin mendekat tetapi tidak berani.

Kulambaikan tangan untuk memanggilnya. “Hoi, Adnan! Coba ke sini!”

Aku tahu Adnan pasti akan gembira sekali.***

Ninuk Anggasari
Read More

Kamis, 11 Oktober 2018

Ketika Halaman Tetangga Tidak Ada Rumputnya

Image from here
Beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan seseorang. Katanya begini; "Seandainya ada orang yang kayaaa sekali, tapi sekelilingnya miskin semua gitu, rasanya gimana ya? Kan nggak seru kalo tetangganya nggak sepadan."

Saya mengernyit. "Memangnya ada yang kayak gitu ya?"

Katanya, ya seandainya aja. Intinya, gimana rasanya jadi orang yang kekayaannya melimpah di tengah-tengah masyarakat yang kekurangan. Kan nggak seru ya jadinya karena nggak ada saingan. Padahal manusia suka banget bersaing dan membanggakan apa yang dia capai sama tetangga sekitarnya.

Terus saya mengernyit lagi dan jadi mikir; "WOW. KOK SAYA BELUM SAMPE KESITU YA?"
Terus lagi, saya kok jadi ingat teorinya Maslow.
Image from here

Oh, pikir saya. Mungkin karena saya masih sibuk berkutat di tiga piramid paling bawah, belum sampai ke tingkat yang hijau itu. Maka yang saya pikirkan baru sebatas "Besok makan apa ya?" "Kalau nabung tiap bulan segini, maka kami akan mampu beli rumah dalam waktu berapa tahun cahaya?" Yang gitu-gitu. Sungguh pikiran berat yang nampaknya nggak perlu lagi ditambah dengan; "Wuh tetangga aku punya Pajero waaaaw besok kuharus beli juga." Yha. Kalo kayak kami yang mikir begitu, mau dilanjut apa dong kalimatnya? "... kuharus beli tossa biar minimal punya juga kendaraan yang agak lega?"

Belum pernah saya terpikir untuk memiliki sesuatu demi jadi lebih baik daripada tetangga. Tadinya saya kira begitu. Hingga kemudian saya sadar bahwa, kalau bukan menyangkut materi, ternyata saya ini irian juga. Kadang-kadang sampai santak banget gitu irinya. Yea.

Dua hari yang lalu misalnya. Untuk pertama kali sepanjang sejarah pengontrakan (maksudnya selama ngontrak di rumah yang kami tempati sekarang ini :3), saya iri sama tetangga sebelah. FYI kontrakan kami ini di kampung, bukan perumahan. Tapi sebelah kanan saya nggak ada rumah, hanya tanah kosong bekas ditanami singkong. Sebelah belakang, tanah kosong lagi. Cuma sebelah kirilah ada sebuah rumah, yang masih satu pemilik dengan rumah yang kami kontrak. Kadang anak si pemilik ini tinggal di bagian belakang rumah, tapi lebih seringnya di rumah sebelah ini nggak ada orang. Ya rumah kosong aja. Padahal besaaar lho rumahnya, tapi nggak terawat. Pintu perotol, dinding kusam, halaman banyak daun kering, rumput liar di mana-mana. Pokoknya, bersanding dengan rumah kosong ini, rumah yang kami kontrak jadi terlihat lumayan bersih gitu.

Nah, dua hari yang lalu, tiba-tiba ada seorang ibu yang bersihin halaman rumah sebelah. Kata si ibu, beliau disuruh pemilik rumah. Rumput dan lumut yang nempel di paving depan dikerik sampai bersih. Semak-semak dan tanaman menjalar dibabat habis. Sampah-sampah disapu. Keesokan harinya saya jadi takjub sendiri karena, waaaah, rumahnya jadi bersih dan indah. Enak banget dilihatnya.

Tapi efek samping yang ditimbulkannya adalah; kini kontrakan kami yang terlihat kumuh.

