Tentang Pemberian - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Kamis, 25 Oktober 2018

Tentang Pemberian

Image from here
Katanya, jika ingin memberi sesuatu sama orang lain, berikanlah barang yang kamu sukai. Tapi sebenernya ini saya denger darimana ya kok digugel nggak ketemu. Entah ini cuma opini atau bahkan ada hadistnya, tapi saya hampir selalu berpegang pada pedoman ini setiap kali ingin memberi orang lain sesuatu.

Sayangnya, kadang hal inilah yang menghambat saya untuk saling berbagi sama orang lain saat saya punya barang nggak terpakai, atau bahkan makanan sisa. Suka dipikir dulu sampe lamaaaa gitu; "ini kan cuma sayur rebung sisa arisan, kalo dikasih sama tetangga, mereka tersinggung nggak ya?" Akhirnya nggak jadi dikasih. Dipanasin aja terus sendiri sampai akhirnya kebuang karena nggak habis dimakan. Atau misalnya lagi; "Ini kan cuma baju bekas, kalau dikasih sama mbah itu nanti dia tersinggung nggak ya? Masa dikasih baju jelek bukannya yang bagus-bagus." Akhirnya nggak jadi ngasih. Berniat nunggu punya baju yang lebih layak untuk disumbangin tapi yang masih layak ya dipake aja terus sampe buluk.

Saya jadi ingat cerita ibu saya. Beberapa lebaran yang lalu, kami pernah bikin pentol bakso. Untuk keluarga kami, pentol ini makanan mewah lho, dan mahal. Tapi sesuatu yang buruk terjadi. Ibu belum punya kulkas saat itu, jadi pentol itu harusnya dipanasin lagi pas malam hari. Tapi malam itu ibu lupa. Besoknya, pentol yang masih satu dandang penuh itu jadi lengket dan basi. Mau maksa diolah pun percuma karena rasanya udah kecut. Huhu. Akhirnya direndamlah dandang berisi pentol itu di tempat cuci piring. Niatnya ya mau dibuang gitu saking aja belum sempat. Terus tahu nggak, ada seseorang yang kebetulan lihat, terus dia minta supaya pentol-pentol itu untuk dia saja. Mau dia makan bareng keluarganya. Padahal udahlah pentolnya basi, kerendam lama dan pasti kecampur air sabun dan cucian juga yakan. Tapi dibungkus sama dia, dan dibawa pulang. T=======T

Di waktu yang lain, pernah saya dan suami beli ikan di Pasar Tanjung. Saya pilih ikan kuniran karena harganya paling murah. Lalu ada seorang perempuan tua yang mengingatkan saya kepada almarhumah mbah. Beliau begitu sederhana. Rambutnya digelung, pakaiannya kebaya dan kain panjang. Sambil pegang dompet kecil yang biasanya kita dapatkan free kalau beli emas, beliau berdiri di depan penjual ikan. Berdiri aja gitu nggak bilang mau beli apa. Sepintas, saya terpikir untuk membelikan beliau ikan kuniran juga. Tapi saya takut. Kalau ternyata si mbah mau beli nila atau gurame gimana? Apa ditanya aja ya? Tapi kalau ternyata mau beli ikan mahal gimana dong nggak cukup dong uang akutu. Tapi kalau tersinggung karena dibelikan kuniran gimana? Sumpah saya memang selalu mempertimbangkan "nanti kalau dia tersinggung" ini kalau mau ngasih apapun, ya ampun. Iya saya tau saya sungguh terlalu rempong sama diri sendiri. Karena pada akhirnya, saat pesanan saya selesai, saya bayar plus dapat kembalian, saya sudah balik kanan dan melangkah menjauh, terdengarlah oleh saya bahwa si mbah ini ternyata mau beli ikan kuniran. Belinya lebih sedikit dari yang ingin saya belikan untuk beliau pun! Masya Allah. Sumpah di perjalanan pulang saya sampai kepikiran. Kalau saya belikan, kan uangnya si mbah bisa disimpan. Mungkin beliau punya cucu dan kepingin sekali lihat cucunya makan ikan. Andai saya nggak sebegitunya sok tahu menghitung-hitung apa yang nantinya akan dipikirkan orang. T=====T

Jadi, sebetulnya setiap orang punya nilai-nilai sendiri dalam menghargai sesuatu.

Seseorang ada yang enteng saja mentraktir orang lain makan dengan bill ratusan ribu. Untuknya itu bukan nilai yang besar, untuk saya itu sangat besar. Ada yang sehari-hari makan dengan tempe dan merasa makanannya terlalu membosankan sampai dia muak. Tapi ada lho yang cuma makan dengan garam. Kalau yang makan tempe dikasih makanan restoran, atau kalau yang makan garam dikasih tempe, tidakkah mereka akan senang? Teorinya begitu.

Tapi kan kita mana tahu kan orang sebelah atau sebelahnya lagi atau sebelahnya lagi tu makannya tempe atau sate atau ayam atau cuma sambel bajak aja sehari-harinya yakan? Kita mana tahu kalau dikasih kemeja atau jeans bekas dia bakal suka apa enggak yakaaan? Pembenarannya begitu.

Jujur aja, bahkan sampai sekarang, ini masih jadi sebab terbesar kenapa saya jarang punya nyali untuk memberi orang lain sesuatu. Karena sesederhana takut tersinggung itu. Takut orang jadi merasa rendah atau dikasihani. Takut orang merasa harga dirinya jatuh karena kita memberi barang yang tidak sebanding dengan level dia seharusnya. Apalagi kalau barangnya memang yang kita tidak kita butuhkan.

Apa cuma saya yang mikir ribet begini? Yha. Eh tapi Ibu saya kayaknya juga sama deh (atau jangan-jangan ini turunan? :3).

Kalau ada tamu orang Qaya gitu, ibu nggak pernah siapin makan. Katanya, "Takut nggak mau kalau makan di sini. Nanti risih. Nanti nggak dimakan."

Padahal kalau situasinya dibalik, misal saya jadi orang yang dikasih, atau disiapin makanan, atau dibelikan kuniran, atau dikasih rebung kuah santan yang lezat (meskipun sisa arisan), atau dikasih pakain bekas, masa iya nggak seneng sih? Kenapa nggak bisa secepat itu membalik pola pikir dari yang parnoan "takut orang tersinggung" menjadi "nggak apa-apa deh dicoba siapa tahu dia senang" sih?

Butuh latihan.

Butuh penerimaan, dan keberanian.

Dan tulisan lain juga nampaknya. Kayaknya ini nggak ada kesimpulannya. -_-

1 Comments

Kadang emang suka muncul pikiran-pikiran gitu ya, kadang aku lebih mikir, udah kasih aja, mau nggak mau terserah dia, dengan bahasa yg ramah, santun semoga orangnya mau, hm.


EmoticonEmoticon