Speak Up - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Selasa, 02 Oktober 2018

Speak Up


Barangkali orang-orang tak akan ada yang saling benci jika mereka memendam saja apa yang mereka pikirkan di dalam kepala. Berapa kali kita merasa sakit hati karena mendengar ucapan orang lain?

"Eh kok kamu kurus banget sih?"
"Cepetan nikah. Jangan kebanyakan pilih-pilih lah. Seumur kamu aku udah punya anak dua!"
"Perempuan yang terlalu protektif gitu pasti bikin suaminya gak betah di rumah deh."

Atau berapa kali kita terprovokasi (atau bahkan tersulut emosi) oleh opini orang lain yang enggak cocok dengan pendapat kita?

"Pokoknya 2019 harus ganti presiden!"
"Suporter bola yang anarkis mending dihukum mati aja sekalian."
"Dia Cina, gak pantas jadi pemimpin."
"Semua remaja harus nonton film G-30S/PKI agar tahu betapa kejam dan berbahaya PKI bagi negeri ini."

Coba. Seandainya semua pikiran cukup dipendam aja di dalam kepala, enggak usah diomongin baik ke orang lain atau malah ke orang bersangkutan, barangkali akan indah dunia, damai selamanya.

Tapi kebebasan berpendapat sungguhlah sebuah hal mewah yang bahkan harus ditebus dengan nyawa oleh Socrates, pun oleh para leluhur kita. Betapa beruntung sebab kita tidak perlu menemukan mayat yang tiba-tiba tergeletak kaku di perempatan jalan, terbunuh, hanya karena salah bicara. Beruntung tidak ada yang mendobrak pintu rumah lalu menyeret anggota keluarga karena mereka tak paham apa yang dikatakannya. Tak ada yang demikian mencekam dalam masa sekarang ini. Hingga jutaan kata-kata bebas berhamburan seperti sebuah pesta pora.
Image from Giphy.com

Seru. Tapi bikin khawatir.

Sebab dari apa-apa yang keluar dari mulut kita lah kita akan memperoleh timbal balik. Yang diucapkan secara baik-baik saja bisa jadi buruk jika yang menangkap salah paham, apalagi yang memang diucapkan dengan cara buruk.

Seorang teman saya pernah diserang ramai-ramai karena sesuatu yang dia tulis di twitter. Padahal saya tahu niatnya baik. Tapi pandangan orang beda-beda. Dia dicibir karena mengemukakan perbedaan itu dengan cara yang banyak orang tidak suka. Atau sebut saja Jonru Ginting, misalnya. Ada berapa banyak haters yang membenci sejak ia demikian frontal menuliskan pandangan politiknya di laman facebooknya?

Bahkan pernah suatu hari saya menulis di status whatsapp soal ketidaksukaan saya terhadap seorang artis. Ceritanya, artis ini seorang penyanyi yang sudah memulai karir sejak ABG. Dua tahun belakangan, ia melahirkan seorang bayi, membesarkannya, dan seketika itu ia jadi bahan omongan di mana-mana karena gaya parenting yang dia share kepada publik dianggap tidak biasa. Ada yang takjub, kagum, tapi belakangan jadi banyak hatersnya. Tahu kan apa yang menyebabkan dia dibenci? Ya karena sharing informasi dan opini itu tadi. Nggak semua orang jadi suka, bahkan banyak yang menghujat. Dia dicap sombong dan jumawa karena seolah mengklaim bahwa cara dialah yang paling baik, padahal ya tentu banyak pula kekurangannya. Hatersnya kesal karena dia selalu ingin mencitrakan diri sebagai ibu sempurna.

Nah saya sempat juga ikut kesal, dan marah. Banyak teman menegur saya kemudian. Soal kenapa saya jadi fanatik dan seberlebihan itu menanggapi si mbak artis, padahal kan ya suka-suka dia, kan itu anak dia? Mereka protes. Saya tersinggung. Karena menurut saya, mereka nggak mendapatkan poin-poin atas apa yang saya sampaikan namun justru menyalahkan saya. Beneran saya jengkel, lalu jadi mikir; "Coba tadi nggak usah share apa-apa soal si artis, kan nggak bakalan jadi ribut-ribut begini. Sama teman-teman sendiri pun!"

Belakangan baru saya sadari kenapa saya marah. Barangkali karena manusia cenderung membenci hal negatif yang ada pada dirinya sendiri, maka ketika ia melihat itu dalam diri orang lain, mereka akan marah. Mungkin saya nggak suka kesombongan si artis ini karena sebetulnya saya juga nggak kalah sombong dari dia. -____-

Baca juga: Kesombongan yang Berbahaya

Sejak itu saya jadi mikir betapa besar efek dari apa yang kita utarakan kepada umum terhadap diri kita. Sejak itu saya jadi mikir bahwa jika ingin menyampaikan sesuatu sama orang lain, apalagi orang banyak, kita harus benar-benar siap dengan segala resikonya. Dicibir, misalnya. Kena marah. Kena bully (naudzubillah). Pun harus siap juga meminta maaf saat yang kita sampaikan ternyata salah, atau menyakiti orang lain.

Karena, siapa sih di dunia fana ini yang enggak pernah salah?

Tapi ya nggak lantas apa-apa yang ada di kepala harus dikeluarin semua juga. Terutama kalau lagi ngobrol personal. Misalnya bilang sama saya; "Eh itu kamu di blog lagi nulis apa sih kok nggak jelas banget?" Gitu jangan yaaa. Kan kasian sakit hati dengarnya.

Capek lho ini nulisnya. T===T


EmoticonEmoticon