03/01/2019 - 04/01/2019 - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Selasa, 19 Maret 2019

Empat Level Ekonomi Manusia



Kalau dibagi empat, mungkin kelas ekonomi manusia bisa diklasifikasikan ke dalam warna-warna berikut; merah, kuning, hijau, emas. Ini saya tahu dari supervisor waktu FDS kemarin. Jadi, masing-masing orang dikasih kertas kecil dan ditulis nama, lalu mereka menempelkan kertas tersebut ke salah satu dari empat warna yang sudah ditempel di papan.

Merah, artinya sangat kurang.
Kuning, pas-pasan.
Hijau, berkecukupan.
Emas, harta melimpah.

Mungkin bisa kita sepakati begini aja dulu untuk dapat gambaran kasarnya. Nah, kira-kira kita ada di warna apa ya? Orangtua kita? Tetangga kita? Teman-teman kita? Selevel atau beda-beda?

Jawabannya pasti beragam. Apalagi kalau tinggal di kampung kayak saya. Di kampung yang sama, orang level emas bisa banget tetanggaan sama level merah, sebelahnya kuning, sebelahnya hijau. Entah kalau di perkotaan, apalagi di perumahan yang notabene ukuran rumah plus harganya cenderung disesuaikan dengan blok. Jadi udah ngumpul sesuai kelas masing-masing kali ya kalo di perumahan?

Nah yang bikin saya sering kepikiran akhir-akhir ini, level saya ke depan bisa stabil, naik, atau turun ya? Kalo turun, ntar bayar sekolah Nina pake duit siapa ya? Seriiing banget kepikiran ini. :3

Karena berdasarkan pengamatan (di kampung dan lingkungan saya), orang-orang kok ya bisa aja berubah kelas dalam beberapa tahun. Ada yang duluuu banget waktu saya masih SD, keluarga mereka level hijau. Apa-apa ada. Nggak kesusahan. Makan enak. Sekolah anak-anaknya bagus. Eh sekarang mereka di level kuning. Ada juga yang sebaliknya, dulu serba kekurangan, anggap aja level merah lah, sekarang rumahnya besar dan punya mobil dan makan cukup. Udah bisa masuk kategori hijau atau mungkin bahkan emas.

Gitu kan bikin heran dan merenung kadang-kadang. Kok bisa sih? Aku harus gimana ya biar nggak turun level? Kalopun nggak bisa naik ya minimal stabil gitu lah seiring seirama antara pendapatan dengan pengeluaran.

Kenapa khawatir sama masa depan yang belum kejadian? Karena ya tiba-tiba muncul ajaaa. Iya tahu rezeki udah ada yang atur, tahu juga roda kehidupan itu berputar. Tapi ya suka tiba-tiba aja gitu khawatir. Takut tiba-tiba ada sesuatu lalu ekonomi terjun bebas. Takut tiba-tiba Nina nggak bisa sekolah. Takut kelilit hutang. Astaga sungguh parnoan. Padahal mah gimanapun keadaan ya harusnya diterima aja ya dan disyukuri sebab tugas manusia hanya berusaha Allah-lah penentu segalanya.

Ya ampun kujadi mellow.

Namun barangkali kita perlu juga melakukan beberapa antisipasi. Menghindari turunnya kelas, atau naudzubillah malah terjun bebas. Misalnya dengan beberapa hal (beberapa saya lakukan beberapa baru di angankan wqwq);

1. Hidup Secukupnya
Tidak berlebih-lebihan dan tidak panasan. Tantangan terberat hidup bertetangga (baik  dengan yang selevel maupun berbeda) adalah kita cenderung ingin melakukan hal yang sama. Mereka travelling terus, kita pengen. Mereka nonton bioskop, pengen juga. Ternyata mereka masih bisa nabung untuk investasi masa tua misalnya, eh kita nggak bisa karena duit udah habis untuk senang-senang.

