Mengelola Keinginan - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Minggu, 28 Oktober 2018

Mengelola Keinginan

Image from here

Andai di kontrakan kami ada doraemon kayaknya ashique ya. Semua semua semua dapat dikabulkan dengan kantong ajaib. Tapi di sini hanya ada seorang anak, seorang suami, juga seorang istri yang dikit-dikit mau ini dikit-dikit mau yang itu.

Memang benar, yang mestinya didahulukan untuk dimiliki ya "kebutuhan" saja dulu. Bukannya keinginan. Tapi semua orang punya keinginan nggak peduli dia ada di level ekonomi manapun. Ciyus akutuuu.

Misal saya sendiri aja deh.

Saat masih sekolah, saya kepingin sekali punya hape. Sampai kalo lagi tiduran di kasur suka kebayang-bayang sendiri andai dalam genggaman ada benda kotak yang bisa dipencet-pencet, untuk dengerin musik, untuk kirim sms, untuk telponan sama orang lain. Apakah saya butuh? Ya jelas enggak. Cuma kepingin aja. Kepingin sama kayak teman yang lain.

Sekarang, setelah berumah tangga dan punya satu orang anak, keinginannya ya lain lagi. Kadang kompleks dan penting, kadang sebaliknya. Yang saya baru sadari adalah, bahwa keinginan yang tidak kunjung tercapai rupanya bisa demikian menyiksa. Bikin kepikiran. Bikin sesak dada kayak orang kangen saat sedang jatuh cinta. Pokoknya mau cepetan punya aja. Padahal sebetulnya meski nggak punya ya nggak apa-apa juga. Toh nggak butuh ini, cuma kepingin.

Iya. Kepingin aja...

Btw ini saya lagi ngomongin keinginan yang punya harga dan bisa dibeli ya, yang bersifat materiil. Kayak misalnya; kepingin kursus memasak (tapi nggak ada uang), kepingin punya toko kue, kepingin punya gazebo biar bisa santai-santai di halaman, kepingin punya satu set buku halo balita, kepingin naik kapal pesiar, kepingin liburan ke raja ampat, dan lain sebagainya yang nggak bisa dilaksanakan karena kendalanya "belum ada cukup uang". Untuk keingianan tipe ini, mungkin kita bisa mengelolanya dengan lebih mudah.

Nggg. Agak nggak masuk akal gitu memang, masa iya keingianan bisa dikelola. Lalu kalaupun bisa, memangnya perlu? Untuk orang yang kalau udah kadung kepingin bisa terus-terusan inget dan kebayang-bayang kayak saya, nampaknya ini sangat perlu.

Ceritanya, saya kan lagi kepingin sesuatu. Beberapa bulan lalu tiba-tiba ada yang bilang bahwa dia mau ngasih benda itu. Kami hanya perlu menunggu beberapa hari lalu benda itu akan datang. Masya Allah sampai nggak berhenti ngomongin sama suami. "Kalau nanti barangnya datang kita bisa begina-beginu-begini ya sayang yaaaa?" Nggak ada bosannya. Hingga kemudian hari yang ditunggu tiba, ternyata nggak ada apa-apa. Kata orang yang bersangkutan, dia nggak jadi ngasih karena suatu alasan. Duhkanaaak. Gerimis hati mamak.

Setelah itu, keinginan saya jadi membesar, dan membesar, dan membesar, sampai memenuhi rongga dada bahkan mungkin ke seisi kepala. Saya nggak bisa berhenti membayangkan gimana ya rasanya punya ini. Kenapa ya aku nggak punya. Sampai yang ngeneeees banget gitu rasanya.

