Gengsi, Sungkan, dan Malu yang Menghambat Upaya Hidup Hemat Kita - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Selasa, 05 Maret 2019

Gengsi, Sungkan, dan Malu yang Menghambat Upaya Hidup Hemat Kita


Yang berteman baik dengan saya saat kuliah pasti tahu banget betapa iritnya saya. Pulsa jarang banget diisi (kala itu belum pakai android dan cuma mengandalkan smsan), sehingga kalo ada temen sms nggak pernah saya bales. Kecuali kalo sayanya yang lagi butuh, baru saya isi pulsa dan sms mereka. :3 Kalo makan selaaaaalu cari yang murah. Ayam penyet? Gak mampu saya. Lalapan telur? Gak cukup sama beli minumnya. Menu paling ideal untuk dibeli ya cuma lalapan tempe, atau sop ayam kantin 9, atau gado gado. Plus es teh atau es jeruk atau es kopi untuk minumnya. Nggak kepikiran bawa minum dari rumah karena dulu air di rumah kan air godokan dan warnanya tu bisa agak kuning gitu, jadi kalo dibawa pake botol kok kayaknya agak gimana gitu -____-

Nggak sih saya nggak merasa merana banget meski banyak teman yang menu makannya jauh lebih mewah. Karena ada kok mahasiswa lain yang ke kampus sambil bawa jamur tiram (segar) gitu untuk dijualin. Ada kok yang fine aja naik sepeda motor tua meski teman lain bawa matic. Ada kok yang setiap malam tidur di sekret (dan suka bikin bau sekret tetangganya) meski teman lain tinggal di kosan hangat dan nyaman. Bersyukur banget lingkaran pertemanan saya pun anaknya nggak neko-neko dan berada dalam frekuensi yang sama iritnya. :"D

Ya intinya saya orangnya nggak boros lah. Meski nggak bisa dibilang hemat banget juga karena saya punya satu kelemahan. Yakni lemah dalam memilah-milah mana kebutuhan dan mana keinginan. Lemah menentukan sikap bahwa yang ini boleh dan yang itu jangan. Apalagi kalo ada sangkut pautnya dengan gengsi atau malu atau sungkan atau nggak enak hati. Udah deh besar kemungkinan saya pasti kalah telak.

Berapa kali sih dalam hidup ini anda berani bilang; "nggak deh aku nggak lapar," atau "nggak ah aku nggak butuh," atau "nggak deh aku nggak ikutan," saat ada temen ngajak makan bareng atau nawarin beli bros kembaran atau ngajak liburan ke tempat menyenangkan? Kita semua akan cenderung bilang "oke", "ayok", "boleh deh" meski sebenernya nggak butuh-butuh banget. Bahkan meski sebenernya lagi nipiiis banget budgetnya tetep bilang oke ya karena alasan gengsi, sungkan, dan malu itu tadi.

Sadar atau enggak, kalau memang mau beneran berhemat, kita harus disiplinkan diri ini untuk berani bilang enggak. Tutup mata aja dari semua yang nggak dibutuhkan kalau memang budgetnya kurang. Meski hancurnya hatiku meski berat beban inniii. Iya saya tahu banget. Karena saya pun sedang belajar melakukan itu. Menolak tawaran. Mengesampingkan keinginan...

Kalo dibikin tips ala-ala mungkin bisa jadi begini:

1. Siapkan Pos demi Pos
Kita bisa siapkan budget tiap bulan khusus keinginan. Jadi kan dalam sebulan idealnya kita ada jatah khusus untuk bensin, listrik, makan, bayar kosan, dlsb dlsb, maka jangan lupa sisihkan juga untuk keinginan atau boleh juga lah disebut budget lifestyle. Nantinya, segala pengeluaran yang bersifat keinginan, atau sekadar penunjang lifestyle, akan diambil dari budget itu. Beli kerudung baru, ngopi di kafe, hangout, karaoke. Tapi tentu harus disiplin bahwa duitnya harus dicukupkan. Kalo udah abis ya diem. Masa mau pake budget listrik? Masa harus utang? Keinginan doang loh ini yang faktanya meski nggak dipenuhi pun nggak akan mengganggu kelangsungan hidup.