2. Menabung dan Investasi
Tabungan dana darurat, yang konon untuk jaga-jaga bila ada situasi darurat seperti bencana alam dlsb dlsb. Tabungan hari tua, untuk dana pensiunan kita. Tabungan pendidikan untuk anak sekolah. Wah ini berat ini iyaaaa berat. Belum ada yang saya laksanakan astaga. Bismillah, semoga bisa.

3. Menghindari Utang Berbunga
Karena utang bisa melilit dan menjerat dan mencekik sampai kamu sesak napas. :"( Maka kalau bukan untuk urusan yang sangat-sangat-sangat mendesak, jangan berhutang. :3

4. Banyak Sedekah

5. Pasrah
Level paling tinggi ya udah dipasrahkan aja sama kuasa yang di atas. Yang penting kita berupaya, melakukan antisipasi dan lain sebagainya. Sebab jika Allah berkehendak si anu jadi kaya maka akan kaya-lah dia dan begitupula sebaliknya.

Kok tipsnya kayak nggak niat sih? Iya nih tadinya cuma mau curhat aja tapi kok nggak enak kalo curhat melulu. XD

Btw, kamu ingin berbagi pandangan atau cerita soal level hidup manusia ini mungkin? Komen yaaa :)

Read More

Sabtu, 16 Maret 2019

Mengapa Lansia Perlu Dibantu


Image from here

Pagi kemarin saat melewati lahan kecil tempat pembuatan bata, saya melihat seorang kakek tua sedang mengaduk pasir dan semen. Baru saya tahu bahwa rupanya beliaulah yang selama ini membuat bata-bata di sana, seorang diri.

Pernah juga saya menemukan seorang Nenek yang sejak pagi buta sudah pergi ke pasar jalan kaki. Iya saya pernah ketemu, kirain Nenek ini mau ke mana kok bawa-bawa tas anyam. Saya yang naik motor cuma sampai di rasa penasaran aja, bukannya berhenti kek, nawarin tebengan kek, malah terus melaju beratus-ratus meter jauhnya melawan dinginnya angin subuh. Sepulang dari pasar, kaget saya karena melihat si nenek rupanya belum sampai. Oh beneran ternyata beliau tu mau ke pasar juga. Ya elah kenapa tadi gak aku tebengin ya. T===T

Sejak 2016 PKH menambah Lansia untuk bisa masuk juga sebagai kategori komponen. Lalu mulai banyak KPM-KPM sepuh yang datang ke pertemuan kelompok. Ada yang masih segar dan pandai melucu. Ada yang meski langkahnya sudah berat tapi masih ceria. Ada yang muram. Ada yang ramah dan murah senyum. Terlalu beragam hingga bikin saya pun sadar bahwa; oh, iya, para lansia ini juga butuh loh dikasih bantuan. Butuh banget malah. T===T

Karena tidak semua lansia punya pensiunan, atau tabungan, atau kalau beruntung hidupnya full dibiayai anaknya. Tidak semua seberuntung itu sebab bahkan orangtua yang dibiayai anak pun, belum tentu anaknya nggak pontang-panting cari nafkahnya. Kan anak-anak mereka juga punya keluarga, punya anak yang butuh makan dan sekolah. Sedih kan kalo orangtua harus bergantung total sama anak padahal anaknya juga susah? Ortunya sedih karena ngerepotin, anaknya ya sedih karena kenapa dia nggak berdaya menanggung orangtua.

Ah jadi mellow. T====T

Konon, generasi yang menanggung orangtua dan anak mereka sekaligus gitu dinamakan generasi sandwich. Kayak isian sandwich gitu kan ceritanya, dia bertanggung jawab bikin enak roti atas dan bawah sekaligus. Gitu kali ya maksudnya tau ah gelap. :3

Kalau ada bantuan yang dikhususkan lansia, bagus banget menurut saya. Maka uang bantuannya bisa dimanfaatkan untuk beli susu, misalnya, beli daging atau ikan atau buah untuk pemenuhan gizi, beli suplemen vitamin, untuk baju pun gak masalah sih kayaknya karena kadang mereka bajunya udah kusam dan itu-itu aja. :"(

"Mengapa lansia perlu dibantu?"

