Mengubah Orang Lain - AngeLinuks

Sedang mencoba terus berbenah. Hope you enjoy it. :)

Latest Update
Fetching data...

Senin, 14 Oktober 2019

Mengubah Orang Lain

Image from here

Beberapa minggu yang lalu saya mengikuti Diklat FDS di Jogja. Jadi sepuluh hari belajar teruuus aja gitu tentang lima modul FDS. Belajar-praktek-belajar-praktek ya sambil jalan-jalan juga sih ke malioboro sama prambanan. Jujur aja saya tu orangnya gampang terpacu, meski mageran dan pemalas kelas 12 tapi kalo ikutan seminar tu semangat saya bisa jadi gampang menggebu.

Begitu juga yang saya dapat dari Jogja ini. Mungkin karena di sananya lama banget trus saya jadi mellow dan kangen Nina, maka yang paling melekat di benak saya adalah Modul Pengasuhan Anak. Bahkan di perjalanan pulang saat naik kereta, tekad saya masih sangat bulat; "Pokoknya aku harus jadi orang tua yang lebih baik. Aku ga boleh bentak Nina. Aku ga boleh ninggalin dia ngomong sendiri padahal akunya main hape. Aku bisa. Bisa bisa bisa pasti bisa bisa bisa go go go go."

Masih semanis itu. Hingga kemudian terdengarlah oleh saya seorang mas-mas bercerita, bahwa teori yang kami dapatkan di balai diklat tu nggak akan bisa dibawa dan diterapkan di desa.

"Yo cobak'en wae mosok gellem anakmu dikandani alus-alus; 'leee, ojo ngunu leeee, ojo dolan geni leeee'. Ngunu? Lah yo selak kobong! Opo maneh anakku, jann nek ora dikasari yo ra mungkin nurut."

Hoh. Abis didiklat loh itu ngomong gitu. Berhubung kita deketan kursinya ya saya nimbrung. Dan geregetan sendiri sebab si mas ini sekeras kepala itu loh padahal udah didiklat sepuluh hari pun! T=====T

Maksud saya, meski sikap dia nanti terhadap anaknya nggak bisa sepenuhnya berubah jadi lembut dan penuh kasih sayang, mbok ya minimal pola pikir dia tu udah berubah gitu lho e. Kenapa sih dia harus ngotot kalau teori lain nggak bener hanya karena dia nggak bisa terapkan di kehidupan dia sendiri? Kenapa sih nggak bisa mengosongkan gelas untuk menerima hal-hal baru supaya gelas dia enggak luber duluan padahal baru juga ilmu barunya dituangkan.

Trus saya kesel. Meski pada akhirnya ya udahlah urus dampingan sendiri aja. Bismillah semoga aku bisa memperbaiki perilaku sendiri, sambil juga memperbaiki pola pikir dan perilaku orang lain.

Lalu, kan sayatu udah jalan beberapa kali FDS di desa dampingan. Responnya lumayan. KPM terlihat senang dapet pengetahuan baru. Meski nggak bisa berharap juga mereka bakal langsung praktek di rumah, karena sejak awal pun kami sudah diwanti-wanti; "Susah, ingat ya, susaaahhhhh. Tugasmu itu berat. Mengubah pola pikir apalagi perilaku orang lain itu susah. Wes tah tengerono ngko."

Pada kenyataannya, kok ya pedihhhh rasanya begitu saya datang ke kelompok (yang sudah pernah dapat modul Pengelolaan Keuangan sesi 1, dan perkel lagi untuk lanjut ke sesi 2), salah satu pesertanya malah bilang;

"Padahal tak kera eyejebhin wa roh yeh Mbak bik reng-oreng reh. Jek reng tak kera epraktekaghin san la depak ka bungkonah." Gitu. Intinya, dia bilang ga bakal berguna lah materinya, karena sama orang ga mungkin dipraktekkan di rumah.

Saya nggak jawab, pura-pura nggak dengar dan auto pasang flat face. -_-

Masih pasang wajah begitu meski si orang ini nampaknya nyadar saya tersinggung dan langsung bilang; "tapeh dekremmah pole yeh mbak nyamanah la esoro bik attasan." (Tapi gimana lagi ya mbak namanya udah tugas dari atas?)

Me; makin flat face -____-

Sedih iya, mangkel iya.

Ya ampun meski nggak rajin dan berangkat tiap hari, tapi aku tu seneng lho ngasih kamu FDS tu gaesss. Meski mungkin nggak se-excellent pemateri di seminar-seminar gitu tapi tiap mau berangkat tu aku belajar dulu lho gaesss. Bukan serta-merta karena disuruh attasan. Begitu memutuskan mau ngasih materi apa modul berapa, dengan menggebu aku membawa misi pingin kasih sesuatu buat kalian. Maka saat denger omongan kayak gitu tu ya ampun kretak-kretak hati akoh.


Wkkw. Baru 2x padahal, ketemu fakta pahit di lapangan. Udah lebay sampe dijadiin satu postingan panjang. Wkkwkwkwkw.

Yha. Karena ini jadi semacam hantaman untuk saya. Sekaligus reminder bahwa, ya emang susah kok. Kan wes dikandani ket awal ndisek tooooohhhhh?


Tep cemanyad ea qaqa. Belajar yang rajin biar orang bisa terperdaya, eh, tergerak hatinya.

1 Comments

MKengubah pola pikir orang yang gak mau diubah itu memang susah. Sudah terpatri benar dalam persepsi mereka tentang sudit pandang yang berbeda sulit diterapkan karena dianggap terlalu idealis dan konsepnya mengawang-awang.
Pada titik seperti itu sepertinya pola pikir yang sudah terbentuk sebagai semacam watak tidak bisa diubah lagi. Mungkin kita harus sabar memberi pengertian dan kesadaran dengan beragam contoh nyata kasus di sekitar sebagai rujukan. Butuh teladan juga.
Semangat, Mbak. Saya tidak ngerti bahasa Jawa, sih, he he.


EmoticonEmoticon