Lalu di sore hari yang sama, kami sekeluarga bersih-bersih halaman. Iya beneran sekeluarga karena Nina ikutan juga meski cuma milih-milihin belimbing jatuh terus dilemparin lagi. Yang saya kagum dari diri saya sendiri (-___-"), kok bisa ya saya baru sadar kalau halaman kami sekotor itu. Daun kering, banyak, tanaman menjalar, banyak, bahkan ada banyak rerimbunan bunga-bunga tunggal yang sama anak kecil sering dibikin mahkota itu lho. Ini halaman apa kebun belakang sekolahnya Nobita sih sebenernya?

Beberapa hari sebelumnya, padahal saya sempat menyapu halaman dengan sapu lidi. Kegiatan saya menyapu halaman ini jarang banget terjadi. Mungkin karena nggak yakin saya mampu bikin halaman bersih, suami saya berkomentar; "gimana sih kok nyapunya pindah-pindah? Masa yang sana masih kotor udah pindah ke situ."

Saya sok tahu; "Kan yang itu cuma daun? Ngapain disapu, kan ntar juga lama-lama dia terurai sendiri balik jadi tanah lagi yakan yakannn?"

"Ya kalo maunya kayak gitu kenapa nggak dibiarin aja sekalian nggak usah disapu."

Nggg. Ya iya sih.

Sampah halaman depan memang daun-daun semua. Ada sampah plastik tapi cuma sedikit, dan yang sedikit inilah yang saya sapu. Pantas kalau diprotes. Pantas kalo saya nggak pernah merasa nggak nyaman dengan halaman yang kotor. Pantas kalo yang bikin saya sadar bahwa daun dan rumput liar dan semak belukar adalah termasuk sampah yang tidak sedap dipandang, hanya saat tetangga sebelah kami sudah tidak punya sehelaipun rumput di halamannya.

Berguna juga berarti ya, sifat iri manusia. :3

Eh, tapi ....


Kalau halaman tetangga sudah banyak semak belukar dan daun kering lagi, semangat bersih-bersih saya tetap ada nggak ya? Kan nggak seru kalau tetangganya nggak sepadan... #eh
Read More

Senin, 08 Oktober 2018

Pacar (Percikan GADIS)

Percikan lagi, udah lupa dimuat di GADIS edisi berapa, bahkan tahunnya pun lupa juga. Kayaknya 2012, atau 2013 ya. Ya ampun lama sekali itu. Udah bertahun-tahun berlalu T====T Mungkin karena nggak perlu pakai seragam dan sepatu setiap hari, atau karena udah nggak ada lagi ujian kenaikan kelas terus lulus-lulusan, waktu terasa demikian cepat melesat-lesat. :3

Btw, doain supaya bisa nulis fiksi (dan dimuat media) lagi ya aquuuu. Plizz kukangen kurindu berat. T====T


==============
PACAR
==============


Aku punya teman, yang katanya, tidak bisa hidup jika tidak punya pacar. Oleh karena itu ia sering sekali berganti-ganti pacar. Putus dengan Brian, jadian dengan Sebastian. Belum lama berselang, hubungannya dengan Sebastian putus dan temanku segera pacaran dengan Adam.

Ia nyaris tidak pernah lama-lama jomblo. Ketika kutanya kenapa, ia bilang demi citra. Menurutnya, seseorang yang kelamaan menyandang status jomblo itu mengenaskan.

“Kok kamu bisa sih enam belas tahun belum pernah pacaran sekalipun?” ia bertanya padaku sambil menyusut air matanya dengan tisu.

Ya ya, ini sudah kali ke sekian ribu Prisillia mengungkit statusku yang belum pernah punya pacar setiap ia berada di kondisi buruk.

Semalam ia baru putus dengan Adam. Aku belum tanya gara-gara apa. Yang jelas, temanku yang sangat cantik ini nampak patah hati habis-habisan.

