11/01/2018 - 12/01/2018 - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Kamis, 22 November 2018

Drama Nursing Strike Saat Anak Hampir 2 Tahun


Note: Tidak ada tips mengatasi nursing strike di tulisan ini, hanya curhat panjang semata xD

Mungkin anak saya tipikal perasa alias terlalu peka alias sangat sensitif. Sejak baru lahir, terhitung ada 4x dia mengalami nursing strike. Nursing strike sendiri adalah kondisi di mana bayi tiba-tiba menolak menyusu. Mogok gitu. Bisa karena sariawan atau karena tidak cocok dengan hal baru (misal ibu ganti parfum) atau lain hal yang nggak jelas apa penyebabnya. Nah penyebab Nina nursing strike, hampir selalu karena alasan psikologis.

Kali pertama nursing strike adalah saat dia berusia 3 bulan. Nggak tahu awalnya gimana, mendadak dia melengos aja gitu setiap mau disusuin. Sudah dicoba berbagai macam posisi dari berbaring, sambil dipangku, sambil digendong, tetep nggak mau. Akhirnya dia saya paksa sampai berujung nangis kejer setiap kali saya hendak susui. Aduuu rasanya kepingin ikutan nangis juga. Karena itu kali pertama, saya parno banget kalau dia nggak mau nyusu selamanya gimana? Sebab keponakan saya pun menolak nyusu sama ibunya sejak usia 3 bulan karena bingung puting. Tapi kan Nina nggak diselingi minum pakai dot ya, masa iya dia bingung puting juga? T====T Alhasil harus nunggu dianya keriyep-keriyep dulu di gendongan baru bisa disusuin. Itupun intensitasnya jaraaang sekali. Kalau nggak salah ingat, sehari bisa cuma 4x nyusu padahal biasanya ribuan kali (iya lebay maap :3). Jadinya dalam sehari bisa berkali-kali nangis drama gitu dia, cuma karena dipaksa nyusu. Ya gimana kalo nggak dipaksa enggak mau. Anak umur segitu kalo nggak nyusu asupan nutrisinya dari mana lagi dong huhu. Untungnya beberapa hari kemudian pola menyusunya normal kembali. Nggak usah dipaksa dan drama-drama, dia mau menyusu kapanpun dan di manapun lagi. :3

Kali kedua dan ketiga ini saya lupa detailnya. Terjadi saat dia udah mulai mpasi dan udah bisa minum pakai gelas. Kalau nggak salah saat usianya 7 atau 8 atau 9 bulanan. Penyebabnya, yang satu karena saya jerit waktu dia menggigit saat menyusu, mungkin dia kaget, atau berpikir bahwa saya marah. Penyebab yang satu lagi, karena saya bawa dia pijet ke dukun bayi dan membiarkannya nangis kejer. Mungkin dia pikir saya tega, jadi dia kesel atau sedih atau merasa tidak disayang atau gimana. Reaksinya ya sama. Melengos gitu kalau disodorin nenen. Bedanya, di usia segitu dia udah nggak bisa lagi dipaksa sambil gendong. Lagi tidur pun tetep melengos kalau dikasih nenen. Berhubung dia sudah bisa minum pakai gelas, akhirnya diakalin saya kasih asip hasil marmet, dan dicoba minumnya pakai gelas. Eh ternyata mau loh diaaa biarpun sedikit. Kok ya tega kamu nggak mimik ibuk tapi mau kalo pake gelas, Nak? -____-

Nina ini kalau udah kadung nursing strike bisa sampai dua-tiga hari. Nggak yang nolak sama sekali gitu sih. Dia tetap mau nyusu tapi mungkin sehari hanya dua kali pas dia udah ngantuk banget. Malam hari, yang biasanya tengah malem kebangun pun dia nggak mau nyusu. Dia tentu akan kebangun, merengek, tapi ya nggak nyusu. Paling dia bisa tidur lagi kalau dipukpuk atau dikipasin atau digendong sebentar. Alhasil dalam semalem dia bisa bangun berkali-kali dan merengek terus. Lapar banget mungkin perutnya. T==T

