7 Cara Menghadapi Anak Rewel dan Manja Setelah Sakit - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Jumat, 05 Oktober 2018

7 Cara Menghadapi Anak Rewel dan Manja Setelah Sakit



Tadinya saya mikir, barangkali cuma saya ya, yang berpikir bahwa anak-anak jadi manja kalau lagi sakit? Rupanya enggak. Saya cukup tertampar saat seorang kerabat sempat mengeluhkan betapa manjanya kerabat saya yang lain, yang memang sedang sakit. Duhkanak, sakit yang sampai nggak bisa berdiri sendiri lho ini. Dibilang manja karena nggak mau pipis ke kamar mandi dan makan sendiri dan lain sebagainya. Apa kabar saya yang kalo pusing sedikit aja maunya tidur terus seharian tanpa direcokin Nina. Kujadi sedih. :(

Kembali ke masalah anak (anak kecil ya, yang belum bisa cebok apalagi nyari duit sendiri) yang jadi manja saat sedang sakit, saya kok jadi kepikiran mungkinkah sebetulnya kita yang menimbulkannya? Tidakkah kita yang kadang berlebihan mencurahinya dengan kasih sayang, karena terbawa suasana?

"Ayo makan ya sayang, adek ingin makan apa?"
"Adek mau digendong? Ayo, ayo, sayang, ibu gendong ya. Kita lihat kucing yaaa."

Familiarkah dialog ini? Kalau saya kok iya. Gak tau kalau Mas Anang. :3

Tapi saya maklum banget kalo anak sakit jadi disayang-sayang sampai lebay begitu. Karena, aduh, bisa lihat mereka senyum di saat keningnya menguarkan panas gitu adalah salah satu penenang untuk kita orangtuanya. Rasa-rasanya apapun kan kulakukan asal kau mau senyum dan ceria terus, Dek.

Sayang, kadang ini bisa jadi bumerang. Saat anak sembuh, ia seolah belum bisa move on dari pemanjaan berlebihan seperti saat ia sakit. Seolah tidak ada hal lain yang menarik buat dia kecuali merengek. Sedikit-sedikit minta digendong, bangun tidur bukannya nyengir malah menangis. Bahkan tidak jarang mereka juga jadi lebih mudah tantrum.

Sebagai ibu dari anak baru 18 bulan, beberapa pengalaman saya ini mungkin bisa dilakukan untuk meminimalkan kemanjaan pasca anak sakit. Untuk ibu yang punya anak seumuran, barangkali bisa berguna. Untuk anak yang umurnya jauh di atas atau jauh di bawah, bisa jadi ini tidak relevan.

1. Pahami Penyebab
Apakah ia mengantuk? Apakah ia lapar? Apakah popoknya penuh? Besar penyebab, ia rewel dan manja karena tubuhnya belum pulih benar hingga menyisakan hal yang tidak nyaman. Tenangkan diri ibu lalu tenangkanlah ia. Pahamilah bahwa biasanya, jika ia sedang baik-baik saja, ia adalah anak baik menyenangkan yang sangat ceria. Memahami penyebab akan membuat kita tahu harus bagaimana. Apakah anak ingin makan, ingin susu, ingin dininabobokan, ingin main ke rumah tetangga atau ajak baca buku saja dan bercerita.

2. Saat Ia Sakit, Hindari Berbuat Hal yang Tidak-Tidak
Nina misalnya, supaya enggak nangis terus, saya pernah mengizinkan dia mainan saklar lampu. Mau dicetek-cetek gitu supaya lampunya mati-hidup-mati-hidup. Ini jadi masuk kategori 'perbuatan yang tidak-tidak' karena bahkan setelah sembuh pun dia minta melakukan itu, dan menangis kalau enggak diturutin. -___-

3. Hentikan Sedini Mungkin
Begitu kita menyadari betapa 'tidak sehatnya' permintaan anak, hentikan. Katakan tidak, jelaskan mengapa hal itu tidak boleh, dan alihkan perhatiannya dengan cari mainan lain yang normal dan wajar. Dia tentu akan menangis, biar. Jadilah tidak terkalahkan dengan terus mencari pengalih perhatian supaya dia lupa. :3

4. Jadi Konsisten
Saat kita bilang tidak, jangan sekali-sekali berubah jadi iya hanya karena ia meraung-raung. Ia akan berpikir cara meraung ini efektif untuk meluluhkan anda dan akan menjadikannya senjata pada kasus-kasus selanjutnya. Lakukan sesuai apa yang anda katakan dan selalu konsistenlah dengan itu.

5. Bonding then Sounding
Meski harus jadi tegas, sebetulnya kita tidak lantas perlu jadi ibu galak yang menyebalkan. Alhamdulillah jika ibu tidak begitu, tapi saya pernah mengalaminya. Saya menerapkan banyak aturan dan Nina mematuhinya. Saya tidak berpikir ini akan jadi masalah sampai suatu hari saya menyadari sesuatu. Kalau lagi ke rumah Mbah dan Uti-Akungnya, dia jadi nggak ingin sama saya. Saya lewat atau pergi pun dia nggak peduli. Nggak yang 'ibuuk ibuuuk' gitu. Seolah selama ini dia mau sama saya karena nggak ada pilihan lain. Ya ampun sedih, beneran. Kata ibu saya; "Kalau sama kamu banyak aturan mungkin?" Oh begitukah? Setelah itu saya coba mengubah sikap. Tetap banyak aturan sih, tapi ngaturnya pakai cara lembut yang menyenangkan. Entah karena lagi fasenya atau memang cara lembut ini sangat berpengaruh, tapi kuberhasil mendapatkan Ninaku kembali huhuhu. Terharu. Dia nempel dan nyariin terus bahkan sama ayahnya pun enggak mau kalau nggak dirayu-rayu dulu. Nggg, setidaknya, sekarang sih masih begitu, nggak tahu kalau nanti sore. :3

7. Sabarlah dan Jangan Marah-marah
Iya ini perlu pembahasan panjang dan mendetail karena bisa tersangkut-paut dengan innerchild dan lain sebagainya. Intinya berusahalah untuk tidak marah kepadanya. Kalau lagi kesal sama hal lain jangan limpahkan sama anak, limpahkan sama ayahnya aja. #eh #gakgitu

Apakah cara ini berhasil untuk Nina?

Belum tahu jugaaaa. Wqwq. Yang jelas, saya menerapkan cara-cara di atas itu dan sangat berharap Nina nggak keterusan jadi anak manja. Jikapun ternyata ada hal lain terjadi di luar teori maka mari kita mencari-cari teori baru lagi.

Sekali lagi, catatan ini berdasarkan pengalaman pribadi ya. Kalau ada yang ingin mengoreksi atau mungkin punya tips lain, yuk saling berbagi di kolom komentar.

Salam.


EmoticonEmoticon