“Pokoknya kalau sampai seminggu Adam nggak ngajak aku balikan, aku mau pacaran sama Singgih ajaaa ....” rajuk Prisillia.

Aku tersedak.

“Uhuk! Uhuk! Singgih?”

“Iyaaa,akhir-akhir ini dia suka deketin aku. Kan nggak papa ya aku jadian sama dia aja? Biar jelek, kan yang penting aku punya pacar...”

Aku tertegun.

“Kalilaaa...”Prisillia merengek lagi.

“Apa?”

“Kamu dengerin aku, kan? Pokoknya kalau sampai seminggu Adam nggak ngajak aku balikan aku mau pacaran sama Singgih ajaaa ....”

Aku menghela nafas.

Tidak tahu harus tertawa miris atau menangis saja.

***

Biar jelek, kan yang penting punya pacar.

Aku mengingat dengan jelas kalimat Prisillia seminggu yang lalu, dan menjadi pendiam sejak saat itu. Teringat lagi olehku obrolan dengan Singgih pada suatu waktu.

Aku dan Singgih sedang sama-sama menunggu jemputan pulang. Kalau tidak salah, kutanyakan padanya kenapa sepertinya aku tidak pernah melihat ia punya pacar. Bukankah punya pacar akan membuatnya keren?

“Ah, kamu ada-ada saja, La. Punya pacar atau jomblo itu kan bukan parameter keren atau tidaknya seseorang,” katanya sambil tersenyum geli.

Aku juga tersenyum. Jika nanti Prisillia kembali mengungkit kenapa aku tidak kunjung punya pacar, aku bisa mengingat kalimat itu untuk kujadikan motivasi.

“Hei, jalan kok sambil melamun, La?”

Aku terkejut dengan tepukan halus di pundakku. Kutemukan Singgih sedang tersenyum sopan sambil membenarkan letak kacamatanya. Aku tertegun. Beberapa detik kemudian aku balas tertawa lalu segera mempercepat jalanku menuju kelas. Terasa sekali sapaan singkat itu membuat mukaku memanas.

***

“Kalilaaaaa!”

Suara cempreng yang sangat manja itu milik Prisillia. Cewek itu memelukku berlebihan ketika aku baru saja duduk. Kulihat kedua matanya sembab. Semalaman ia pasti banyak menangis. Ini sudah lewat seminggu, apa penyebab sedihnya masih gara-gara Adam?

“Kenapa?”

“Singgih...Singgih....” ia terisak.

“Singgih? Kenapa Singgih?” Suaraku terdengar aneh dan jadi mirip mencicit.

“Singgih bilang dia nggak mau jadi pacarku. Katanya selama ini aku salah paham. Dia nggak pernah suka sama aku. Huhuhu… Aku maluuu....”

“Apa?!”

“Terus dia bilang, aku akan lebih menarik kalau nggak ganti-ganti pacar terus. Mana aku diceramahin, bukannya punya pacar itu nggak penting? Kata Singgih, gitu. Huhu. Aku maluuu...”
Aku akan terlihat sangat tidak berperasaan jika tertawa di depan Prisillia. Tapi sungguh, penyebab kepedihan dan patah hati Prisillia kali ini membuatku merasa begitu lega.***

Ninuk Anggasari
Read More

Jumat, 05 Oktober 2018

7 Cara Menghadapi Anak Rewel dan Manja Setelah Sakit



Tadinya saya mikir, barangkali cuma saya ya, yang berpikir bahwa anak-anak jadi manja kalau lagi sakit? Rupanya enggak. Saya cukup tertampar saat seorang kerabat sempat mengeluhkan betapa manjanya kerabat saya yang lain, yang memang sedang sakit. Duhkanak, sakit yang sampai nggak bisa berdiri sendiri lho ini. Dibilang manja karena nggak mau pipis ke kamar mandi dan makan sendiri dan lain sebagainya. Apa kabar saya yang kalo pusing sedikit aja maunya tidur terus seharian tanpa direcokin Nina. Kujadi sedih. :(

Kembali ke masalah anak (anak kecil ya, yang belum bisa cebok apalagi nyari duit sendiri) yang jadi manja saat sedang sakit, saya kok jadi kepikiran mungkinkah sebetulnya kita yang menimbulkannya? Tidakkah kita yang kadang berlebihan mencurahinya dengan kasih sayang, karena terbawa suasana?