Kata salah satu soal di kuis yang saya kerjakan beberapa bulan lalu. Pilihan jawabannya ada a, b, c, d, e. Dan jawaban paling tepat adalah e. Semua benar. Karena ada sekian banyak alasan seperti dijabarkan dalam poin a sampai d, dan tahu nggak salah satunya apa?

"Karena lansia adalah kita di masa yang akan datang."

Rumit lho jadi lansia itu. Mereka pun rawan mengalami kecemasan-kecemasan karena emosinya rawan berubah. Mungkin karena berat ya rasanya mengalami penurunan kemampuan fisik. Kaki yang dulunya bisa lari kencang perlahan mulai tidak tegap saat berpijak. Mata yang dulunya awas, mulai harus memicing agak lama baru bisa melihat dengan jelas dan mengenali; oh ini kamu ya cucuku? Beberapa ada yang jadi pikun, sering gelisah, tremor, belum lagi kalau ada masalah kesehatan lain. Lalu mereka jadi sering sedih, kesepian, kangen anak cucu, kangen pasangan yang sudah lebih dulu berpulang...

Entah saya kalo membayangkan hari-hari di masa tua kok bawaannya muraaam sekali. Meski tentu ada juga masa tua yang menyenangkan. Ada yang tetap sehat meski sudah 70 tahun. Ada yang masih kuat berlari. Ada yang makin khusyuuuk sekali beribadah dan lebih berserah.

Semoga kita dan orangtua kita termasuk yang sehat dan bahagia ya.

Banyak-banyak bersyukur, jaga kesehatan, sering olahraga, banyak minum air putih ya makanyaaaa. Iya ini ngomong sama diri sendiri.

Jika kamu setuju bisa simpan dalam hati sama-sama yaaaa. Salam sayang untuk keluarga! :*
Read More

Selasa, 12 Maret 2019

Anakku Bukan Anakmu(?)


Image from here

Saya ibu yang lumayan paranoid. Dulu, saat baru mpasi, Nina kan nggak boleh makan gula-garam dulu tuh. Nah kalo ketemu orang kadang suka ada yang ngasih kerupuk, kadang wafer, kadang ciki-ciki. Tentunya daku kezel. Tapi kalo dibalik, ya nggak salah juga sih kan mereka nggak tahu kalo Nina belum boleh makan gula-garam. Yang ngeselin justru yang bahkan meski udah tahu pun masih maksa ngasih. Atau yang lebih nekad, malah ada yang sengaja diam-diam ngasih. Gak paham deh sama maksud dan karep orang yang terakhir ini, bikin geregetan dan pingin gigit sampe berdarah. #woy

Bersinggungan dengan orang lain tu kadang bikin serba salah. Di rumah, anak dieman-eman. Makan harus sehat, peralatan harus bersih, ibu flu dikit kalo gendong pake masker. Eh begitu ketemu orang lain, main cium-cium bibir aja. Tiba-tiba dikasih empeng (punya anak lain, pliz). Dikasih pegang biskuit (padahal baru umur 5 bulan). Merokok deket-deket. Masya Allah. Orang lain mah sukanya sekarepan ya. Pingin marah sungkan, mau nangis masih di tempat kejadian. Alhasil cuma bisa banyak-banyak istighfar.

Di luar ketidakpedulian orang lain, sebetulnya ya semua tergantung sama kita sebagai orangtua. Masa iya harus orang lain yang aware oh anak ini tidak suka keramaian, jauhkan diaaa jauhkan! Lah kan mereka nggak tahu, nggak sayang pun karena memang bukan siapa-siapanya. Kita yang tahu, maka kitalah yang harus maju paling depan menjadi pelindung. Maka kalau lagi  ketemu orang lain yang suka bertindak aneh(?), mungkin kita perlu mempersiapkan hal-hal di bawah ini dulu.