Bulan demi bulan berlalu, saya mulai lupa gimana haru-birunya kalau anak mengalami nursing strike. Masuk usia 18 bulan, pikir saya, wah Nina udah hampir masuk usia disapih nih. Yeayyyy akhirnya aku bebas. Eh bukan ding. Maksudnya, karena saya tertarik ingin menerapkan metode WWL saat menyapih Nina, maka saya mulai mencari tahu; Saat seusia Nina begini, udah mulai bisa disounding belum ya? Udah bisa nggak usah tawarin menyusu kalau anaknya nggak minta belum ya? Udah bisa belajar nggak nyusu saat tidur malam belum ya?

Sebab beginilah metode WWL alias Weaning with Love alias Menyapih dengan Cinta itu kalau berdasarkan hasil saya browsing:

1. Tidak menipu anak. Misalnya, oles lipstik atau jamu pahit di payudara ibu agar anak jera lalu berhenti menyusu
2. Sounding
3. Tidak menawarkan, tapi juga tidak menolak
3. Tidak ada tenggat waktu, maka WWL ini dibilang berhasil saat anak sudah nggak minta nyusu lagi, atau jikapun minta, orangtua dapat mengalihkan perhatiannya tanpa membuatnya tantrum.

Karena nampaknya Nina sudah cukup besar maka saya mulai sounding Nina; "Nak, besok kalau Nina udah ulang tahun, udah nggak usah mimik lagi yaaa. Soalnya Nina udah besar. Mimik itu untuk adek bayi."

Hampir setiap ada kesempatan, dan kalau ingat, saya akan sounding begitu. Sampai Nina hapal juga bahwa;

"Nina nggak usah apa Nak kalo udah dua tahun?"
"Nggak ucah miiimiiik."
"Soalnya udah apa?"
"Udah ecaaann."

Meski setelah itu selalu akan dia sambung lagi dengan; "Mimik buk, mau mimik nina buuuukkkk."

Hingga tibalah saat dia beneran nggak mau mimik, di usia 19 bulan. Bukan karena soundingnya berhasil, tapi lagi-lagi nursing strike! Taunya nursing strike gimana? Feeling aja. Karena terakhir Nina mimik sempat terjadi drama menguras emosi antara kami berdua. :'( Pikir saya, mungkin Nina sedih gara-gara itu. Huhu. Ya Allah jadinya dilema. Ini kalo nursing strike di usia segini mau langsung lanjut disapih aja atau gimana? Kalau kondisinya karena dia sedih begini apa iya jadi weaning with love namanya? Apa nggak malah sebaliknya?

Kala itu banyak yang menyarankan, nggak apa-apa, disapih aja. Selama tiga hari, Nina tidur tanpa mimik. Hari pertama rewel banget, dan susaaah karena harus gendong tapi nggak tidur-tidur. Giliran ayahnya yang gendong, eh dia bisa keriyep-keriyep, taruh dikasur, usap-usap sambil dikipasin, tidur. Hari kedua, gendong lagi tapi cuma sebentar. Begitu ditaruh di kasur, dikipas sambil usap-usap sedikit, tidur. Hari ketiga bahkan nggak usah digendong sama sekali. Cuma dikipas dan diusap-usap aja sambil main di kasur bertiga, dan dia bisa tidur dengan mudahnya. Huhuuu saya terharu tapi sedih juga. Pagi harinya, saat menyuapi dia makan, saya coba ajak dia ngobrol.