"Ayo makan ya sayang, adek ingin makan apa?"
"Adek mau digendong? Ayo, ayo, sayang, ibu gendong ya. Kita lihat kucing yaaa."

Familiarkah dialog ini? Kalau saya kok iya. Gak tau kalau Mas Anang. :3

Tapi saya maklum banget kalo anak sakit jadi disayang-sayang sampai lebay begitu. Karena, aduh, bisa lihat mereka senyum di saat keningnya menguarkan panas gitu adalah salah satu penenang untuk kita orangtuanya. Rasa-rasanya apapun kan kulakukan asal kau mau senyum dan ceria terus, Dek.

Sayang, kadang ini bisa jadi bumerang. Saat anak sembuh, ia seolah belum bisa move on dari pemanjaan berlebihan seperti saat ia sakit. Seolah tidak ada hal lain yang menarik buat dia kecuali merengek. Sedikit-sedikit minta digendong, bangun tidur bukannya nyengir malah menangis. Bahkan tidak jarang mereka juga jadi lebih mudah tantrum.

Sebagai ibu dari anak baru 18 bulan, beberapa pengalaman saya ini mungkin bisa dilakukan untuk meminimalkan kemanjaan pasca anak sakit. Untuk ibu yang punya anak seumuran, barangkali bisa berguna. Untuk anak yang umurnya jauh di atas atau jauh di bawah, bisa jadi ini tidak relevan.

1. Pahami Penyebab
Apakah ia mengantuk? Apakah ia lapar? Apakah popoknya penuh? Besar penyebab, ia rewel dan manja karena tubuhnya belum pulih benar hingga menyisakan hal yang tidak nyaman. Tenangkan diri ibu lalu tenangkanlah ia. Pahamilah bahwa biasanya, jika ia sedang baik-baik saja, ia adalah anak baik menyenangkan yang sangat ceria. Memahami penyebab akan membuat kita tahu harus bagaimana. Apakah anak ingin makan, ingin susu, ingin dininabobokan, ingin main ke rumah tetangga atau ajak baca buku saja dan bercerita.

2. Saat Ia Sakit, Hindari Berbuat Hal yang Tidak-Tidak
Nina misalnya, supaya enggak nangis terus, saya pernah mengizinkan dia mainan saklar lampu. Mau dicetek-cetek gitu supaya lampunya mati-hidup-mati-hidup. Ini jadi masuk kategori 'perbuatan yang tidak-tidak' karena bahkan setelah sembuh pun dia minta melakukan itu, dan menangis kalau enggak diturutin. -___-

3. Hentikan Sedini Mungkin
Begitu kita menyadari betapa 'tidak sehatnya' permintaan anak, hentikan. Katakan tidak, jelaskan mengapa hal itu tidak boleh, dan alihkan perhatiannya dengan cari mainan lain yang normal dan wajar. Dia tentu akan menangis, biar. Jadilah tidak terkalahkan dengan terus mencari pengalih perhatian supaya dia lupa. :3

4. Jadi Konsisten
Saat kita bilang tidak, jangan sekali-sekali berubah jadi iya hanya karena ia meraung-raung. Ia akan berpikir cara meraung ini efektif untuk meluluhkan anda dan akan menjadikannya senjata pada kasus-kasus selanjutnya. Lakukan sesuai apa yang anda katakan dan selalu konsistenlah dengan itu.

