Yang Hilang Setelah Menikah - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Kamis, 06 Desember 2018

Yang Hilang Setelah Menikah

Image from here

"Gimana kalau aku nggak bisa nongkrong dan ngopi-ngopi lagi kalau menikah lalu punya anak nanti?"

Dulunya saya agak gimana gitu kalau ada teman yang apa-apa berat sama anak, apa-apa berat sama suami, apa-apa harus izin dulu maka kalo nggak diizinin nggak berangkat atau nggak jadi beli sesuatu, apa-apa harus cepetan karena kasihan anaknya nungguin di rumah. Semacam; yaelah rempong amat ciyh idup qamu tuuu~

Karena kala itu saya lumayan bebas merdeka, kecuali terhadap izin Bapak yang nggak ngebolehin anaknya pulang lewat jam malam tanpa alasan jelas dan akan marah-marah kalau aturan itu dilanggar. Selebihnya, saya cukup bahagia karena boleh ke Papuma bareng teman-teman. Boleh main ke garahan hanya untuk foto-foto alay. Boleh nginap di rumahnya Usop yang deket pantaey itu meski mohon izinnya harus diulang secara berkala dan lumayan berbelit. Boleh ngopi-ngopi, boleh diskusi, boleh karaoke, boleh ke Pusda, boleh ke warnet dan ikut paketan 4 jam (bahkan pernah juga 8 jam),  boleh nonton bioskop. Boleh melakukan hal menyenangkan lain tanpa perlu pulang tiap 3-4 jam sekali untuk menyusui.

Tadinya saya pernah takut, gimana kalau pernikahan malah bikin saya terkekang dan mati bosan? Namun di waktu yang sama sayapun sadar betapa receh ketakutan saya itu dibanding impian besar saya untuk jadi seorang istri dan ibu.

Iyaloh, menjadi istri dan ibu itu sudah saya impikan sejak lama. Saking kepinginnya, kadang kalau mau tidur saya memejamkan mata, sengaja membayangkan gimana rasanya jika di sebelah saya ada anak kecil yang bisa dipeluk dan dikecup pipinya sampai puas. Membayangkan gimana rasanya punya pasangan hidup; sayakah yang akan marah karena dia menaruh handuk basah sembarangan ataukah sebaliknya? Akan jadi istri rajin memasakkah saya atau beli bakso dan gorengan aja? Akan jadi istri dan ibu penyabarkah saya atau cerewet dan terus-menerus berasap seperti cerobong kereta?

Sekarang nggak usah dibayang-bayangin lagi udah ada semua. :')

Kalo lagi inget kok ya terharu. Coba kalo lagi lupa. Masih aja sempat membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang bebas merdeka. Lalu muncullah kalimat bernada mengasihani semacam; "Kasihan ya aku nggak bisa nongkrong dan ngopi-ngopi dan jalan kesana-kemari lagi..."

Iya. Sekarang memang udah nggak bisa lagi karena kondisi nggak memungkinkan. Mau jalan-jalan, kasihan Nina kena polusi, karena dia pernah kena broncopneumonia takut kambuh lagi amit-amit T===T. Mau ninggalin Nina untuk senang-senang sendiri, nggak tega karena dia masih nyusu. Pokoknya sekarang kutelah menjadi ibu rempong yang apa-apa anak apa-apa suami nanti begini nanti begitu. Yagitu deh. Terus kalo udah jadi pilihan sendiri masa masih mau ngeluh kok aku nggak kayak si anu kok nggak kayak si itu? Kan kayak minta diseplok aja gitu biar tahu diri. Yha.

Mungkin butuh me time? Mungkin iya. Supaya lebih pandai mensyukuri berkah yang telah demikian melimpah ruah. Berkah sehat, berkah diberikan pasangan hidup (semoga sehidup semati), berkah dianugerahi buah hati.

Subhanallah. Alhamdulillah. Syukuri. Syukuri...



P.S:
Setelah Nina gedean nanti semoga bisa ngopi-ngopi dan nongkrong-nongkrong dan jalan-jalan agak jauh ya, Genggggssss. Iya amiiiin.


EmoticonEmoticon