1. Katakan dengan Jelas
"Maaf, Pak, tolong jangan merokok di sini. Ada anak kecil."
"Maaf Nenek, anak saya belum boleh makan cokelat."
"Cium di pipi aja ya jangan di bibirnya."
Iya. Ini opsi paling berat. Wqwqwq. Salut banget sama yang berani speak up karena saya sendiri bukan tipe ini dan cenderung mengkerut kayak kluwing kalo ketemu orang yang bikin masalah.

2. Sindir
Kalo nggak berani bilang langsung, coba bilang sama anaknya.
"Waaah, kita pindah yuk ada asap rokok di sini. Nanti adek batuk yaaa."
"Adek kan belum boleh makan cokelat. Untuk ibu aja yaaa."
Opsi ini cenderung aman. Meski untuk orang yang keras hatinya kadang nggak ngefek apa-apa. :3

3. Jauhi
Kalo udah tahu ada yang merokok, ya pergi. Kalo udah tahu ada orang yang susah ngerti meski udah dibilangin, jangan dekat-dekat. Daripada kalo terlalu dekat dengan mereka malah ribut, atau justru bikin anak kita sakit, misalnya, baiknya ya sebisa mungkin dihindari aja. Kalo terpaksa harus ketemu maka enggak usah lama-lama. :3

4. Sounding
Kalau anaknya udah besar kebanyakan mereka sudah bisa disounding dengan;
"Nak, kalo dicium di bibir jangan mau ya."
"Nak, kalo makan/minum nggak usah gantian sama orang lain ya."
Insya Allah mereka ngerti (kalo emang udah usianya). Susahnya, di rumah iya-iya, pas udah ketemu malah lupa wkwkwkw ya namanya juga anak-anak.

5. Hargai Anak Lain Sebagaimana Anak Kita Sendiri
Kalo kita nggak suka anak disuapin sembarangan, jangan sembarangan suapin anak orang. Tanyakan sama ibunya; anaknya boleh makan kerupuk? Anaknya boleh minum es? Anaknya boleh digendong?
Kalau anak lain minta minum, ambilkan gelas bersih. Kalau anak lain minta makanan, kasih makanan yang bagus. Kalau batuk atau sedang merokok atau tangan sedang kotor, nggak usah gendong anak orang. Berhati-hatilah sebagaimana kita berhati-hati terhadap anak sendiri.

6. Hargai Keputusan Orangtuanya
Ada anak yang udah minum teh rio padahal baru umur setahun? Ngasih tahu atau nanya baik-baik ya boleh sih tapi mbok ya nggak usah nyinyir. Ada yang nggak ngasih gorengan sampe umur dua tahun. Ya nggak usah dirasan-rasani juga mentang-mentanh anak kita udah jago ngabisin kerupuk setoples. Karena seperti kita tahu, beragam pengetahuan baru kini sungguh bebas seliweran kesana kemari. Tinggal nangkep aja tuh, terus dipilih mau pakai yang mana. Maka saat orang lain pakai ilmu berbeda, yuk hormati saja. Nggak usah menghasut dengan; "nggak papa kali mandi air dingin anak aku mah kebaaaal. Anak kamu lemah ya?"


Yha.

Intinya mah mari saling sayang-menyayangi tanpa bikin orang lain was-was dan ujung-ujungnya jadi benci. Kok benci? Iya lho. Tar ibu mereka ngomel begini sama anaknya; "udah ibu bilang kan si ono lagi batuk, ngapain sih pake minum gantian gelas segala heran deh ortunya kok sembarangan banget sih anak aku jadi sakit juga kan. Gggrrrrrrrrgggghhhhh."

Gitu. Yang terakhir itu pengalaman pribadi saya sendiri tu! :3
Read More

Minggu, 10 Maret 2019

Kebaikan Sederhana

Image from here

Semalam ke minimarket bawa uang 50rb. Saya ambil 3 item barang yang sudah direncanakan karena memang butuhnya itu. Sampe kasir, total belanja 45.100 saya serahkan semua uang yang saya bawa (pecahan sepuluh ribu dan lima ribu). Nggak tahunya pas kasirnya ngitung, duitnya cuma 45.000 padahal seinget saya duit di dompet ada 50.000. Wadooh iya lupa sore tadi dipake beli bakso 5000nya.