5. Bonding then Sounding
Meski harus jadi tegas, sebetulnya kita tidak lantas perlu jadi ibu galak yang menyebalkan. Alhamdulillah jika ibu tidak begitu, tapi saya pernah mengalaminya. Saya menerapkan banyak aturan dan Nina mematuhinya. Saya tidak berpikir ini akan jadi masalah sampai suatu hari saya menyadari sesuatu. Kalau lagi ke rumah Mbah dan Uti-Akungnya, dia jadi nggak ingin sama saya. Saya lewat atau pergi pun dia nggak peduli. Nggak yang 'ibuuk ibuuuk' gitu. Seolah selama ini dia mau sama saya karena nggak ada pilihan lain. Ya ampun sedih, beneran. Kata ibu saya; "Kalau sama kamu banyak aturan mungkin?" Oh begitukah? Setelah itu saya coba mengubah sikap. Tetap banyak aturan sih, tapi ngaturnya pakai cara lembut yang menyenangkan. Entah karena lagi fasenya atau memang cara lembut ini sangat berpengaruh, tapi kuberhasil mendapatkan Ninaku kembali huhuhu. Terharu. Dia nempel dan nyariin terus bahkan sama ayahnya pun enggak mau kalau nggak dirayu-rayu dulu. Nggg, setidaknya, sekarang sih masih begitu, nggak tahu kalau nanti sore. :3

7. Sabarlah dan Jangan Marah-marah
Iya ini perlu pembahasan panjang dan mendetail karena bisa tersangkut-paut dengan innerchild dan lain sebagainya. Intinya berusahalah untuk tidak marah kepadanya. Kalau lagi kesal sama hal lain jangan limpahkan sama anak, limpahkan sama ayahnya aja. #eh #gakgitu

Apakah cara ini berhasil untuk Nina?

Belum tahu jugaaaa. Wqwq. Yang jelas, saya menerapkan cara-cara di atas itu dan sangat berharap Nina nggak keterusan jadi anak manja. Jikapun ternyata ada hal lain terjadi di luar teori maka mari kita mencari-cari teori baru lagi.

Sekali lagi, catatan ini berdasarkan pengalaman pribadi ya. Kalau ada yang ingin mengoreksi atau mungkin punya tips lain, yuk saling berbagi di kolom komentar.

Salam.

Read More

Selasa, 02 Oktober 2018

Speak Up


Barangkali orang-orang tak akan ada yang saling benci jika mereka memendam saja apa yang mereka pikirkan di dalam kepala. Berapa kali kita merasa sakit hati karena mendengar ucapan orang lain?

"Eh kok kamu kurus banget sih?"
"Cepetan nikah. Jangan kebanyakan pilih-pilih lah. Seumur kamu aku udah punya anak dua!"
"Perempuan yang terlalu protektif gitu pasti bikin suaminya gak betah di rumah deh."

Atau berapa kali kita terprovokasi (atau bahkan tersulut emosi) oleh opini orang lain yang enggak cocok dengan pendapat kita?

"Pokoknya 2019 harus ganti presiden!"
"Suporter bola yang anarkis mending dihukum mati aja sekalian."
"Dia Cina, gak pantas jadi pemimpin."
"Semua remaja harus nonton film G-30S/PKI agar tahu betapa kejam dan berbahaya PKI bagi negeri ini."

Coba. Seandainya semua pikiran cukup dipendam aja di dalam kepala, enggak usah diomongin baik ke orang lain atau malah ke orang bersangkutan, barangkali akan indah dunia, damai selamanya.

Tapi kebebasan berpendapat sungguhlah sebuah hal mewah yang bahkan harus ditebus dengan nyawa oleh Socrates, pun oleh para leluhur kita. Betapa beruntung sebab kita tidak perlu menemukan mayat yang tiba-tiba tergeletak kaku di perempatan jalan, terbunuh, hanya karena salah bicara. Beruntung tidak ada yang mendobrak pintu rumah lalu menyeret anggota keluarga karena mereka tak paham apa yang dikatakannya. Tak ada yang demikian mencekam dalam masa sekarang ini. Hingga jutaan kata-kata bebas berhamburan seperti sebuah pesta pora.
Image from Giphy.com

Seru. Tapi bikin khawatir.