"Nina kenapa nggak mau mimik sama ibuk lagi, Nak? Nina marah sama ibuk?"
"Endak," katanya. "Nina untah dadi ya. Uwwwekkk, jitu. Uwwwweeekkk."
Setiap kali dikasih mimik dia memang selalu pura-pura mau muntah. Saya sampai pernah mandi lagi karena mikir mungkin Nina memang nggak nyaman, ternyata ya tetep nggak mau, dan tetep uwwek juga. Ganti parfum sabun mandi dan detergen pun enggak kok. -_-
"Ibuk minta maaf ya kalo ibuk ada salah."
"..."
"Ya Nina, maafin ibuk ya?"
"Iyaaa."
"Nanti Nina mimik ibuk lagi ya?"
"Iiiiyyyaaaa."
"Sebentar kok cuma lima bulan lagi kok. Yaaaa? Nina sabar dulu. Mimik sama ibuk dulu ya, Nak?"
"Iya."

T--------T

Entahlah dia ngerti apa enggak. Tapi saya sudah putuskan untuk nggak akan menyapih Nina dulu. Selain karena umurnya kekecilan menurut saya, juga karena kondisinya. Sebab dia bukannya lagi self weaning, dia hanya sedang marah sama saya maka ia lampiaskan dengan nursing strike. Kalau lantas dilanjutkan dengan menyapih kok kayaknya jadi sedih aja gitu. Nggak rela. :'(

Sekarang dia sudah hampir 20 bulan. Setelah dia mau nyusu lagi, saya udah nggak pernah sounding-sounding dia untuk berhenti mimik lagi dong. Nggak tahu deh besok ini gimana menyapihnya. Entah gampang atau malah drama. Entah tepat waktu atau justru molor sekian lama. Beneran nggak tahu. Beneran belum mau mikir itu dulu karena masih trauma.

 -_____-

Yo wes lah. Rapopo. Pikir keri aja deh, Bosque~

Read More

Selasa, 20 November 2018

Orang-orang Yang Berubah Pikiran

Image from here
Saya pernah dengar orang lain dikata-katain blunder saat apa yang dia lakukan bertolak belakang dengan statement yang sebelumnya pernah ia sampaikan. Misal, setahun yang lalu pernah bilang; saya hanya akan makan apapun yang alami, tidak akan pernah makan junk food. Eh taunya sekarang doyan. Kata netizen sih yang kayak begitu itu namanya blunder. Bener nggak sih?

Takut jadi orang blunder inilah alasannya, mengapa saya sempat maju mundur untuk blogging. Karena saya sadar diri bahwa saya sering mengalami perubahan pola pikir, entah dengan alasan kuat atau malah cuma remeh temeh. Tapi saya sadari saya kadang cepat berubah. Takutnya, kalau kelak ternyata saya menyalahi statement sendiri di blogpost-blogpost lama, apa artinya saya blunder?

Nah, sekarang kok saya ngeblog lagi ternyata, apa sudah lebih ajeg dan berpendirian? Wk.

Sebetulnya, orang-orang yang dicap blunder itu nggak sepenuhnya salah juga, menurut saya. Sebab siapa sih yang akan bertahan dengan pola pikir yang sama dan itu-itu saja sampai akhir dunia? Siapa sih yang nggak lantas berubah jadi; "oh iya ya, beginipun boleh juga ternyata." Saat menemukan hal yang baginya lebih baik? Lepas dari lebih baiknya ini betul atau salah, karena selalu relatif dan subyektif, seenggaknya kalau dia berubah mungkin menurut dia ya ini lebih baik, mungkin begitu.

Bagi saya, itu enggak apa-apa. Berubah pikiran, adalah hal yang lazim dilakukan manusia kebanyakan.

Karena bahkan di dunia nyata pun manusia memang begitu, berubah-ubah. Saking saja nggak ada bukti otentik bahwa mereka pernah punya pemikiran bertolak belakang. Nah kalau di blog kan ada. Kalau lantas di kemudian hari ada yang sengaja membanding-bandingkan statement lama dengan aktivitas baru lalu yang bersangkutan dicap blunder, ya mungkin dia lagi apes aja. Mungkin memang perubahannya cenderung negatif, merugikan orang lain, sampai memicu pro kontra, atau saking pengamatnya aja yang kurang kerjaan dan terlalu membesar-besarkan.

