Empat Level Ekonomi Manusia - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Selasa, 19 Maret 2019

Empat Level Ekonomi Manusia



Kalau dibagi empat, mungkin kelas ekonomi manusia bisa diklasifikasikan ke dalam warna-warna berikut; merah, kuning, hijau, emas. Ini saya tahu dari supervisor waktu FDS kemarin. Jadi, masing-masing orang dikasih kertas kecil dan ditulis nama, lalu mereka menempelkan kertas tersebut ke salah satu dari empat warna yang sudah ditempel di papan.

Merah, artinya sangat kurang.
Kuning, pas-pasan.
Hijau, berkecukupan.
Emas, harta melimpah.

Mungkin bisa kita sepakati begini aja dulu untuk dapat gambaran kasarnya. Nah, kira-kira kita ada di warna apa ya? Orangtua kita? Tetangga kita? Teman-teman kita? Selevel atau beda-beda?

Jawabannya pasti beragam. Apalagi kalau tinggal di kampung kayak saya. Di kampung yang sama, orang level emas bisa banget tetanggaan sama level merah, sebelahnya kuning, sebelahnya hijau. Entah kalau di perkotaan, apalagi di perumahan yang notabene ukuran rumah plus harganya cenderung disesuaikan dengan blok. Jadi udah ngumpul sesuai kelas masing-masing kali ya kalo di perumahan?

Nah yang bikin saya sering kepikiran akhir-akhir ini, level saya ke depan bisa stabil, naik, atau turun ya? Kalo turun, ntar bayar sekolah Nina pake duit siapa ya? Seriiing banget kepikiran ini. :3

Karena berdasarkan pengamatan (di kampung dan lingkungan saya), orang-orang kok ya bisa aja berubah kelas dalam beberapa tahun. Ada yang duluuu banget waktu saya masih SD, keluarga mereka level hijau. Apa-apa ada. Nggak kesusahan. Makan enak. Sekolah anak-anaknya bagus. Eh sekarang mereka di level kuning. Ada juga yang sebaliknya, dulu serba kekurangan, anggap aja level merah lah, sekarang rumahnya besar dan punya mobil dan makan cukup. Udah bisa masuk kategori hijau atau mungkin bahkan emas.

Gitu kan bikin heran dan merenung kadang-kadang. Kok bisa sih? Aku harus gimana ya biar nggak turun level? Kalopun nggak bisa naik ya minimal stabil gitu lah seiring seirama antara pendapatan dengan pengeluaran.

Kenapa khawatir sama masa depan yang belum kejadian? Karena ya tiba-tiba muncul ajaaa. Iya tahu rezeki udah ada yang atur, tahu juga roda kehidupan itu berputar. Tapi ya suka tiba-tiba aja gitu khawatir. Takut tiba-tiba ada sesuatu lalu ekonomi terjun bebas. Takut tiba-tiba Nina nggak bisa sekolah. Takut kelilit hutang. Astaga sungguh parnoan. Padahal mah gimanapun keadaan ya harusnya diterima aja ya dan disyukuri sebab tugas manusia hanya berusaha Allah-lah penentu segalanya.

Ya ampun kujadi mellow.

Namun barangkali kita perlu juga melakukan beberapa antisipasi. Menghindari turunnya kelas, atau naudzubillah malah terjun bebas. Misalnya dengan beberapa hal (beberapa saya lakukan beberapa baru di angankan wqwq);

1. Hidup Secukupnya
Tidak berlebih-lebihan dan tidak panasan. Tantangan terberat hidup bertetangga (baik  dengan yang selevel maupun berbeda) adalah kita cenderung ingin melakukan hal yang sama. Mereka travelling terus, kita pengen. Mereka nonton bioskop, pengen juga. Ternyata mereka masih bisa nabung untuk investasi masa tua misalnya, eh kita nggak bisa karena duit udah habis untuk senang-senang.

2. Menabung dan Investasi
Tabungan dana darurat, yang konon untuk jaga-jaga bila ada situasi darurat seperti bencana alam dlsb dlsb. Tabungan hari tua, untuk dana pensiunan kita. Tabungan pendidikan untuk anak sekolah. Wah ini berat ini iyaaaa berat. Belum ada yang saya laksanakan astaga. Bismillah, semoga bisa.

3. Menghindari Utang Berbunga
Karena utang bisa melilit dan menjerat dan mencekik sampai kamu sesak napas. :"( Maka kalau bukan untuk urusan yang sangat-sangat-sangat mendesak, jangan berhutang. :3

4. Banyak Sedekah

5. Pasrah
Level paling tinggi ya udah dipasrahkan aja sama kuasa yang di atas. Yang penting kita berupaya, melakukan antisipasi dan lain sebagainya. Sebab jika Allah berkehendak si anu jadi kaya maka akan kaya-lah dia dan begitupula sebaliknya.

Kok tipsnya kayak nggak niat sih? Iya nih tadinya cuma mau curhat aja tapi kok nggak enak kalo curhat melulu. XD

Btw, kamu ingin berbagi pandangan atau cerita soal level hidup manusia ini mungkin? Komen yaaa :)


EmoticonEmoticon