Sebab dari apa-apa yang keluar dari mulut kita lah kita akan memperoleh timbal balik. Yang diucapkan secara baik-baik saja bisa jadi buruk jika yang menangkap salah paham, apalagi yang memang diucapkan dengan cara buruk.

Seorang teman saya pernah diserang ramai-ramai karena sesuatu yang dia tulis di twitter. Padahal saya tahu niatnya baik. Tapi pandangan orang beda-beda. Dia dicibir karena mengemukakan perbedaan itu dengan cara yang banyak orang tidak suka. Atau sebut saja Jonru Ginting, misalnya. Ada berapa banyak haters yang membenci sejak ia demikian frontal menuliskan pandangan politiknya di laman facebooknya?

Bahkan pernah suatu hari saya menulis di status whatsapp soal ketidaksukaan saya terhadap seorang artis. Ceritanya, artis ini seorang penyanyi yang sudah memulai karir sejak ABG. Dua tahun belakangan, ia melahirkan seorang bayi, membesarkannya, dan seketika itu ia jadi bahan omongan di mana-mana karena gaya parenting yang dia share kepada publik dianggap tidak biasa. Ada yang takjub, kagum, tapi belakangan jadi banyak hatersnya. Tahu kan apa yang menyebabkan dia dibenci? Ya karena sharing informasi dan opini itu tadi. Nggak semua orang jadi suka, bahkan banyak yang menghujat. Dia dicap sombong dan jumawa karena seolah mengklaim bahwa cara dialah yang paling baik, padahal ya tentu banyak pula kekurangannya. Hatersnya kesal karena dia selalu ingin mencitrakan diri sebagai ibu sempurna.

Nah saya sempat juga ikut kesal, dan marah. Banyak teman menegur saya kemudian. Soal kenapa saya jadi fanatik dan seberlebihan itu menanggapi si mbak artis, padahal kan ya suka-suka dia, kan itu anak dia? Mereka protes. Saya tersinggung. Karena menurut saya, mereka nggak mendapatkan poin-poin atas apa yang saya sampaikan namun justru menyalahkan saya. Beneran saya jengkel, lalu jadi mikir; "Coba tadi nggak usah share apa-apa soal si artis, kan nggak bakalan jadi ribut-ribut begini. Sama teman-teman sendiri pun!"

Belakangan baru saya sadari kenapa saya marah. Barangkali karena manusia cenderung membenci hal negatif yang ada pada dirinya sendiri, maka ketika ia melihat itu dalam diri orang lain, mereka akan marah. Mungkin saya nggak suka kesombongan si artis ini karena sebetulnya saya juga nggak kalah sombong dari dia. -____-

Baca juga: Kesombongan yang Berbahaya

Sejak itu saya jadi mikir betapa besar efek dari apa yang kita utarakan kepada umum terhadap diri kita. Sejak itu saya jadi mikir bahwa jika ingin menyampaikan sesuatu sama orang lain, apalagi orang banyak, kita harus benar-benar siap dengan segala resikonya. Dicibir, misalnya. Kena marah. Kena bully (naudzubillah). Pun harus siap juga meminta maaf saat yang kita sampaikan ternyata salah, atau menyakiti orang lain.

Karena, siapa sih di dunia fana ini yang enggak pernah salah?

Tapi ya nggak lantas apa-apa yang ada di kepala harus dikeluarin semua juga. Terutama kalau lagi ngobrol personal. Misalnya bilang sama saya; "Eh itu kamu di blog lagi nulis apa sih kok nggak jelas banget?" Gitu jangan yaaa. Kan kasian sakit hati dengarnya.

Capek lho ini nulisnya. T===T
Read More