Cuma Curhat Ibu-ibu yang Resah Karena Telat Mens - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Sabtu, 17 November 2018

Cuma Curhat Ibu-ibu yang Resah Karena Telat Mens

Image from here
Beberapa hari yang lalu saya sempat resah berkepanjangan sampai makan tak enak tidur tak tenang dikarenakan satu penyebab; saya telat mens.

Telat hari pertama, saya langsung bilang suami; "Sayang, kok aku telat ya. Kalo hamil lagi gimana?"

Saat Nina main terlalu ekstrim sampai injak-injak perut, saya langsung jerit; "Ninaaaa jangan injek perut ibuk awas kena adeeek!"

Saya takut hamil. Tapi kalau beneran hamil, saya takut janin di dalam sana kenapa-kenapa karena saya memang tidak mempersiapkan apa-apa.

Untuk menghalau keresahan, iseng-iseng saya menulis rencana apa saja yang harus kami laksanakan kalau beneran saya hamil lagi. Hal krusial tentang nanti yang masak siapa nyucinya gimana cara ngasuhnya gimana, kalo ada kerjaan dan masa cuti saya habis harus gimana. Pun lengkap dengan perkiraan biaya-biaya termasuk uang vitamin, uang periksa, uang lahiran, uang pospak dan sebagainya dan sebagainya. Meski setelah nulis biasanya saya akan lupa, tapi positifnya, setelah semua diperhitungkan saya jadi nggak galau-galau amat. Setidaknya, apa yang kami akan hadapi tidak lagi terlalu abstrak. Ada gambarannya lah biarpun nggak yakin juga apa kami mampu melewatinya. :3

Besoknya, saya belum mens juga.

Lalu tahulah saya bahwa yang perlu dipikirkan pasangan yang masih punya balita tapi akan segera punya balita lagi ternyata bukan melulu soal biaya, melainkan juga bisik-bisik tetangga.

"Udah gede ya perutnya si anu. Padahal anaknya masih kecil. Jadi dia hamil lagi tu pas anak pertamanya umur berapa ya?"

"Berapa ya kayaknya pas masih setahun."

"Kok nggak kasihan ya sama anaknya."

Wazzwuzzwazzwuzzwazwuz.

Serius, saya mendengar obrolan ini secara real time. Saya ada di antara mereka, dengan seorang balita, dan periode mens yang udah telat 3 hari dan baru saja menyusun "rencana jika aku beneran hamil lagi". Otomatis saya cuma diam dan pura-pura menghitung jumlah burung terbang aja. Sedih banget jadinya akutu...

Yang selama ini saya sering dengar, kalau jarak anaknya berdekatan banget gitu nanti orangtuanya bakal sulit membagi perhatian. Anak pertama bisa kurang kasih sayang trus bisa-bisa jadi nakal. Nanti kakak cemburu sama adek atau sebaliknya. Terus begini dan begitu.

Mungkin, orang-orang bisa dengan sangat enteng bilang "kasihan" atau "kok tega" atau kalimat cenderung judgemental lainnya karena mereka belum pernah mengalami sendiri. Lucunya, mereka berkomentar seolah dirinya peduli banget padahal ya pernah beliin susu aja enggak. Nawarin untuk nemenin ke dokter juga enggak. Bantuin momong pas anaknya udah lahir pun enggak. Jadi rasa kasihan yang teramat dalam itu cukup diungkapkan lewat kalimat menuduh dan meresahkan yang kalau kedengeran si ibu justru bakalan bikin sedih aja gitu?

Padahal masa iya ada orangtua yang sengaja mau bikin anaknya kurang kasih sayang? Padahal bisa jadi mereka sudah berikhtiar dengan aneka macam KB tapi tetap hamil juga. Bisa jadi mereka nggak ikutan KB hormonal karena ketakutan tertentu. Bisa jadi mereka memang let it flow aja deh, hamil lagi juga nggak apa-apa kok Insya Allah tetap siap. Atau alasan lainnya, yang sama sekali tidak bertujuan buruk atau sengaja kepingin bikin anak-anaknya menderita.

Bahkan kalau mau lebih judgemental, ibu yang anaknya satu juga belum tentu sesayang itu kok sama anaknya. :( Nggak jamin juga ibu yang anaknya banyak dan jarak umurnya dekat nggak bisa membagi kasih sayangnya. Bisa jadi mereka justru punya hati yang jauh lebih besar dan jauh lebih penyayang. Bisa jadi mereka nggak kayak saya yang sering banget sok sibuk main hape sementara Nina ngoceh-ngoceh sendirian nggak ditemenin. Bisa jadi mereka berdoa dan shalat malam jauh lebih khusyuk, memohon supaya anak-anaknya tentram dan bahagia.

Kenapa manusia bisa demikian mudah menilai yang ini nggak baik dan yang itu lebih baik padahal mereka nggak tahu apa-apa? .___.

Setelah telat lima hari, saya jadi sangat melankolis. Saya ingin selalu peluk dan cium Nina, bahkan kadang sampai terlontar juga ucapan; "maafin ibuk ya nak..."

Saya jadi banyak menangis. Begitu banyak ketakutan yang menghantui, termasuk juga takut mati. Kalau saya tidak selamat saat lahiran, siapa nanti yang merawat anak-anak? Kalau mereka sama uti, apa ayahnya akan menikah lagi? Kalau menikah lagi, apa biaya hidup dan sekolah mereka terjamin? Kalau ikut ayah, apa mereka bahagia tinggal dengan ibu tiri?

T=====T

Dulu saat masih kecil dan belum bisa kerja, saya begitu takut orangtua saya meninggal. Sebab saya demikian tergantung dan jika mereka meninggalkan saya dan adik-adik mungkin kami bisa jadi gelandangan. Sekarang ketakutan saya berubah. Saya takut meninggal duluan saat masa depan anak-anak saya masih demikan panjang dan buram. Saya takut suatu saat mereka kesepian dan merindukan hangat pelukan...

Ah. Perasaan. Betapa tipis dan rapuh seperti daging es degan. :3

Setelah telat 7 hari, saya keluar flek. Masih deg-degan karena bahkan orang hamil pun bisa ngeflek juga. Tapi ketika besoknya ternyata menstruasi saya betulan datang, saya bersyukur. Lega. Meski anehnya ada sedikit kecewa juga; 'oh nggak jadi ya hamilnya...' Tapi nggak apa-apa. Mungkin karena memang belum siap. Jujur, memang jadi lebih banyak bersyukurnya.

Tapi... saya jadi punya PR lain sih sebetulnya. Yakni mencari tahu, kok bisa telat mensnya lama banget padahal bertahun-tahun sebelumnya sangat teratur? Mungkin ada masalah? Duh kenapa ya kira-kira?

Iya saya parnoan. Banget.
Bismillah. Semoga nggak ada apa-apa.



Titip kecup hangat untuk anak-anak ya, Bunda. :*


EmoticonEmoticon