Hingga kemudian saya putuskan untuk stop. Ini harus dikendalikan. Dan berikut ini cara-cara yang saya coba lakukan untuk mengelola keinginan yang simpang-siur dalam kepala;

1. Klasifikasikan
Kadang kita tercampur, antara kebutuhan dan keinginan. Ada yang sampai perlu dikaji berulang-ulang kali untuk menentukan; yang ini butuh atau ingin ya? Bahkan ada juga yang saking kuatnya perasaan kepingin, kita jadi maksa berpikir bahwa; "ini kebutuhan loh sebenernya!" padahal bukan. Saya mencoba menuliskan daftar keinginan saya di catatan hape. Untuk kemudian saya tekuri, yang mana sih yang meski aku tak punya pun tak apa-apa masih ada baju yang lama? Saat hati kecil saya menemukan ada benda semacam itu dalam catatan, saya langsung menghapusnya. Hapus-hapus-hapus. Hingga tersisa yang benar-benar saya inginkan, atau yaaa, alasannya, yang saya butuhkan.

2. Prioritaskan
Saya urutkan daftar ini dengan nomor. Nomor paling atas adalah yang paling kepingin sampai bikin nyaris gila(naudzubillah, jauh-jauh!), lalu selanjutnya dan selanjutnya. Paling akhir adalah yang tidak terlalu mendesak.

3. Upayakan Satu Demi Satu
Ini misalnya aja. Saya terlalu malu membeberkan daftar keinginan saya di sini maka saya pakai contoh lain saja. Misal saya ingin punya gazebo, harganya 5 juta. Lalu saya mengira-ngira, berapa lama jangka waktu yang masuk akal untuk saya mengumpulkan uang sebanyak itu? Misal saya sepakat dengan diri sendiri ingin punya gazebo dalam waktu 6 bulan, artinya, setiap bulan saya harus menyisihkan 800 ribu rupiah. Apakah uangnya ada? Jika ada, saya akan sisihkan sebagian dari gaji. Kalau memungkinkan, pengeluaran lain bisa dirampingkan dulu anggarannya. Jika ternyata tidak memungkinkan, maka saya akan cari uang dengan cara lain. Ini belum sampai saya coba sih. Tapi jika anda ingin menerapkan cara ini dan nilai barang yang anda inginkan demikian besar, mungkin bisa dicoba cara "membanting tulang sementara". Iya sementara ajaaa biar nggak lelah pikir. :3 Pokoknya kan dalam sebulan harus terkumpul 800ribu untuk disisihkan. Kita akan cari tambahan ini dengan berbagai macam cara (asalkan halal, red). Bisa dengan jualan donat, jual risoles, jadi reseller kuping gajah (#yha), pokoknya semua aja dijabanin sampai dapat pemasukan bersih yang sesuai dengan target.

4. Tidak Harus Berhasil
Karena yang kita perjuangkan hanya perkara keinginan, harusnya jika tidak berhasil pun tidak masalah. Jika kita menyerah lalu memutuskan; "nggak kepingin gazebo lagi deh, nggak kepingin mesin cuci lagi deh, lagian nggak penting." Sepertinya nggak apa-apa. Bukankah yang selama ini berusaha kita kalahkan memang perasaan kita sendiri? Jika ia lalu menjadi tahu diri, bukankah justru bagus? Atau siapa tahu, saat kita berhasil mengumpulkan uang sejumlah yang kita mau, eh ternyata kita udah nggak kepingin benda yang ada di list. Justru bagus yekan. Uangnya bisa disimpan untuk tabungan aja, atau dipakai untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat.


Begitulah.

Insya Allah cara ini sangat berguna, setidaknya untuk saya. Untuk membuat diri kita sendiri sadar mana yang sebetulnya penting, mana yang tidak. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa terlalu ngotot sama keinginan kadang sampai bikin kita lupa dengan apa-apa yang memang butuh.

Sungguh, meski tetangga kita punya rumah granit berkilauan sementara punya kita cuma lantai biasa, nggak apa-apa kok. Masih banyak yang bahkan rumah aja nggak punya dan harus ngontrak, kayak kami bertiga. Kalau memang uangnya nggak ada, nggak usah beli lipstik ratusan ribu pun nggak apa-apa kok bisa pakai yang murah aja.

Atau kalau masih kepingin banget dan jadi nggak bisa hidup tenang, ya coba ikuti tips saya di atas saja. Siapa tauuu berguna. :)


EmoticonEmoticon