Du gimana niii kurang 100.

"Udah mbak nggak apa-apa," kata kasirnya.

Subhanallah baiknya. T====T

Lalu saya ingat bahwa beberapa bulan yang lalu, di minimarket yang sama, pernah antrian di depan saya duitnya kurang. Kalau nggak salah kurang 3000 apa 5000 gitu. Karena setelah dihitung-hitung uangnya enggak cukup, orang ini ke luar dulu cari suaminya. Saya mau bayarin tapi orangnya udah keluar. Pun saya malu dan terlalu banyak mikir gimana kalo gini gimana kalo gitu seperti yang saya pernah tulis di sini.

Setelah semalam mengalami sendiri gimana paniknya kalo duit kurang (sementara barang yang dibeli udah yang bener-bener dibutuhkan), kok ya nyesel sendiri. Mestinya kalo ada orang lain yg kurang duitnya gitu dibayarin aja keleus. Pasti seneng kok orangnya nggak akan tersinggung. Ya kalo tersinggung nggak usah bayarin sih.

Dan saya salut sama kasir yang berani ambil keputusan; nggak usah mbak, nggak papa. Gitu.

Mungkin dia yang akan mengganti 100 nya. Atau ada orang lain yang kembalian 100 rupiahnya nggak diambil. Tapi terharu banget saya pokoknya.

Karena sebelas tahun yang lalu, saat saya kerja di fotokopian padahal ijazah SMA aja belum punya, saya pernah kena marah besar karena hal (yang menurut saya) sepele. Jadi ada orang fotokopi, setelah selesai, dia meletakkan uang di atas etalase lalu pergi. Begitu lihat uang yang ditinggalkan orang itu, saya panik. Loh kok cuma seribu? Harusnya dua ribu. Aduh gimana ya ini gimana yaaaa. Saya berniat mengganti yang seribu pakai uang pribadi, tapi uangnya ada di tas, dan tasnya di gudang belakang. Berhubung di depan lagi ramai, saya menghampiri salah satu karyawan. Mau pinjam uang seribu. Dia tanya untuk apa? Setelah saya jelasin, dia bilang; udah nggak papa, tulis aja di notanya seribu. Begonya, saya nurut aja. Deg-degan, saya serahkan nota beserta uang seribu itu ke bos yang duduk di meja kasir. Setelah balik ke etalase, beres-beres sisa kertas, kagetlah saya saat nemu selembar lagi uang seribuan! Aduh ternyata orang tadi bayarnya bener dua ribu. Sungguh panik banget saya langsung lapor ke karyawan senior yang ngasih saran tadi. Berhubung sayanya nggak nyantai dan terlampau berisik, bos nyadar, kemudian saya dipanggil. Ditanya ada apa, saya jelasin kronologinya dan beliau marah besarrrr sampe saya nangis tersedu-sedu. Mana si karyawan senior itu diem aja lagi sumpah pingin tak jambak. T=====T Kata si bos, saya bisa jadi ulat yang merugikan toko dia. "Kamu mau berhenti apa lanjut kerja?" Dia tanya. Saya pilih berhenti karena nggak kuat mental, berasa diinjek-injek banget cuma gara-gara duit seribu meeeeen. Di perjalanan pulang, saya nangis sampe bindeng.

Andai saya punya keberanian untuk bicara lantang bahwa saya nggak ada maksud ingin jadi ulat. Andai saya sempatkan untuk ngacir ke gudang, ambil uang seribu tanpa terpengaruh hasut rayu karyawan senior. Andai si bos ini mau lebih selow dan positif thinking.

-______-

Apapun, saya masih terharu sama keputusan mas kasir minimarket untuk menggratiskan 100 rupiah kekurangan saya tanpa takut sama bosnya. Niatnya bukan korup, dih. Tahu banget saya. Bahwa mereka hanya ingin meringankan sesama.