2. Gunakan Dengan Bijak
Susahnya kadang kita terpengaruh lingkungan. Udah ada budget sekian, eh temen sebelah nawarin parfum. Beli aja deh nggak enak nih temen sendiri, toh masih ada budget lifestylenya. Ya, giliran kita beneran ngebet pengen sesuatu, eh habis budgetnya. Terus sedih. Duh coba kemaren nggak beli parfum. Yhaaa.

3. Jangan Lapar Mata
Jalan ke mall, lihat diskonan langsung kalap. Semua masuk troli padahal nggak butuh. Wah ada gelas lucu (gelas lucu buat apaan?). Wah lipstiknya beli 2 gratis 1 (yakin dipake semua sebelum habis masa pakainya?). Wah ada blouse lucu, waah minyak goreng, waah tali sepatu bersinar! Semua-mua jadi kelihatan menarik minta dibeli. Pikirkan barang 3-8 kali. Beneran bakal kepake nggak? Kalo yakin, beli. Kalo enggak, tinggalkan.

4. Berlatih Menjadi Berani Bilang Tidak
Saat masa kuliah dulu, saya adalah orang yang akan ambil brosur apapun yang dibagikan SPG. Saya adalah orang yang kalo udah terlanjur ditawari produk; "dicoba dulu saja kak, ini bisa bikin blablabla" akan terpaksa membeli karena sungkan (meski terpaksa pake uang jajan yang padahal udah pas-pasan). Bahkan akhir-akhir ini pun saya hampir pasti bilang oke kalau diajak barengan beli ini itu. Karena gengsi, sungkan, dan malu kayak di judul postingan ini. Masalah yang pelik banget untuk orang sungkanan kayak saya, dan beneran perlu usaha ekstra untuk berani bilang tidak.

Iya. Karena jadi nggak berguna segala pengiritan yang dilakukan kalo nyatanya harus kalah sama gengsi, sungkan, malu dan kawan-kawannya tadi. Memang beraaat banget, tapi harus belajar ya! Kalau memang nggak mau atau nggak ada budget ya udah ditolak aja dulu. Kalau nggak tertarik sama produk yang ditawarkan SPG ya ditolak aja bahkan meski udah terlanjur dikasih testernya pun nggak apa-apa sih meski kita nggak beli. Salah siapa maksa-maksa yekan. XD

Sedikit demi sedikit saya mulai berani. Masuk ke toko donat cuma beli donat sebiji (untuk Nina). Ada SPG nawarin brosur langsung dengan tegas bilang; "enggak, Mbak." Ke kedai burger dan cari harga yang promo. Jujur aja awalnya saya keringat dingin, wkwkw. Iya gengsi, sungkan, dan malu ini memang sialan. Kabar baiknya rasa nggak nyaman ini hanya di awal-awal aja. Kelamaan akan berangsur membaik, membaik, membaik. Lalu muncul perasaan lega karena rupanya nggak terjadi apa-apa. Rupanya nggak ada yang peduli. Rupanya ya cuma saya aja yang selama ini khawatir dan gengsi dan sungkan dan malu padahal orang lain mah ngerewes aja enggak.

Rencananya sih akan terus menerus berlatih. Untuk apa sih kok menyiksa diri banget? Nope.

Justru ini untuk membiasakan diri supaya lebih selektif menentukan mana yang butuh mana yang ingin, mana yang darurat mana yang santai, mana yang bikin bahagia mana yang cuma beli karena sungkan aja dan nggak membawa manfaat apa-apa. Pun biar jadi hemat dan akhirnya bisa nabung juga.

Gitu.

Kalau kita senasib, semoga ke depannya bisa lebih baik ya. Selamat mengirit, semangat menabuuuung...


EmoticonEmoticon