Maka sekarang saya ngeblog lagi. Bukan karena nggak takut blunder. Barangkali, justru blog bisa begitu berguna merekam apa-apa yang saya pernah pikirkan. Kalau kelak lagi iseng, mungkin saya bisa baca-baca lagi. Untuk bercermin. Oh ini loh isi kepala saya di tahun ini dan bulan ini. Oh ini pas masih berani, oh sekarang penakut dong? Oh yang ini malu-maluin yaa ternyata. Dan berbagai kemungkinan reaksi lainnya.

Ya semoga aja dari waktu ke waktu perubahan kitorang semakin baik, ya. Tidak jalan di tempat, tidak pula balik kanan maju jalan. Ya iya kan ini kehidupan, bukan barisan pengibar bendera.

Udah malem, by the way. Selamat blogging. Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur yaaa.

Read More

Sabtu, 17 November 2018

Cuma Curhat Ibu-ibu yang Resah Karena Telat Mens

Image from here
Beberapa hari yang lalu saya sempat resah berkepanjangan sampai makan tak enak tidur tak tenang dikarenakan satu penyebab; saya telat mens.

Telat hari pertama, saya langsung bilang suami; "Sayang, kok aku telat ya. Kalo hamil lagi gimana?"

Saat Nina main terlalu ekstrim sampai injak-injak perut, saya langsung jerit; "Ninaaaa jangan injek perut ibuk awas kena adeeek!"

Saya takut hamil. Tapi kalau beneran hamil, saya takut janin di dalam sana kenapa-kenapa karena saya memang tidak mempersiapkan apa-apa.

Untuk menghalau keresahan, iseng-iseng saya menulis rencana apa saja yang harus kami laksanakan kalau beneran saya hamil lagi. Hal krusial tentang nanti yang masak siapa nyucinya gimana cara ngasuhnya gimana, kalo ada kerjaan dan masa cuti saya habis harus gimana. Pun lengkap dengan perkiraan biaya-biaya termasuk uang vitamin, uang periksa, uang lahiran, uang pospak dan sebagainya dan sebagainya. Meski setelah nulis biasanya saya akan lupa, tapi positifnya, setelah semua diperhitungkan saya jadi nggak galau-galau amat. Setidaknya, apa yang kami akan hadapi tidak lagi terlalu abstrak. Ada gambarannya lah biarpun nggak yakin juga apa kami mampu melewatinya. :3

Besoknya, saya belum mens juga.

Lalu tahulah saya bahwa yang perlu dipikirkan pasangan yang masih punya balita tapi akan segera punya balita lagi ternyata bukan melulu soal biaya, melainkan juga bisik-bisik tetangga.

"Udah gede ya perutnya si anu. Padahal anaknya masih kecil. Jadi dia hamil lagi tu pas anak pertamanya umur berapa ya?"

"Berapa ya kayaknya pas masih setahun."

"Kok nggak kasihan ya sama anaknya."

Wazzwuzzwazzwuzzwazwuz.

Serius, saya mendengar obrolan ini secara real time. Saya ada di antara mereka, dengan seorang balita, dan periode mens yang udah telat 3 hari dan baru saja menyusun "rencana jika aku beneran hamil lagi". Otomatis saya cuma diam dan pura-pura menghitung jumlah burung terbang aja. Sedih banget jadinya akutu...

Yang selama ini saya sering dengar, kalau jarak anaknya berdekatan banget gitu nanti orangtuanya bakal sulit membagi perhatian. Anak pertama bisa kurang kasih sayang trus bisa-bisa jadi nakal. Nanti kakak cemburu sama adek atau sebaliknya. Terus begini dan begitu.