Ah. Andai sebelas tahun yang lalu saya lebih pandai bicara, udah saya kata-katain balik itu bosnyaaa. #heh #gakgitu

Read More

Selasa, 05 Maret 2019

Gengsi, Sungkan, dan Malu yang Menghambat Upaya Hidup Hemat Kita


Yang berteman baik dengan saya saat kuliah pasti tahu banget betapa iritnya saya. Pulsa jarang banget diisi (kala itu belum pakai android dan cuma mengandalkan smsan), sehingga kalo ada temen sms nggak pernah saya bales. Kecuali kalo sayanya yang lagi butuh, baru saya isi pulsa dan sms mereka. :3 Kalo makan selaaaaalu cari yang murah. Ayam penyet? Gak mampu saya. Lalapan telur? Gak cukup sama beli minumnya. Menu paling ideal untuk dibeli ya cuma lalapan tempe, atau sop ayam kantin 9, atau gado gado. Plus es teh atau es jeruk atau es kopi untuk minumnya. Nggak kepikiran bawa minum dari rumah karena dulu air di rumah kan air godokan dan warnanya tu bisa agak kuning gitu, jadi kalo dibawa pake botol kok kayaknya agak gimana gitu -____-

Nggak sih saya nggak merasa merana banget meski banyak teman yang menu makannya jauh lebih mewah. Karena ada kok mahasiswa lain yang ke kampus sambil bawa jamur tiram (segar) gitu untuk dijualin. Ada kok yang fine aja naik sepeda motor tua meski teman lain bawa matic. Ada kok yang setiap malam tidur di sekret (dan suka bikin bau sekret tetangganya) meski teman lain tinggal di kosan hangat dan nyaman. Bersyukur banget lingkaran pertemanan saya pun anaknya nggak neko-neko dan berada dalam frekuensi yang sama iritnya. :"D

Ya intinya saya orangnya nggak boros lah. Meski nggak bisa dibilang hemat banget juga karena saya punya satu kelemahan. Yakni lemah dalam memilah-milah mana kebutuhan dan mana keinginan. Lemah menentukan sikap bahwa yang ini boleh dan yang itu jangan. Apalagi kalo ada sangkut pautnya dengan gengsi atau malu atau sungkan atau nggak enak hati. Udah deh besar kemungkinan saya pasti kalah telak.

Berapa kali sih dalam hidup ini anda berani bilang; "nggak deh aku nggak lapar," atau "nggak ah aku nggak butuh," atau "nggak deh aku nggak ikutan," saat ada temen ngajak makan bareng atau nawarin beli bros kembaran atau ngajak liburan ke tempat menyenangkan? Kita semua akan cenderung bilang "oke", "ayok", "boleh deh" meski sebenernya nggak butuh-butuh banget. Bahkan meski sebenernya lagi nipiiis banget budgetnya tetep bilang oke ya karena alasan gengsi, sungkan, dan malu itu tadi.

Sadar atau enggak, kalau memang mau beneran berhemat, kita harus disiplinkan diri ini untuk berani bilang enggak. Tutup mata aja dari semua yang nggak dibutuhkan kalau memang budgetnya kurang. Meski hancurnya hatiku meski berat beban inniii. Iya saya tahu banget. Karena saya pun sedang belajar melakukan itu. Menolak tawaran. Mengesampingkan keinginan...

Kalo dibikin tips ala-ala mungkin bisa jadi begini:

1. Siapkan Pos demi Pos
Kita bisa siapkan budget tiap bulan khusus keinginan. Jadi kan dalam sebulan idealnya kita ada jatah khusus untuk bensin, listrik, makan, bayar kosan, dlsb dlsb, maka jangan lupa sisihkan juga untuk keinginan atau boleh juga lah disebut budget lifestyle. Nantinya, segala pengeluaran yang bersifat keinginan, atau sekadar penunjang lifestyle, akan diambil dari budget itu. Beli kerudung baru, ngopi di kafe, hangout, karaoke. Tapi tentu harus disiplin bahwa duitnya harus dicukupkan. Kalo udah abis ya diem. Masa mau pake budget listrik? Masa harus utang? Keinginan doang loh ini yang faktanya meski nggak dipenuhi pun nggak akan mengganggu kelangsungan hidup.

2. Gunakan Dengan Bijak
Susahnya kadang kita terpengaruh lingkungan. Udah ada budget sekian, eh temen sebelah nawarin parfum. Beli aja deh nggak enak nih temen sendiri, toh masih ada budget lifestylenya. Ya, giliran kita beneran ngebet pengen sesuatu, eh habis budgetnya. Terus sedih. Duh coba kemaren nggak beli parfum. Yhaaa.

3. Jangan Lapar Mata
Jalan ke mall, lihat diskonan langsung kalap. Semua masuk troli padahal nggak butuh. Wah ada gelas lucu (gelas lucu buat apaan?). Wah lipstiknya beli 2 gratis 1 (yakin dipake semua sebelum habis masa pakainya?). Wah ada blouse lucu, waah minyak goreng, waah tali sepatu bersinar! Semua-mua jadi kelihatan menarik minta dibeli. Pikirkan barang 3-8 kali. Beneran bakal kepake nggak? Kalo yakin, beli. Kalo enggak, tinggalkan.

4. Berlatih Menjadi Berani Bilang Tidak
Saat masa kuliah dulu, saya adalah orang yang akan ambil brosur apapun yang dibagikan SPG. Saya adalah orang yang kalo udah terlanjur ditawari produk; "dicoba dulu saja kak, ini bisa bikin blablabla" akan terpaksa membeli karena sungkan (meski terpaksa pake uang jajan yang padahal udah pas-pasan). Bahkan akhir-akhir ini pun saya hampir pasti bilang oke kalau diajak barengan beli ini itu. Karena gengsi, sungkan, dan malu kayak di judul postingan ini. Masalah yang pelik banget untuk orang sungkanan kayak saya, dan beneran perlu usaha ekstra untuk berani bilang tidak.

Iya. Karena jadi nggak berguna segala pengiritan yang dilakukan kalo nyatanya harus kalah sama gengsi, sungkan, malu dan kawan-kawannya tadi. Memang beraaat banget, tapi harus belajar ya! Kalau memang nggak mau atau nggak ada budget ya udah ditolak aja dulu. Kalau nggak tertarik sama produk yang ditawarkan SPG ya ditolak aja bahkan meski udah terlanjur dikasih testernya pun nggak apa-apa sih meski kita nggak beli. Salah siapa maksa-maksa yekan. XD

Sedikit demi sedikit saya mulai berani. Masuk ke toko donat cuma beli donat sebiji (untuk Nina). Ada SPG nawarin brosur langsung dengan tegas bilang; "enggak, Mbak." Ke kedai burger dan cari harga yang promo. Jujur aja awalnya saya keringat dingin, wkwkw. Iya gengsi, sungkan, dan malu ini memang sialan. Kabar baiknya rasa nggak nyaman ini hanya di awal-awal aja. Kelamaan akan berangsur membaik, membaik, membaik. Lalu muncul perasaan lega karena rupanya nggak terjadi apa-apa. Rupanya nggak ada yang peduli. Rupanya ya cuma saya aja yang selama ini khawatir dan gengsi dan sungkan dan malu padahal orang lain mah ngerewes aja enggak.

Rencananya sih akan terus menerus berlatih. Untuk apa sih kok menyiksa diri banget? Nope.

Justru ini untuk membiasakan diri supaya lebih selektif menentukan mana yang butuh mana yang ingin, mana yang darurat mana yang santai, mana yang bikin bahagia mana yang cuma beli karena sungkan aja dan nggak membawa manfaat apa-apa. Pun biar jadi hemat dan akhirnya bisa nabung juga.

Gitu.

Kalau kita senasib, semoga ke depannya bisa lebih baik ya. Selamat mengirit, semangat menabuuuung...
Read More