Mungkin, orang-orang bisa dengan sangat enteng bilang "kasihan" atau "kok tega" atau kalimat cenderung judgemental lainnya karena mereka belum pernah mengalami sendiri. Lucunya, mereka berkomentar seolah dirinya peduli banget padahal ya pernah beliin susu aja enggak. Nawarin untuk nemenin ke dokter juga enggak. Bantuin momong pas anaknya udah lahir pun enggak. Jadi rasa kasihan yang teramat dalam itu cukup diungkapkan lewat kalimat menuduh dan meresahkan yang kalau kedengeran si ibu justru bakalan bikin sedih aja gitu?

Padahal masa iya ada orangtua yang sengaja mau bikin anaknya kurang kasih sayang? Padahal bisa jadi mereka sudah berikhtiar dengan aneka macam KB tapi tetap hamil juga. Bisa jadi mereka nggak ikutan KB hormonal karena ketakutan tertentu. Bisa jadi mereka memang let it flow aja deh, hamil lagi juga nggak apa-apa kok Insya Allah tetap siap. Atau alasan lainnya, yang sama sekali tidak bertujuan buruk atau sengaja kepingin bikin anak-anaknya menderita.

Bahkan kalau mau lebih judgemental, ibu yang anaknya satu juga belum tentu sesayang itu kok sama anaknya. :( Nggak jamin juga ibu yang anaknya banyak dan jarak umurnya dekat nggak bisa membagi kasih sayangnya. Bisa jadi mereka justru punya hati yang jauh lebih besar dan jauh lebih penyayang. Bisa jadi mereka nggak kayak saya yang sering banget sok sibuk main hape sementara Nina ngoceh-ngoceh sendirian nggak ditemenin. Bisa jadi mereka berdoa dan shalat malam jauh lebih khusyuk, memohon supaya anak-anaknya tentram dan bahagia.

Kenapa manusia bisa demikian mudah menilai yang ini nggak baik dan yang itu lebih baik padahal mereka nggak tahu apa-apa? .___.

Setelah telat lima hari, saya jadi sangat melankolis. Saya ingin selalu peluk dan cium Nina, bahkan kadang sampai terlontar juga ucapan; "maafin ibuk ya nak..."

Saya jadi banyak menangis. Begitu banyak ketakutan yang menghantui, termasuk juga takut mati. Kalau saya tidak selamat saat lahiran, siapa nanti yang merawat anak-anak? Kalau mereka sama uti, apa ayahnya akan menikah lagi? Kalau menikah lagi, apa biaya hidup dan sekolah mereka terjamin? Kalau ikut ayah, apa mereka bahagia tinggal dengan ibu tiri?

T=====T

Dulu saat masih kecil dan belum bisa kerja, saya begitu takut orangtua saya meninggal. Sebab saya demikian tergantung dan jika mereka meninggalkan saya dan adik-adik mungkin kami bisa jadi gelandangan. Sekarang ketakutan saya berubah. Saya takut meninggal duluan saat masa depan anak-anak saya masih demikan panjang dan buram. Saya takut suatu saat mereka kesepian dan merindukan hangat pelukan...

Ah. Perasaan. Betapa tipis dan rapuh seperti daging es degan. :3

Setelah telat 7 hari, saya keluar flek. Masih deg-degan karena bahkan orang hamil pun bisa ngeflek juga. Tapi ketika besoknya ternyata menstruasi saya betulan datang, saya bersyukur. Lega. Meski anehnya ada sedikit kecewa juga; 'oh nggak jadi ya hamilnya...' Tapi nggak apa-apa. Mungkin karena memang belum siap. Jujur, memang jadi lebih banyak bersyukurnya.

Tapi... saya jadi punya PR lain sih sebetulnya. Yakni mencari tahu, kok bisa telat mensnya lama banget padahal bertahun-tahun sebelumnya sangat teratur? Mungkin ada masalah? Duh kenapa ya kira-kira?

Iya saya parnoan. Banget.
Bismillah. Semoga nggak ada apa-apa.



Titip kecup hangat untuk anak-anak ya, Bunda. :*

Read More